|
Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut (Halaman 12)
Nama: A BAMBANG SUNARWAN, MBA Dari: PALEMBANG, SUMSEL Saya: Pengamat PALEMBANG Aspirasi / Informasi: MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS SEKOLAH (MPMBS)
Di situs ini pernah terbaca ada yang menanyakan tentang MPMBS. Sayang saya gagal mengontak ybs. Tulisan ini memberikan sedikit gambaran mengapa konsep MPMBS ini dianggap jalan keluar keprihatinan mutu pendidikan pada setiap jenjang, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Yang lebih memprihatinkan lagi tamatan SLTP dan SMU belum siap memasuki lapangan kerja. Sedangkan yang luluspun sulit meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, karena mahalnya biaya pendidikan. Bahkan Universitas Negeri seperti Universitas Indonesia th ini mematok biaya masuk antara Rp 25 - 75 jt. Mau kuliah tidak mampu, mau bekerja belum cukup dipersiapkan, mau menganggur masa depan semakin suram, mau jadi penjahat takut masuk penjara ataupun dipukuli orang. So what?
Menurut penelitian, katanya ada 3 faktor penyebab merosotnya mutu pendiduikan (maaf dalam bahasa saya adalah mutu IPTEK, karena kalau menurut pendukung UU Sisdiknas yang merosot dan harus diutamakan peningkatannya bukan IPTEK tetapi iman)
Adapun ketiga faktor tsb adalah :
1. Education function / input outpit approach yang tidak konsekuen. Maksudnya pendidikan dianggap black box. Asal mutu input ditingkatkan, mutu output meningkat. Processnya dilupakan.
2. Birokratic & sentralistic regulation. Sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, inisiatif, inovasi pengembangan lembaga dan peningkatan mutu pendidikan.
3. Peran serta stake holder (masyarakat & orang tua) lebih kepada input dan bukan proses (pengambilan keputusan monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas)
Inilah mengapa pemberlakuan UU Sisdiknas yang telah dipaksakan oleh "DPR minus FPDIP & FKKI", tidak kondusif untuk MPMBS yang jelas mempersyaratkan pemberian otonomi yang lebih besar kepada Penyelenggara Pendidikan untuk mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan, orang tua siswa, pengurus yayasan dan masyarakat). Peningkatan rasa memiliki rasa tanggung jawab dan dedikasi merupakan esensi participative decision maker guna peningkatan mutu pencerdasan bangsa.
Taufiqurahman selalu menyebat-nyebut Komite Sekolah atau yang saat ini riil ada BP3, yang kerjanya kumpul, naikkan biaya uang sekolah, minta extra sumbangan dalam jumlah tertentu kepada para orang tua berdasarkan keputusan rapat, yang tentu saja karena pengurusnya kebanyakan the haves tak bisa pahami permasalahasn the have not, boro2 untuk extrra nyumbang lagi, untuk bayar SPP saja ngutang sana sini. Saya kurang yakin kalau Taufiqurahman ngeti semacam ini, karena beliau termasuk the haves dan tukang buat regulasi, sedang inti dari reformasi, sebetulnya justru deregulasi dan "otonomi bukan hanya daerah, melainkan juga badan usaha, yayasan, lembaga pendidikan dll usaha masyarakat". Yang sebenarnya penting adalah pengaturan yang membatasi aparat & pejabat ikut campur terlalu luas / terlalu dalam masalah dalam negeri "mereka", khususnya yang tak terkait dengan APBN dan APBD. Sedang yang terkait hanya perlu regulasi / aturan yang menjamin akuntabilitas / tidak terjadinya kebocoran.
Sungguh kontroversial UU yang dibuat Taufiqurahman dkk (maaf menurut saya bukan oleh DPR, sebab DPR termasuk FPDIP dan FKKI. Bahkan suara FKB pun hanya suara perorangan bukan sebagai a/n Partai, karena tak sesuai instruksi Pimpinan PKB).
Kontroversi dengan amanat MPMBS
1 Pemandirian atau pemberdayaan sekolah melalui otonomi kepala sekolah.
2 Peningkatan mutu pendidikan melalui kemandirian, inisiatif dan pemberdayaan semua sumber daya yang ada
3 Kepedulian Stakeholder dalam keputusan bersama
4 Akuntabilitas sekolah
5 Persaingan sehat dalam peningkatan mutu IPTEK
Penerapan MPMBS didasarkan pemahaman bahwa :
1 Sekolah ybs lebih memahami SWOT ybs.
2 Kebutuhan lembaga dan peserta didik ybs, khususnya input yang perlu dikembangkan dan didaya gunakan dalam proses pendidikan.
