|
Aspirasi / Informasi dari Anda
Nama: Tober Berlin
Marpaung Dari: DKI Jakarta Pusat Saya:
Masyarakat jakarta Aspirasi / Informasi: Saya sangat
bingung dengan perkembangan masyarakat sekarang
ini, bagaimana sebenarnya yang harus didahulukan
agar tercapai suatu kemajuan dalam perpolitikan di
Negeri Tercinta ini, bila kemarin kita telah
menggulingkan president Suharto yang memang tak
mungkin dapat di gulingkan tetapi setelah hal tersebut
terlaksana mengapa masih banyak hal yang belum
dapat dilaksanakan dengan kemauan hati nurani
rakyat tapi sekarang dengan apa yang di inginkan
rakyat belum juga puas dalam menerima semua ini karena
kelaparan makin banyak pengnganguran makin besar
teror meraja lelah dan bom dimana-mana terutama
kaum minoritas yang selalu jadi sasaran antar
etnis dipecah dan banyak lagi sebenarnya yang mana
yang harus didahulukan banyak propinsi yang ingin
berpisah begitu pula otonomi daerah yang belum terlaksana akibat
situasi beberapa propinsi miskin yang sulit untuk
dijadikan otonomi maka prolem perpolitakan negara
kita ini semakin sembrawut bagaimana jalan
pemecahan permasalahan ini yang harus diselesaikan?
mohon kiranya bapak-Bapak yang mempunyai andil
didalam negara ini jangan mencari kesempatan dalam
proses kedamaian di negara ini masih banyak yang
harus dipikirkan dalam kehidupan negara ini
trutama warga yang semakin lama semakin sengsaara dan
buas akan segalah sesuatu yang
diinginkannya. E-mail Pengirim: toberb@Hotmail.com Tanggal: 3 Agustus 2001
Nama: Cepi Triatna Dari: Bandung/Jawa Barat Saya: Mahasiswa
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONSIA Aspirasi / Informasi:
Seiring dengan bergantinya pemegang kursi
kepemimpinan negara saat ini, maka banyak harapan dari
kami para mahasiswa, terutama mahasiswa
kependidikan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan
nasional, terutama pembangunan pendidikan di
Indonesia. untuk itulah, kami dari BEM FIP UPI
mengajukan kepada Presiden terpilih untuk melaksanakan
profesionalisme dalam pemilihan mentri pendidikan
nasional. Kami sangat tidak mengharapkan kalo
pemilihan meteri pendidikan berdasarkan bagi-bagi
kursi, atau karena permintaa dari partai-partai.
Ibu Mega harus mampu memutuskan dengan peuh
pertimbangan, bahwa menteri pendidikan haruslah orang
yang mengetahui dan memahami serta mempuyai
background pendidikan, supaya pembanguan pendidikan di
masa yan akan datang tidak salah langkah.
Bandung 6 Agustus 2001
BEM FIP UPI E-mail Pengirim: bemfipupi@yahoo.com, bemfipupi@astaga.com, bemfipupi@yahoo.com, bemfipupi@astaga.com
Tanggal: 6 Agustus 2001
Nama: Ign.Sumarya SJ Dari: Jakarta Saya: Pengamat Jakarta Aspirasi / Informasi Berkali-kali rumusan GBHN kita
mengatakan bahwa "pembangunan manusia seutuhnya"
menjadi sasaran. Namun yang terjadi adalah
pembangunan phisik (gedung-gedung dst..), sedangkan
masalah pembangunan manusia kurang memperoleh
perhatian, hal ini nampak dalam anggaran untuk pendidikan
yang minim. Maka kami berharap:
bangunlah/didiklah manusianya dulu, yang tentunya perlu dukungan
dana. Pendidikan yang baik senantiasa membutuhkan
dana. Buatlah 'cerdas'(canggih?!) manusianya dulu
baru sarana-prasarananya. Ingat kata-kata 'the
man behind the gun', yang penting adalah 'the man'
nya, bukan 'the gun' nya.
