Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut
(Halaman 14)
Nama: Tarsiwad
Dari: Bandung, Jawa Barat
Saya: Masyarakat Indonesia
Aspirasi / Informasi: Assalau'alaikum wr wb
Kepada Yth.
- Pemimpin/Presiden
- Wakil Rakyat
- MPR/DPR
- Pimpinan Adat
- Pemipin Agama
Di Indonesia
Dengan hormat,
saya bersyukur sekali dengan berdidirnya negara kesatuan Republik Indonesia ini, dari sabang sampai merouke. alangkah bahagianya seandinya negeri ini diwarisi oleh para jiwa pejuang yang baik dan tidak mengorbankan tanah tercinta ini. sudah 58 tahun yang lalu Indonesia Merdeka dari tangan penjajah. sejak itu pula pemimpin kita yang penuh dengan tanggungjawab mengemban bangsa ini dari porak-poranda warisan penjajah sampai saat sekarang banyak kemajuan yang berarti. dari tahun ke tahun pergantian pemimpin bangsa untuk melanjutkan estafet pembangunan jangka panjang dan jangka pendek. betapa berat beban yang diembannya dengan rasa simpati kepada rakyat yang masih dalam tarap di bawah kemiskinan, kebodohan, pengangguran yang kian meningkat. bahkan lebih dari itu kejahatan yang kian marak di seluruh pelosok tanah air. baik itu di tingkat desa maupun di tingkat kota, sekarang semakin meresahkan masarakat Indonesia bahkan dari manca negara yang berkunjung ke negeri indonesia kadang
menjadi sasaran mereka.
harapan dan solusi yang saya ambil untuk diketahui bersama di elmen masyarakat bawah sampai masyarakat atas. bahwa ada satu jalan yang terbaik untuk memulihkan bangsa ini dari kejahatan, kebodohan dan kemiskinan dengan cepat dan tidak perlu negara lain diikutsertakan untuk mencari solusinya. satukan bangsa kita, satukan adat istiadat kita, satukan suku-suku yang ada di nusantara, relasikan persatuan dan kesatuan bangsa dan agama. agama sebagai pedoman hidup dan bangsa sebagai kiprah menjaalankan kehidupan yang demokrasi, tidak boleh saling menyalahkan bahkan saling adu jotos. biar Tuhanlah yang akan menilainya. selagi agamnya yang dianutnya tidak memaksakan kehendaknya kepada orang lain itulah yang perlu di rangkul dalam satu naungan bumi persada nusantara Indonesia Raya. hendaknya pemipin itu dengan tegas melaksanakan UUD 45, menghukum orang yang bersalah, melepas orang yang tidak bersalah. hakim dijauhkan dari many politik, para pejabat yang tidak sesuai dan bermasalah dengan jabatanya dan dibenci masyarakat diperhentikan dan bila perlu di jebloskan ketahanan. disamping itu juga memasyarakatkan mempergunakan produk dalam negeri, jangan sekali-kali pergi keluar negeri tanpa alasan yang posisitf, misalnya urusan keluarga, silaturahmi yang pada dasarnya tidak menguntungkan orang banyak.
Tentara dan Polri jangan segan-segan menindak kejahatan baik di kalangan pejabat tinggi maupun bawahan yang bermasalah, hukumlah dengan seadil-adilnya insya Allah jiwa kepatriotanmu akan harum di masyarakat bahkan di dunia.
demikian aspirasi saya semoga sedikit bermanfaat bagi kita semua.
Amiin.
Wassalam,
Tarsiwad
E-mail Pengirim: siwad@yahoo.com
Tanggal: Selasa, 15 Juli 2003
Nama: achmad mustain m
Dari: sidoarjo jawa timur
Saya: Masyarakat Sidoarjo
Aspirasi / Informasi: pendidikan indonesia harusnya ditujukan kepada pendidikan moral yang kuat dan intelektual serta profesionalisme, menghilangkan praktek kkn di lembaga pendidikan seperti yang terjadi saat ini. banyak lembaga pendidikan saat ini di komersialkan sehingga bila demikian akan mencetak moral anak didik menjadi rusak, mau tak mau mereka itu setelah terjun ke masyarakat nantinya akan berusaha mengembalikan uang yang telah dikeluarkan sewaktu di lembaga pendidikan dengan cara apapun asal bisa balik cepat. Dan kecenderungan lembaga pendidikan yang dikomersialkan tsb akan berakibat pula pada sektor pemerataan pendidikan itu sendiri, masyarakat yang tidak mampu berpeluang tidak dapat menikmati pendidikan dengan mutu yang berkwalitas.