3 Keputusan Lembaga sendiri lebih cocok d/p bila didekte Pemerintah Pusat/ Diknas.
4 Sumber daya akan lebih efektif & efisien dalam kontrol stake holder ybs setempat, yang keterlibatannya menciptakan transparansi dan mencegah kebocoran dana.
5 Akuntabilitas sekolah mendorong/ memaksimalkan daya upaya dan persaingan sehat guna peningkatan mutu IPTEK.
6 Sekolah mampu merespons dengan cepat dinamika aspirasi dan kebutuhan pasar kerja.
Demikian pemahaman singkat mengenai MPMBS yang tak mungkin diterapkan dengan semangat UUnya Taufiqurahman, yang sebaiknya diselaraskan dengan MPMBS sebelum diberlakukan. Semoga.
A Bambang Sunarwan
GRIYA AYU - PALEMBANG E-mail Pengirim: bambangsunarwan@yahoo.com Tanggal: 15 JUNI 2003
Nama: Liviana Disepti Tandela Dari: Bekasi/Jawa barat Saya: Siswi SMU Bethany II Aspirasi / Informasi: Saya minta pengesahan mengenai UU Sisdiknas dipertimbangkan lagi karena UU tersebut saya rasa akan memberatkan bagi sekolah-sekolah yang berlabel Kristen/Katolik. Hal ini saya ajukan karena mengingat Negara ini bukan merupakan negara yang didominasi oleh satu agama tertentu jadi, saya rasa tidak salah bila ada sekolah-sekolah yang memang khusus mengajarkan satu agama tertentu. Terimakasih atas perhatian yang diberikan. E-mail Pengirim: Liviana_Tandela@yahoo.com Tanggal: 15 Juni 2003
Nama: A BAMBANG SUNARWAN, MBA Dari: PALEMBANG, SUMSEL Saya: Pengamat PALEMBANG Aspirasi / Informasi: KENANGAN BERSEJARAH MUHAIMIN - SEJARAH HITAM
Jawa Pos 15 Juni 2003 menulis, tanggal 11 Juni 2003 merupakan kenangan bersejarah bagi Muhaimin. Kenangan yang tak akan dilupakan bagi 20 juta umat bahwa telah tercatat dalam sejarah Muhaimin merupakan oknum yang paling bertanggung jawab dalam upaya pengedropan Mukadimah UUD 45 dari Konsiderans UU Sisdiknas (UU no 2 /1989). Dia telah mengkambuhkan luka lama bangsa ini dari Piagam Jakarta, macetnya Konstituante sehingga terpaksa Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1955. Kini luka kembali menganga dan ancaman masuknya kembali Piagam Jakarta semakin mengkhawatirkan 20 juta umat, yang diakui atau tidak oleh Muhaimin punya hak yang sama atas negeri tercinta ini.
Semoga Muhaimin masih bisa sadar untuk memperbaiki kesalahannya. Bukankah Gus Dur sudah memperingatkan dan tetap aja mbalela? Semoga Tuhan mengampuni ketokan palu Mhm, karena Mhm tak tahu yang Mhm perbuat.
A BAMBANG SUNARWAN
GRIYA AYU Palembang E-mail Pengirim: bambangsunarwan@yahoo.com Tanggal: 15 JUNI 2003
Nama & E-mail (Penulis): Alumnus kota Medan
Saya Mahasiswa di Yogyakarta
Tanggal: 15 juni 2003
Judul: Pendidikan di Kota Medan
Topik: Mental siswa
Pendidikan di kota Medan dewasa ini sudah lah terlihat sangat terpuruk di jurang kehancuran, melihat dari peringkat ataupun beberapa penelitian yang dilakukan. Apa masalahnya? bukankah kita mengenal beberapa cendekiawan-cendekiawan yang berasal dari sumatra? Akbar tanjung, TB silalahi, Marsillam Simnjuntak adalah beberapa di antaranya. Penulis adalah alumnus dari kota medan sehingga mengerti benar denga mental siswa di Medan.