Menjadi 'cerdas' penting (apalagi masa kini kita
kenal adanya cerdas intelektual, cerdas emosional
dan cerdas spiritual'(bukankan cerdas emosional
dan cerdas spiritual masih jauh dari harapan bagi
kebanyakan manusia Indonesia _. nampak dalam
gejala KKN dan aneka bentuk 'tawuran'/kebencian?) .
Maka hemat saya tujuan pendidikan yang pokok
adalah 'mencerdaskan' manusia Indonesia.
Semoga ada keputusan politis yang berani untuk
'mencerdaskan manusia Indonesia' alias kepentingan
pendidikan manusia Indonesia. E-mail Pengirim:
komdik@kawali.org Tanggal: 20 Agustus 2001
Nama: Ignatius
Dari: Jakarta
Saya: Pengamat Jakarta
Aspirasi / Informasi
"Keputusan politik" dalam pemerintahan
untuk pendidikan. Reformasi, c.q. peningkatan mutu pendidikan kita
membutuhkan keputusan politik dari mereka yang
berwenang, artinya keputusan pemerintah untuk
'mengalokasikan dana dan tenaga yang memadai untuk
pendidikan.
Sebagai ilustrasi kecil, bukan tingkat
besar/negara, saya sampaikan pengamatan saya pribadi.
Keluarga merupakan 'dasar' dalam hidup berbangsa,
bernegara dan bermasyarakat. Keluarga yang sungguh
memperhatikan pendidikan anak-anaknya, maka masa
depan akan cerah. Contoh konkrit (banyak terjadi di
pedesaan yang miskin): orang tua(penguasa
keluarga) untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai
diusahakan pinjaman ke mana-mana.Untuk urusan
lain(bangunan rumah, pembelian barang dll) ditunda, yang
penting adalah mengusahakan dana untuk sekolah
anak-anaknya. Hasilnya sangat bagus. Sebaliknya
keluarga yang kurang memberi perhatian pendidikan
anaknya saat ini sungguh 'memprihatinkan". Gambaran
ini hemat kami inspiratif. Para tokoh yang
berhasil, silahkan mawas diri: bukankah keputusan
orangtua kita yang hebat -> mendidik anak-anaknya,
membuahkan hasil yang membanggakan. Manusianya dulu
yang dibangun, dan kalau perlu "hutang". Rasanya
negara kita banyak berhutang juga, tetapi bukan
untuk pendidikan, melainkan untuk "menara gading" beberapa
orang, dan kebanggaan palsu.
Para pelayan/penentu masa depan bangsa: marilah
kita menjadi bangsa ini sebagai keluarga (yang
memang miskin) tetapi memiliki "keputusan politis"
(keputusan keluarga miskin di desa-desa sudah
memberi contoh, lihatlah) untuk menjadikan pendidikan
strategi pembangunan, konkitnya 'optimalkan' dana
dan tenaga untuk pendidikan.
Sejarah di dunia maupun "mutiara-mutiara" kecil
di desa-desa telah menjadi bukti dan kekuatan yang
riel. Moga-moga tidak hanya menjadi "wacana"
saja, tetapi sungguh tindakan nyata : pembangunan
manusia seutuhnya!