E-mail Pengirim: mustain@idola.net.id
Tanggal: 16 juli 2003
Nama: JJ AMSTRONG SEMBIRING, SH (PENGCRA FAMRED, FRONT AKSI MAHASISWA REFORMASI DAN DEMOKRASI)
Dari: JAKARTA / DKI JAKARTA
Saya: Pengamat LEMBAGA BANTUAN HUKUM REFORMASI DAN DEMOKRASI (LBHRD)
Aspirasi / Informasi:
BAGAIMANA PENDIDIKAN BUAT GENERASI "KAUM MUDA" DI NEGERI INI ?
Hal harus dicermati mengenai pendidikan tuk kaum muda di negeri ini, kelak terdistributif bagi kalangan / strata sosial manapun terutama termajinalkan seperti mahalnya pendidikan memaksa kaum marginal makin termarginalkan dalam struktur masyarakat karena tidak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan guna mengubah nasib menjadi lebih baik lagi. Gelandangan tetap menjadi gelandangan, anak jalanan tetap menjadi anak jalanan, anak putus sekolah semakin gigit jari mengalami kekalahan ekonominya.
Kita semua memang layak untuk bersyukur karena dalam Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen keempat disebutkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta dari Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Rasa optimisme kaum miskin mulai tumbuh, anak putus sekolah mulai bersemangat belajar lagi karena pemerintah mulai sadar untuk memperhatikan pendidikan.
Namun, ketika optimisme muncul, maka muncul pula pesimisme. Dalam keadaan pesimis kita semua bertanya, mampukah pemerintah merealisasikan amanat Undang-Undang Dasar dalam bidang pendidikan di tengah morat-maritnya perekonomian dan beban utang yang semakin tinggi.
Mampukah pemerintah untuk memberikan kesejahteraan yang layak dan memadai kepada "pahlawan pendidikan". Terlepas dari hal tersebut kita boleh sedikit bernapas lega karena di berbagai daerah terdengar pemberitaan seputar sekolah gratis, gaji guru dinaikkan. Namun, bagaimana dengan daerah yang minus. Menyingkapi keprihatinan tersebut, kita lantas berpikir bahwa hal ini hendaknya menjadi keprihatinan bersama. Menjadi keprihatinan bersama mereka yang memiliki komitmen dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Hal ini menjadi keharusan karena suka tidak suka, mau tidak mau eksistensi guru tidak dapat kita pandang sebelah mata.
Guru adalah tulang punggung pendidikan, ditangannyalah keberhasilan pendidikan dapat terwujud.
Mengomentari masalah layak tidaknya guru mengajar, tentunya ada banyak faktor yang menyebabkan layak tidaknya seorang guru tersebut mengajar. Faktor tersebut tidak hanya terletak pada guru semata, tetapi terletak juga pada semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.Faktor tersebut yang akhirnya menimbulkan suatu pertanyaan bagi kita semua, apakah kita dalam posisi sebagai pengambil keputusan telah berusaha maksimal dalam mengambil suatu kebijakan yang ditujukan bagi peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, atau apakah kita dalam posisi sebagai peserta didik telah berusaha maksimal dalam menyerap ilmu yang diberikan, atau apakah kita dalam posisi sebagai orang tua murid telah memberikan motivasi dan dukungan secara wajar dan tepat.
Pendidikan adalah proses yang menempatkan siswa sebagai pribadi yang utuh. Saat ini para siswa merasakan betapa materi pelajaran dalam sisitem pendidikan kita sampai overload. Hanya otak siswa saja yang dikembangkan dengan dijejeli berbagai materi yang teramat padat. Acara ke alam bebas, ke panti asuhan, ke masyarakat miskin, atau acara olah raga dan seni kini cenderung terabaikan. Akibatnya adalah sisi non-otak siswa kurang berkembang.
Saat ini kita sangat membutuhkan guru yang memiliki kematangan baik intelektual maupun emosional. Kematangan intelektual dan emosional tersebut dapat dilihat dari kemampuan bernalar dan bertutur yang telah terbentuk.
Sehingga tidaklah berlebihan apa yang dikatakan Paul Suparno bahwa bangsa Indonesia membutuhkan guru yang sungguh seorang pendidik dan dewasa, guru yang tahan emosi, yang seimbang, yang dapat memberi contoh sikap baik, guru yang mengerti perkembangan anak dengan segala persoalannya, guru yang kreatif, inovatif menguasai banyak metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan, situasi dan intelegensi anak didik.
Kortono juga menegaskan perlunya seorang guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memikirkan kembali, menghayati dan merenungkan pelajaran yang diperoleh, serta mencari dan menyelami makna dan nilai manusiawi yang penting bagi kehidupan diri dan sesamanya. Dengan ini, peserta didik akan menemukan nilai-nilai kehidupan tertentu yang akan dijadikan pegangan. Ironisnya, saat ini peserta didik tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan hal tersebut diatas. Seperti yang dikemukakan oleh Freire, pendidikan cenderung berjalan seperti sistem pendidikan gaya bank (banking education system).