Kalo di tanya salah siapa, tentunya itu hanya akan menjadi lingkaran tak berujung yang sangat sulit untuk ditemukan! yang diperlukan sekatang adalah solusi untuk masalah ini, karena menurut penulis siswa di medan memilik potensi/bakat yang sangat besar jika digali lebih dalam.
Pertama-tama masalah kualitas pendidik di Medan yang memeang penulis rasakan sendiri kurang mampu mendongkrak siswanya dalam berdisiplin serta metoda mendidik yang tidak baik -malas, seadanya, terelalu memudahkan suatu masalah- kalu ini mampu dirubah maka Medan akan mencapai satu langkah unggul dalam usah memjukan pendidikan di Madan. Orientasi nilai, seperti di banyak daerah bahwa siswa lebih mementingkan nilai daripada proses mendapatkannya akibatnya banyak shortcut/jalan pintas uang ditempuh dengan membuat contekan?/"kopekan" menyontek teman, dsb. Hal ini tidak terlepas dari keinginan orang tua yang selalu memaksa si anak untuk mendapat nilai baik tanpa memperhatikan proses yang di tempuh oleh si anak.
Masalah judi yang marak merupakan salah satu penghambat majunya pendidikan kota Medan, oleh sebab itu perlu diadakan kampanye anti judi dalam bentuk agitasi-agitasi berupa poster, spanduk, penyuluhan dan pendekatan psikologis kepada anak-anak kecil yang belum terkena wabah judi. Premanisme!!! galah satu momok di Medan perlu dipecahkan dengan penanganan dari kepolisian, harus kontinyu...
Di akhir kata saya sangat berharap artikel saya berguna untuk kemajuan pendidikan, terutama bagi kota saya tercinta medan. Hidup Medan, jangan menyerah galilah terus potensimu!!!
E-mail Pengirim: ari140583@yahoo.com Tanggal: 15 Juni 2003
Nama: A BAMBANG SUNARWAN, MBA Dari: PALEMBANG, SUMSEL Saya: Pengamat PALEMBANG Aspirasi / Informasi: MENGGILANYA BIAYA PENDIDIKAN TINGGI
Dulu orang berebut masuk PTN, karena biayanya relatif murah bahkan jauh lebih murah dari Swasta. Sejak Malik Fajar menjadikan PTN Badan Hukum Milik Negara, biaya Pendidikan Tinggi menggila. Mereka membuka jalur khusus antara Rp 15 - 150 juta.
Diennaryati menyampaikan bahwa di UI ada Sistem Penerimaan Mahasiswa (SPMUI) Program Prestasi & Minat Mandiri (PPMM) dengan tarif Rp25 - 75 juta. Sementara itu Sudharto mengatakan Undip menyelenggarakan Program Pengembangan dan Kerja sama (PPK) dengan biaya sumbangan Rp 25 - 150 juta. Bambang Purwiono mengutarakan UGM juga menyelenggarakan jalur khusus melalui kemitraan dengan instansi tertentu dan dengan biaya sumbangan khusus antara Rp 15 - 100 juta.
Dengan memfasilitasi UU Sisdiknas membuka peluang kerja bagi Universitas swasta tertentu untuk menyalurkan alumninya dan kini dengan menjadikan PTN sebagai BHMN lagi2 menguntungkan Universitas swasta tertentu sehingga mampu bersaing soal biaya dengan Universitas Negeri.
Yang dikorbankan lagi2 peserta didik dan masa depan bangsa yang tercinta ini.
Dengan kebijakan Mendiknas yang ada, di Pendidikan Dasar dan Menengah porsi IPTEK menurun. Tamatannya tak siap kerja. Wong cilik yang mau memperbaiki nasib secara vertikal melalui Pendidikan Tinggi tak bisa lagi. Mengapa kami yang Memprihatinkan Pendidikan Nasional diabaikan Akbar dan Muhaimin, yang ngakunya tokoh nasionalis?
A BAMBANG SUNARWAN
GRIYA AYU PALEMBANG
E-mail Pengirim: bambangsunarwan@yahoo.com Tanggal: 16 JUNI 2003
Nama: solakhuddin Dari: jombang Saya: Mahasiswa IKAHA, Tebuireng Aspirasi / Informasi: saya setuju sistem pendidikan sekarang di SMU yang memakai sistem lulus dan tamat karena akan mengetahui anak yang benar-benar pinter dan yang benar-benar tidak.