E-mail Pengirim: komdik@kawali.org
Tanggal: 29 Agustus 2001
Nama: Elyas Dari:
diy Saya: Guru smk negeri 4
yogyakarta Aspirasi / Informasi Bagaimana PGRI ku masihkah kau
bersuara ketika "kebebasan sudah didepan mata"
ketika ada CPNS yang sudah melaksanakan tugas tetapi
ngurus haknya susah? E-mail Pengirim: elyas_smk@yahoo.com
Tanggal: 2 Nopember 2001
Nama: Johan Yamin Dari: Melbourne - Australia Saya: Masyarakat Australia kelahiran Indonesia Aspirasi /
Informasi Ketepatan Susunan Mata pelajaran / kuliah untuk
Kesiapan terjun di lapangan. E-mail Pengirim:
johan.yamin@bigpond.com Tanggal: 18 November 2001
Nama: Sugeng Pramono Dari: Surabaya, Jawa
Timur Saya: Masyarakat Surabaya Aspirasi /
Informasi Mengenai Sumber Daya Manusia memang menjadi
pembicaraan dan ada upaya-upaya yang coba
dilaksanakan. Pertanyaannya, kenapa dalam pembicaraan dan
pelaksanaan masih meninggalkan celah? Khususnya,
masalah kesejahteraan guru. Menurut saya, ada
yang dilupakan dalam melakukan pemecahan terhadap
masalah ini, yaitu belum adanya upaya yang serius
untuk mencari kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahan yang ada. Didukung juga dengan sikap yang
cukup puas dari pelaku dan pelaksana progam,
termasuk pemerintah, guru, masyarakat dan peserta
didik. Kepuasan itu relatif, untuk itu perlu terus
untuk mencari dari kekuatan-kekuatan yang
ditemukan. Setelah itu perlu ada pembicaraan yang luas
dengan beberapa pihak. Teman-teman guru yang
menyuarakan keinginannya perlu untuk ditanggapi, baik secara moral maupun sikap nyata dalam kehidupan.
Sekian dari saya. Terima kasih atas teman-teman
yang membaca aspirasi saya ini dan saya terbuka
untuk kritik dan tanggapan baliknya. E-mail
Pengirim: sugeng.humanis@eudoramail.com Tanggal:
27 November 2001
Nama & E-mail: iwan suwandi
Sektor Pendidikan: Sekolah Menengah
Tanggal: 27 Nov 2001
Informasi: saya mengajak
teman-teman yg mau mengadakan kerjasama dengan pihak
sekolah dalam hal pengadaan komputer dan internet
disekolah. saya berdomisili di pontianak-kalimantan
barat. saat ini ada 2 sekolah yg mau bekerja
sama. selain menguntungkan, juga demi kemajuan
pendidikan di daerah.
Nama: ita Dari: jakarta Saya: Mahasiswi
universitas indonesia Aspirasi / Informasi: dana
pendidikan dalam anggaran negara sangat kecil
bagaimana negara kita dapat mewujudkan sumber
daya manusia yang unggul kalau tidak ada dana yang
cukup, ternyata benyak anak putus sekolah karena
kekurangan biaya padahal mereka termasuk anak-anak
yang berpotensi untuk memajukan bangsa
kita E-mail Pengirim: ita_muslim@myquran.com Tanggal:
2 desember 2001
Nama: Jannes Silaban Dari:
Pematangsiantar/Sumatera Utara Saya: Wartawan Harian Ekonomi Medan
Bisnis Aspirasi / Informasi: Perhatikanlah guru
Swasata
Jika kita mau jujur, peran serta pendidikan yang
diselenggarakan pihak swasta di Indonesia,
khususnya pendidikan formal seperti SD - SMU, merupakan
andalan utama dalam pewujudan tujuan akhir
pendidikan nasional--meski tidak seluruhnya.
Namun pemerintah, sama sekali tidak pernah
memperhatikan pendidikan swasta sehingga berakibat
fatal pada pencapaian tujuan pendidikan tadi.
Misalnya, guru PNS bisa mengajar di sekolah
swasta walau dengan meninggalkan sekolah tempat
mengajarnya, sehingga kesempatan mengajar lebih banyak
dimilikinya ketimbang guru belum berstatus PNS.
Jika pemerintah sedikit memberikan perhatian
kepada pihak swasta yang menyelenggarakan pendidikan,
maka pemerintah harus melarang PNS mengajar di
sekolah swasta. Tentu saja, bukan hanya melarang,
namun juga harus memberikan subsidi--minimal 50
persen dari jumlah yang diperoleh sebuah sekolah
swasta setiap bulan--sehingga pihak swasta tidak
segan-segan lagi menerima guru honorer dengan gaji
tinggi.
Dengan cara ini, eksploitasi pendidikan dengan
tujuan provit bisnis akan berkurang.