Dalam sistem ini, peserta didik diberi materi sebanyak-banyaknya lewat proses menimbun informasi layaknya orang menabung di Bank, kemudian menagihnya kembali lewat ujian. Sistem hapalan yang tidak memancing kretifitas, analisis dan daya imajinasi serta kemampuan berpikir logis merupakan sesuatu yang harus ditolak jika kita tidak ingin dikatakan menganut sistem pendidikan gaya bank.Terlepas dari segala permasalahan yang dikemukakan di atas, maka momentum perayaan hari PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) haruslah kita jadikan sebagai langkah awal bagi terwujudnya profesionalitas guru.
Dengan memahami profesi guru sebagai profesi yang luhur (officium nobile) maka eksistensi wadah persatuan guru yang dahulu dijadikan simbol pergerakan politik harus dikembalikan kepada wadah perjuangan bagi peningkatan kualitas pendidikan yang menjadikan anggotanya sebagai guru yang profesional.
Dengan menjalani kehidupan sebagai guru yang profesional, maka sudah selayaknyalah, bangsa ini memberikan penghargaan secara material dan kultur kepada sang "pahlawan pendidikan". Dengan demikian, kita berharap bahwa tidak ada lagi guru yang gila hormat, gila kekuasaan, gila suatu jabatan tertentu, namun guru yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk memajukan pendidikan anak bangsa ke arah yang lebih baik lagi. Dalam titik inilah terwujud profesionalitas.
Akhirnya, peringatan hari PGRI kali ini hendaknya tidak merupakan seremonial belaka yang rutin dirayakan setiap tahun, melainkan merupakan saat yang tepat bagi kita semua untuk menyadari bahwa ungkapan "pahlawan tanpa tanda jasa" selayaknya diganti dengan ungkapan "pahlawan pendidikan" yang pantas memperoleh tanda jasa. Tanda jasa yang akan terus mengingatkan setiap guru akan eksistensinya sebagai pahlawan pendidikan.Berkurangnya subsidi pemerintah terhadap lembaga tinggi saat ini membuat semakin mahal. Bahkan, melambungnya biaya pendidikan juga dirasakan orangtua siswa dari mulai SD hingga SMU.
"Kami tidak bisa menutup mata bahwa saat ini terutama di kota-kota besar biaya pendidikan sudah sangat mahal. Setiap sekolah membuat aturan sendiri-sendiri untuk mendapatkan uang dari para siswanya. Anak saya tahun ini saja sudah menghabiskan sekitar dua juta hanya buat sumbangan-sumbangan yang tidak jelas untuk apa. Padahal, waktu pendaftaran kemarin kami juga sudah diminta sejuta lebih buat uang bangku".
"Kalau biaya pendidikan secara gamblang enggak bisa saya sebutkan karena setiap jenjang berbeda. Kami enggak kenal uang bulanan atau uang pangkal. Kami menyebutnya DPP atau Dana Pembangunan, dan SPP atau sumbangan pendidikan yang dibayar per tahun. Kalau sekolah umum kan lain, begitu masuk sekolah uang pembangunan atau uang gedungnya langsung dibayar sekaligus dari kelas satu sampai kelas VI. Dulu kami menganut sistem itu, tapi karena krisis ekonomi terlalu berat, dipecah menjadi per tahun. Kalau SD semua sama, SPP dan DPP-nya sekitar 9.500 dollar AS. Kami tidak pakai current rate tapi fix rate. Saat dollar sempat Rp 11.000 kurs kami Rp 7.500".
"Semenjak adanya otonomi kampus, kehidupan di kampus tidak bedanya seperti ladang bisnis. Pejabat-pejabat kampus mengubah kampus menjadi tempat untuk mengeruk uang. Bayangkan saja, uang kuliah melonjak secara drastis dan kampus tidak mau peduli dengan kondisi ekonomi mahasiswa sekarang. Kalau orang kaya masih bisa membayarnya, yang miskin sudah pasti tidak bisa. Padahal, kampus kan punya negara yang punya kewajiban menjamin hak semua warga negara untuk kuliah. Bagaimana mungkin saya bisa kuliah kalau uang kuliah yang ditetapkan kampus melampaui kemampuan orangtua saya. Belum lagi sumbangan-sumbangan wajib yang jumlahnya jutaan rupiah".