Thanks for all E-mail Pengirim: sohel@plasa.com Tanggal: 16-6-2003
Nama: Asep komarudin Dari: Bandung Saya: Guru SMU AL FALAH Dago Aspirasi / Informasi: Semoga aspirasi-aspirasi semua lapisan masyarakat diterima oleh wankota dengan baik dan dilaksanakannya wassalam E-mail Pengirim: Tanggal: Kamis 18 juni 2003
Nama: Drs. Suyono W. Pranata, S.S.
E-mail:
Sektor Pendidikan: Umum
Aspirasi: Kependidikan
Setelah otonomi daerah, jalur kependidikan semakin "ruwet" dan penuh dengan trik-trik yang mengarah pada komersialisasi. Jabatan seseorang semakin menunjukkan arogansinya di segala bentuk yang berkaitan dengan kepemimpinannya walaupun sangat banyak pemimpin yang tidak menguasai apa yang sedang dihadapinya.
Sekedar contoh pada dinas pendidikan di kabupaten atau kota, seorang kepala dinas dan jajarannya bukan dari latar belakang kependidikan karena bupati atau walikota mengangkat hanya dari faktor koneksi, bukan dari latar belakang profesinya.
Apabila hal-hal ini terus dilakukan, insya Allah pendidikan di Indonesia tidak akan mengangkat derajat anak didik ke jenjang edukatif tetapi ke jenjang koneksitas. Wassalam. Tanggal: 19 Juni 2003
Nama: ika Dari: jakarta Saya: Masyarakat jakarta Aspirasi / Informasi: saya ingin menanyakan apa sebenarnya syarat2 untuk masuk sekolah dasar (negeri) bagi anak2 selain dia telah berusia 6/7 tahun??
Soalnya, pembantu saya mau memasukkan anaknya ke SD negeri Bintaro dan ditolak karena orangtua anak tersebut berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (ibu) dan kuli angkut di pasar (bapak). Seingat saya, berdasarkan UU Sisdiknas yang baru (dan juga merupakan salah satu dari 31 konvensi hak anak sedunia) setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, dan berdasarkan pasal 11 pemerintah dan pemda wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
Pembantu saya baru akan mendaftarkan anaknya, dan sudah disodori pertanyaan kerja dimana dan berapa penghasilan perhari. Apakah ada syarat2 tersebut dalam penerimaan murid SD di SD negeri? Apa manfaat dari pertanyaan itu? Kenapa justru lembaga pendidikan dasar yang menciptakan diskriminasi padahal seharusnya mereka memperkenalkan keanekaragaman?
Kedua, apakah harus selalu melalui taman kanak kanak untuk dapat masuk SD? Bukankah tingkat paling dasar dalam wajib belajar 9 tahun itu SD? Sekarang banyak sekali SD yang sudah memberikan ujian masuk kepada calon murid, seperti test baca tulis dan berhitung? apakah memang itu peraturannya?
sekian
Terima kasih atas perhatiannya
Ika
E-mail Pengirim: ardina@indo.net.id Tanggal: 19 juni 2003
Nama: Ceri Dari: Jkt Saya: Guru jkt sel Aspirasi / Informasi: 2 Hal yg ingin sy tanggapi atas isu yg sdg berkembang belakangan ini:
1. Semakin banyak orang mengeluh tentang semakin mahalnya biaya pdd skrg ini. Mulai dari masuk SMP, SMU, UNIV, S2 dst. Ironisnya semakin berkurang kepercayaan orang terhadap lulusan dari institusi2 tsb. Kenapa? Kenapa tdk orang2 kaya di negeri ini siapapun dia, ang. DPR/MPR, mentri2, pengusaha sukses dll berserius hati Lillahi Ta'ala membantu dunia pdd agar seluruh rakyat Ind. dp mengecap pdd sampai level setinggi2nya gratis atau min dg biaya ringan. Insya Allah bangsa ini akan mjd bangsa yg cerdas, makmur dan mampu berfikir sportif.