Terimakasih. E-mail Pengirim: janneswk@renungan.com Tanggal:
12/12/2001
Nama: yahya Dari: gorontalo Saya: Staf
Administrasi Dinas pendidikan Aspirasi / Informasi:
Kesan ttg pendidikan di negeri ini adalah setiap
pergantian menteri maka terjadi pula penyesuaian
ttg kebijakan pendidikan. Sejak saya mengenal
pendidikan, sampai hari ini sepertinya pendidikan
Indonesia tdk ada model yg langgeng. Apakah kita
sedang mencari-cari model mana yg sesuai dgn budaya
kita atau manakah yg sesuai selera pak menteri?
Dari program wajar dikdas, link and match, CBSA
sampai peniadaan Ebtanas. Memang tujuannya demi
terwujudnya generasi indonesia yg mandiri dan mampu
mempertahankan dan memajukan bangsanya sejajar dan
bahkan lebih maju dari negara lain. Sebenarnya,
menurut pengalaman selama ini, tidak perlu terlalu
membebani siswa dgn berbagai macam mata
pelajaran, 4 atau 5 sudah cukup baik pd tkt SD, SLTP maupun
SLTA. Dan yg terpenting adalah kesejahteraan para guru (gaji
mereka terlalu rendah) sehingga kadang2 mereka
meluangkan waktunya bagaimana utk mendapatkan tambahan
penghasilan ketimbang memikirkan kualitas para
anak didik.
Perlu kita hargai semboyan "guru adalah
pahlawan tanpa tanda jasa". Disisi lain
pemerintah perlu memikirkan format yg tepat dalam merekrut
calon guru. Karena banyak juga guru yg tdk
trampil dalam mengajar. Hal ini terkait dgn perguruan
tinggi, strategi atau pendekatan mana yang perlu
diteruskan dan mana yang sudah saatnya
ditinggalkan krn tdk sesuai lagi dgn perkembangan dunia
pendidikan. Saya pikir inilah yg dpt disampaikan dlm
kesempatan ini. E-mail Pengirim: nunu@propinsi-gorontalo.com Tanggal:
19 Desember 2001
Nama:
Entis Sutisna Dari: Tangerang
Banten Saya: Guru SMUN 4 Tangerang Aspirasi / Informasi:
Otonomi daerah yang menjanjikan harapan perbaikan
bagi pendidikan dan guru ternyata harapan kosong.
Pengelolaan pendidikan di daerah semakin jauh
dari profesional, manajemen pendidikan semakin
amburadu, birokrasi semakin berbelit, kesejahteraan
tak ada perubahan, PEMDA semakin arogan. Nasib guru
yang mutasi tidak jelas. E-mail Pengirim: Entis63@yahoo.com Tanggal:
3 Januari 2002
Nama:
arbain Dari: medan / sumatera
utara Saya: Staf Administrasi indosat divnet stti pantai
cermin Aspirasi / Informasi: sehubungan dengan
akan diselenggarakannya reuni sma2 medan dari
tahun 79 s/d 01 saya hanya punya ide masing-2 yang
berminat mengumpulkan uang dengan jumlah yg
ditentukan tdk terbatas untuk memberi apresiasi kepada
eks bapak ibu guru kita untuk memotivasi
peningkatan pendidikan E-mail Pengirim: arbain@indosat.com Tanggal:
16/01/2002
Nama:
Nasruddin Dari: Makassar Saya: Mahasiswa
unhas Aspirasi / Informasi: Salah satu yang
dicemaskan dunia perguruan tinggi di Indonesia
saat ini yaitu masih bergantungnya kita terhadap
hasil riset dari lur negeri. Sehingga kita tidak
perlu heran, sampai kapanpun bangsa kita akan tetap
diremehakn oleh bangsa lain karena tidak mampu
memenuhi kebutuhan hidup dikarenakan kita terus
membeli hasil-hasil riset dari luar. Kita tentunya
mahfum hal ini disebabkan perguruan tinggi di
Indoinesia belum ada yang berorientasi kepada riset
dan penelitian. Riset dan penelitian hanya
dijadikan sebagai sarana untuk menjadi seorang
"sarjana". Dan sampai hari kita lihat bahwa negara hanya
menalokasikan dana dari APBN sebesar 13%.