2. RUU Sisdiknas yg sudah 2X diundur pengesahannya sebenarnya tdk perlu terjadi jk masing2 pihak menyadari bhw RUU tsb patut utk dilaksanakan. Seluruh siswa penganut agama tertentu berhak mendapatkan pdd/bimbingan rohani dari guru/pengajar yg agama/kepercayaannya sesuai dg siswanya. Dimanapun ssw tsb bersekolah (mis. ssw Islam bersekolah di sekolah Kristen, ssw Kristen bersekolah di sekolah Hindu, dst) dg alasan:
a. Agar anak didik tsb mendapatkan haknya utk menghayati, mendalami dan menjalankan ajaran agamanya dg maksimal.
b. Agar kita dp meningkatkan mutu moral bangsa hasil dari perolehan bimbingan rohani yg sesuai dg yg dianutnya.
c. Dan yg paling penting dari fenomena yg berkembang di beberapa tahun belakangan ini (yg menjadi rahasia umum namun tabu untuk dibahas umum) adalah untuk mengantisipasi maraknya usaha pemurtadan penganut agama tertentu dg bermacam iming2 bahkan intimidasi disegala sektor oleh sekelompok penganut agama yg lain. (Td usah berusaha menutup mata thd this true fact atau berusaha meminta bukti kongkret!)
Maka lewat RUU Sisdiknas yg baru inilah sangat diharapkan penyelewangan hak individu masyarakat Indonesia dalam menganut agama/kepercayaannya masing2 dp diberantas tuntas! E-mail Pengirim: cerifrench03@yahoo.com Tanggal: 19 juni 2003
Nama: GIARTO Dari: Bandung Saya: Mahasiswa UNPAD Aspirasi / Informasi: Biaya kuliah mahal tidak akan menjanjikan kualitas yang baik, namun hanya akan membuka peluang untuk birokrasi korupsi dan anak pejabat serta anak pengusaha untuk masuk ke perguruan tinggi lebih mudah (jalan pintas).
Di India negara yang relatif miskin namun pendidikannya di atas Jepang, Korea dan Singapura. Subsidi silang akan sulit terrealisir, bahkan program beasiswa yang setiap tahun sudah dijalankan masih di"obok-obok'. Misal, beasiswa BBM (dari Dikti) yang programnya mulai Januari, baru dapat diambil bulan Mei, bahkan sekarang bulan Juni, kami baru dapat mengambil untuk bulan April. Jadi kemana jatah bulan Mei dan Juni ? Di tabung untuk di ambnil bunganya atau apa ?
E-mail Pengirim: giarto_13@sctvnews.com Tanggal: 22 juni 2003
Nama: Penjelajah Dari: Kendari Saya: Masyarakat Kendari Aspirasi / Informasi: Katanya SDM kita mutunya jelek. tetapi kita belum lihat, upaya pemerintah untuk menanggulanginya. Menurut saya, banyak tenaga kerja kita yang ingin sekali meningkatkan keahlian dan pengetahuannya agar bisa bersaing secara global. Namun waktunya sudah habis untuk bekerja.
Jadi saya mengusulkan, agar pemerintah dan masyarakat mendorong diadakannya lembaga-lembaga pendidikan bagi para pekerja. Kalau di luar negeri (AS misalnya yang sudah sangat maju) masih ada sekolah malam bagi para pekerja, kenapa kita di Indonesia -yang sudah ketinggalan- kok tidak memikirkan hal seperti ini. Malah hanya memikirkan pemilu tok.
Jadi konkritnya saya mengusulkan :
1. Pendirian lembaga pendidikan bagi para pekerja (Sekolah/kuliah malam atau sabtu dan minggu)
2. Pendidikan Jarak jauh (semacam Universitas Terbuka) untuk bidang IT, dll.
Pendidikan online bagi para pekerja. E-mail Pengirim: penjelajahilmu@yahoo.com Tanggal: 23 Juni 2003
Nama: A BAMBANG SUNARWAN, MBA Dari: PALEMBANG, SUMSEL Saya: Pengamat PALEMBANG Aspirasi / Informasi: BERANTAS KORUPSI HARUS SEJAK KULIAH
Jaman Belanda kuliah kedokteran di Stovia gratis, malah dapat uang saku. Lulusannya berdedikasi sosial. Mau diundang ke rumah pasien kadang tidak memungut bayaran, khususnya terhadap pasien yang tidak mampu. Jadi dokter sesuai cita2 luhur, mengabdikan diri untuk memelihara kesehatan masyarakat, Kini kuliah kedokteran amat sangat mahal. Begitu lulus balas dendam, kalau tak punya duit jangan harap dilayani. Harus daftar dan bayar dulu antre dan baru diperiksa.
Demikian juga yang kuliah jurusan lain, biaya juga mahal tambah masuk jadi pegawai masih harus KKN. Begitu jadi pejabat balas dendam, modal harus cepat kembali.
Saya baca di Metro TV 23 Juni 2003 sore, berita heboh "Jalur khusus ITB, the best technical university, 45 jt sd Rp 500 juta. Gilanya dari 1800 calon mahasiswa, 600 sanggup bayar diatas Rp 45 juta". So bayangkan kelak begitu menjabat pastilah, mulai ingin cepat balik modal. Saya tidak tahu di tempat lain, tetapi di Industri pupuk, lulusan ITB cepat mencapai key position. Bila mereka korup, BUMNnya digerogoti.
Kesimpulannya BERANTAS KORUPSI HARUS SEJAK KULIAH.
A Bambang Sunarwan
GRIYA AYU PALEMBANG E-mail Pengirim: bambangsunarwan@yahoo.com Tanggal: 24 JUNI 2003
E-mail Pengirim: Ating027@Yahoo.com Informasi: 26/06/2003 saya seorang mahasiswi jurusan komputer saya berharap kalau komputer di indonesia semakin ditingkatkan dibidang pendidikan baik dari SD sampai universitas supaya kemajuan sumber daya manusia di indonesia meningkat pesat oke. terima kasih!
Nama: Syamsul bahri Dari: Lhokseumawe/NAD Saya: Kepala Sekolah Lhoksukon Aceh Utara Aspirasi / Informasi: UAN (Ujian Akhir Nasional) di SMU dan SLTP perlu ditinjau ulang, karena tidak dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas, dan inplementasi dalam menentukan angka kelulusan sangat sentralistik. Jadi Kepmen Depdiknas No. 017/U/2003 tanggal 07 Februari 2003 perlu ditinjau ulang. Guru dan kepala sekolah tidak memiliki peran/tidak ada kewenangan dalam menentukan kelulusan. Seorang siswa yang memiliki nilai UAS rata 7,00, tidak ada arti bila nilai UAN kurang atau sama dengan 3,00. E-mail Pengirim: soel-aceh@telkom.net Tanggal: 27 Juni 2003
Nama: cahyo utomo Dari: salatiga/jawa tengah Saya: Mahasiswa UKSW Aspirasi / Informasi: biaya pendidikan yang tinggi sebenarnya tidak dapat dielakkan lagi.. dan pada kondisi seperti saat ini, dimana utang negara begitu tinggi sehingga besar dana APBN untuk pendidikan begitu rendah, masyarakatlah yang menjadi penanggung beban biaya pendidikan.
sekilas memang sangat tidak adil.. universitas negeri menetapkan biaya pendidikan yang begitu tinggi bahkan lebih tinggi jika dibanding dengan beberapa lembaga pendidikan swasta.. suara mahasiswa boleh menentang tingginya biaya pendidikan, namun jangan hanya berbicara dijalan saja.. cobalah untuk turut memikirkan jalan keluarnya karena sebenarnya pemerintah tidak salah mengenai hal ini, jangan hanya mencerca pemerintah.
saya sebagai mahasiswa juga turut prihatin, karena dengan begitu tingginya biaya pendidikan, kesempatan putra-putri terbaik indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak akan semakin kecil.. saya punya pemikiran.. melibatkan dunia industri kita untuk meringankan biaya pendidikan.. pemerintah seharusnya memprakarsai suatu bentuk institusi pendidikan yang bertujuan untuk menyediakan tenaga siap pakai bagi dunia industri.. dengan melibatkan dunia industri maka akan diperoleh tenaga2 yang sesuai dengan kebutuhan industri.. dan dengan demikian akan mudah diperoleh subsidi pendidikan dengan imbal balik ikatan dinas, seperti yang diterapkan oleh ATMI mikael surakarta... E-mail Pengirim: bedjozzz@hotmail.com Tanggal: 27 juni 2003
Nama: David Dari: DKI Jakarta Saya: Siswa SMU Aspirasi / Informasi: Saya ingin bertukar pikiran dengan netters sekalian.