Bagaimana mungkin kita bisa melakukan
penelitian-penelitian dengan alokasi dana yang seperti itu.
Dari bertebarannya "doktor" dan "profesor" di
Indonesia belum ada satupun yang mampu
menyumbangkan hasil riset yang bisa dijual kepada negara
lain. Kita tentunya berbangga kepada Bapak Habibie
yang namanya telah melambung tinggi karena
keberhasilannya menemukan sebuah prinsip di dalam cara
kerja pesawat terbang. Tapi kejadian itu tidak
terjadi di negeri ini tetapi di Jerman. Dan juga
para "doktor" dan "profesor" kita agaknya enggan
untuk melakukan riset-riset dan
penelitian-penelitian disebabkan karena mereka lebih senang bekerja
di belakang meja dibanding bekerja di dalam
laboratorium ataupun membimbing para mahasiswa untuk
melakukan penelitian.
Namun kita tentunya tidak sepenuhnya
menyalahkan pemerintah karena bagaimanapun kita memahami
bahwa bangsa kita berada dalam titik nadir
kehidupannya. Tapi tentu saja itu tidak menjadi
penghalang bagi kita untuk melakukan riset dan
penelitian-penelitiankan?Karena masih banyak hal-hal lain
disekitar kita tanga masih perlu diteliti.
E-mail Pengirim: anaklaut@mahasiswa.com Tanggal:
16 januari 2002
Nama:
Asril Wardani Dari: Palembang Saya:
Mahasiswa Universitas Sriwijaya Aspirasi /
Informasi: Saya beberapa kali mendapat kiriman informasi
tentang program pertukaran pelajar bagi mahasiswa
(undergraduate) yang dapat mengikuti program
pertukaran pelajar di beberapa universitas di Jepang.
Diantaranya adalah YSEP di Tokyo Institute
Technology, Kemudian TUFS, ada juga di Kyushu dan
lainnya. Saya pikir ini hal yang baik bagi
pengembangan SDM kita untuk lebih meningkatkan profesional
skillnya dibidang masing-masing. Makanya saya
berusaha memberikan info ini ke pihak yang lebih tahu
dalam hal ini yaitu pertama saya berikan ke
Jurusan saya agar disampaikan ke Purek IV bidang
kerjasama. Namun sampai sekarang belum saya dengar
kabarnya. Adakah cara lain agar program ini bisa
diadopsi di Unsri. E-mail Pengirim: asriel992001@yahoo.com Tanggal 19/1/2002
Nama & E-mail: SLTP WAHID HASYIM 11
Sektor Pendidikan: SLTP
Tanggal: 22 Januari 2002
Informasi: Mohon bantuan dana
untuk pembangunan ruang kelas baru karena sekolah
kami sangant membutuhkan dana.
saat ini ada 6 kelas tetapi hanya ada 4 ruang dan
saat ini sudah mulai membangun pondasi dan dana
sudah habis
Nama:
Murman Dari: Demak, Jawa Tengah Saya:
Guru SLTP 2 Gajah Demak Aspirasi / Informasi:
Assalamualaikum
Mohon urun rembug,
Bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas
pendidikan perlu dilibatkan peningkatkan kemampuan
sumberdaya baik ditingkat manajemen (birokrasi dan juga
kepala sekolah) maupun para pelaksananya (guru).
Agar SDM guru lebih meningkat perlu beberapa
peluang yang bisa diberikan diantaranya untuk
melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Fenomena
yang berkembang sekarang dengan dibukanya program
S2 (Magister) dibanyak perguruan tinggi telah
membuka pemikiran bagi sebagian guru di Indonesia
untuk melanjutkan studi. Namun dalam kenyataan
banyakm sekali kendala dan hambatan yang menghadang
ketika seorang guru harus melanjutkan studinya.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan bahwa
tanggung jawab memajukan pendidikan tidak hanya beban
perguruan tinggi, untuk itu mohon bagi para guru
yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi
juga diberi peluang untuk mendapatkan bea siswa.
Janganlah beasiswa hanya diuperuntukkan bagi para
dosen saja. Hilangkan itu bentuk diskriminasi
kalau pendidikan di Indonesia ingin maju.
Sekali lagi, dukunglah niat baik kami para guru
disekolah menengah untuk melanjutkan studinya
dengan subsidi berupa beasiswa.
Dari kami,
Murman
Guru SLTP 2 Gajah Demak E-mail Pengirim: murman_bonang@yahoo.com Tanggal: 24 Januari 2002
Nama:
Rujianto Dari: Padang , Sumatra Barat Saya: Mahasiswa
AIM-AMIK JAYANUSA Aspirasi / Informasi:
Bekisar dengan perkembangan zaman yang semakin lama
semakin maju dan berkembang, saya khususnya merasa
bagaimana pendidikan kita bisa lebih
berkembang/maju di bandingkan nagara lain, justru dari itu
saya mohon solusinya bagaimana pendidikan yang
jauh dari kemajuan jaman juga di perhatikan
khususnya gaji-gaji guru yang mengajarnya karna sekarang
sudah zamannya kebebasan tapi bebas yang tidak
bersifat Anarkis tentunnya. E-mail Pengirim: afriddoank@yahoo.com Tanggal:
03- FEBRUARI-2001
Nama:
chaerul
rochman Dari: Bandung/Jawa Barat Saya:
Dosen Tarbiyah IAIN SGD Bandung Aspirasi /
Informasi: Salam,
Dunia terus berkembang, tantangan, respon, dan
action pendidikan pun terus berubah seiring dengan
kebutuhan masyarakat. Sehingga pengelola
pendidikan terus diterpa dengan keharusan melakukan
penyesuaian.
Arah penyesuaian yang dilakukan pemerintah dan
masyarakat masih jauh dari yang diharapkan. Namun
masih banyak kalangan yang tidak sabar dengan
perbaikan dan perubahan tersebut. Akibatnya suatu
kebijakan belum berjalan dengan baik, sudah diubah
lagi. Sehingga sangat banyak biaya dan waktu yang
seolah kembali ke masa lalu.
Untuk itu saya mengajak kepada segenap pencinta
pendidikan untuk bersabar sambil melakukan sesuatu
yang konstruktif. Perbaiki program pembelajaran
kita, lakukan sesuatu dengan sabar dan tawakal.
Wasssalam. E-mail Pengirim: chaman@bdg.centrin.net.id Tanggal:
6 Februari 2002
Nama:
AGUS DERMAWAN
MUCHSIN Dari: BALIKPAPAN / KALTIM Saya: Staf
Teknologi SEPINGGAN AIRPORT Aspirasi /
Informasi: Upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia, disektor Pendidikan salah satu tonggak
yang penting adalah peningkatan taraf hidup
guru, dengan meningkatkan fasilitas
gaji/tunjangan/perumahan yang baik, dengan demikian memberi motifasi
Guru untuk meningkatkan kualitasnya dalam proses
mengajar. Coba tengok ke belakang masih banyak Guru kita
yang belum mendapatkan kesempatan seperti itu, untuk
kebutuhan hidupnya sendiri belum
mencukupi, bagaimana bisa meningkatkan prestasi belajar
muridnya? Coba lihat Guru2 yang didaerah terpencil, untuk
transportasi saja susah.
Dibandingkan dengan Negara yang lainnya seperti
contoh malaysia sektor pendidikannya sangat
baik, utnuk itu ke arah depan pemerintah kita lebih
meningkatkan
sektor Anggaran pendidikan lebih besar
lagi, hingga menjadikan Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang
lebih maju, adil dan makmur. E-mail Pengirim:
agus@teknik.com Tanggal: 09/02/2002
Ke Halaman 2 - Klik Di Sini
|