Saya adalah siswa lulusan SMU Don Bosco 2 Pulomas. Saya melihat adanya pendaftaran mahasiswa dari ITB dari jalur khusus. Dimana biayanya adalah >45 juta. Orang tua saya menyuruh saya untuk ikut mendaftar. Kalau pun saya tidak masuk, saya disuruh untuk mengikuti jalur UMPTN. Orang tua saya mendaftar biaya 45 juta. Tidak lebih. Ada pun teman saya yang membayar 100 juta. Banyak orang tua murid dari daerah seperti Samarinda, Palembang, yang ikut mendaftarkan anaknya. Biayanya pun bermacam-macam. Minimal 45 juta. Dari sekitar 1800an orang kemudian dipilih 296 orang. Saya termasuk, tetapi teman saya itu tidak. Yang ingin saya tekankan adalah, pendidikan dewasa ini memanglah mahal, namun untuk menggapainya tetaplah tidak mudah. ITB pun tetap selektif dalam memilih calon mahasiswanya. Untuk hal biaya, mungkin ITB ingin menarik sumbangan dari orang yang menengah ke atas untuk biaya perawatan kampus. Anak pengusaha pun tidak hanya tinggal merogoh uang saja sebanyak mungkin, namun mereka sama saja dengan 1800 calon lain, dihadapkan dengan seabrek test dalam 2 hari yang sulit.
Demikian curhat saya. Semoga kata-kata saya berkenan di hati netters, maafkan bila ada kata-kata yang salah.
Terima kasih. E-mail Pengirim: cozymazeltov@yahoo.com Tanggal: 30 Juni 2003
Nama: Jumardi Lanta
E-mail: mardi_mks@yahoo.com
Sektor Pendidikan: Umum Pendampingan masyarakat
Informasi: Pendidikan kita tidak hanya di sekolah tetapi di tingkat rumah tangga perlu ada pelajaran alternatif yang sifatnya non formal, tetapi cukup membantu meningkatkan kapabilitas masyarakat kita baik dalam hal kesadaran kesehatan, cinta lingkungan ( sosial, lingkungan hidup). begitu pula skill alternatif yang dapat mengolah sumberdaya lokal untuk peningkatan kesejahteraannya.
Sekolah formal sangat mahal untuk kalangan masyarakat miskin, jadi pendidikan di Indoensia bukan untuk semua, hanya untuk golongan berduit.
Himbauan: Perlu ada gerakan pendidikan untuk semua demi bangsa dan negara.
Salam
Jumardi Lanta
Direktur Eksekutif
Lembaga Pemberdayaan Ekonomi
dan Kesehatan masyarakat Indonesia
Sulawesi Selatan. Tanggal: 30 Juni 2003
Nama: heri siswanto Dari: malang/jatim Saya: Mahasiswa umm Aspirasi / Informasi: bacalah kalimah bassmalla terlibih dahulu sebelum melakukan segala sesuatu. untuk itu mari kita tingkatkan dan kita wujudkan apa yang telah menjadi tujuan kita bersama, memiliki sumber daya manusia yang handal dan dapat dipercaya baik dalam kacamat agama dan akademik. wahai para insan sadarkah engkau buat siapa hari ini, esok,esok dan esok. tahukah kalian bahwa orang yang berilmu itu pasti diangkat satu lebih tinggi derajat orang tersebut. bersifatlah yang amanah. insya Allah kita kita termasuk orang-orang yang mau peduli dengan pendidikan keluarga, masyarakat, sekolah. amiin. E-mail Pengirim: Tanggal: 3 juli 2003
Nama: SUMITRO Dari: DKI Saya: Masyarakat JAKARTA Aspirasi / Informasi: Saya tiggal di Ibukota Profesi saya Karyawan sebagae Sopir dg gaji yg hanya mencukupi makan dan transpot sebulan, mempunyai tanggungan 3 anak
anak Pertama=lulus D3ASMI th 2003 blm bekerja anak ke2 lulus SMU 2003 ingin sekali masuk ITB (sinirupa).
Setelah ambil(beli)Formulir di ITB seharga Rp 120.000 ternyata ada sumbangan biaya Pengembangan Akademik,
yg besarnya bervariasi.Rp0>10jt>45.
Saya sebagae orang tua merasa min-der & Pesimis untuk dapat masuk ITB.
Kapan orang-orang kecil seperti saya ini mendapatkan keadilan dalam Pendidikan?.....
Kapan PTN bisa terjangkau RAKYAT Jelata?..... E-mail Pengirim: sumitro_2001@plasa.com Tanggal: 03/07/03
[ Ke Halaman 13 - Klik Di Sini ]
|