"Sekarang banyak orang mulai berpikir menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri. Ini pertanda mutu sekolah dalam negeri sudah tidak dipercaya lagi. Keinginan seperti ini wajar-wajar saja karena memang orientasi pendidikan yang berkualitas sudah menjadi hal mutlak di zaman serba canggih saat ini. Kalau mampu, soal biaya nomor dua, yang penting anak-anak kita mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Kalau mengharapkan pemerintah memperbaiki kualitas pendidikan nasional sampai kapan itu terwujud. Orang pemerintah bisanya cuma obyekin pendidikan untuk kepentingan pribadi mereka".
Kalau begini jadinya bagaimana hari depannya "masa depan" bagi kaum muda di negeri ini ? Wahai para birokrat-birokrat bijaksanalah anda, berilah harapan untuk kaum muda generasi penerus negeri ini untuk mengeyam pendidikan yang semurah-murahnya...
E-mail Pengirim: jjamstrong@yahoo.com
Tanggal: 16-07-2003
Nama: dwi Prasetya Budi
Dari: surakarta
Saya: Mahasiswa uns
Aspirasi / Informasi: jangan ada diskriminasi Nilai dan diskriminasi penyandang cacat di UNS
E-mail Pengirim: Pras_tia@plasa.com
Tanggal: 17 Juli 2003
Nama: jhony
Dari: yogya
Saya: Mahasiswa yogya
Aspirasi / Informasi: saya ingin menyelam tetapi saya tidak tahu bagaimana. dan saya ingin tahu kalau ada pengda di daerah saya bisa di berikan alamatnya. dan kalau ada sekolah untuk menyelam tolong di kirimkan informasinya kepada saya. sebelimnya saya ucapkan terima kasih
E-mail Pengirim: jhonywakiki@hotmail.com
Tanggal: 20 juli 2003
Nama: Dimas Puramika
Dari: Jakarta Timur
Saya: Wartawan Koran BERITA PENDIDIKAN
Aspirasi / Informasi: untuk semua siswa/i bahkan sekolah-sekolah yang ingin mengirimkan artikel dan berita bahkan liputan-liputan yang menyangkut mengenai dunia pendidikan demi majunya dunia pendidikan kita dapat mengirimkannya ke alamat : Jl. Raya Squadron No. 18 A, Makasar, Halim Perdana kusuma - Jakarta Timur 13570 Telp. (021) 808 76131/808 76127 atau via e-mail bu_pendidikan@yahoo.com - berita@pendidikan.zzn.com
E-mail Pengirim: bu_pendidikan@yahoo.com
Tanggal: 25 JULI 2003
LINK: AKTIVIS SUNNAH UNRI PEKANBARU-RIAU
Nama Pengirim: Abdurrohim
E-mail Pengirim: jantan_salafy@yahoo.com
Informasi: 25/juli/2003
Kami Mahasiswa Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru berupaya untuk mengikuti jejak generasi terbaik ummat ini yakni beramal dengan pemahaman para sahabat atau ahlus sunnah waljamaah (SALAFY).
Bermula dari ajang berkumpul kami disebuah kos-kos an, dimana kami semua terdiri dari Mahasiswa Universitas Riau, (UNRI) diberbagai fakultas (Perikanan,FKIP dan Ekonomi) . Disela perkumpulan itu kami mengisinya dengan mengundang seorang Ustad Yakni UST ABU SOFYAN AT-TSAURY (Ust Zulkarnaen Al-Bengkalisi) untuk dapat memberi kajian ke Islaman pada kami.Dan alhamdulillah pertemuan demi pertemuan kami jalani hingga ternyata kami tau bahwa pemahaman ke Islaman yang selama ini kami dapati sangat jauh dari yang sebenarnya (yakni jauh dari pemahaman para Salafussoleh (para sahabat), wa Subhanallah dengan sedikit keilmuan yang didapati selama itu, kami coba untuk terus menyebarkan dakwah ini di kampus perjuangan yang tercinta yakni UNRI, yakni dengan mengajak para Mahasiswa lain untuk dapat memburu "Ilmu Akhirat" ditengah sibuknya mengejar "Ilmu Dunia".
Tidak hanya itu usaha yang kami lakukan, tapi kami mencoba pula untuk dapat menyebarkan dakwah ini didunia maya (Internet) dan Alhamdulillah situs yang berada di hadapan antum inilah usaha yang dapat kami lakukan dengan harapan pada Allah Taala saja kami berharap agar amalan ini mendapar keridhaan-Nya.Dunia dan Akhirat. Amin.
Adapun yang manjadi tujuan kami untuk berdakwah dengan Sunnah dalam dunia maya ini, agar masyarakat pada umumnya dan mahasiswa khususnya, dapat memahami Aqidah yang benar dan mengamalkan Sunnah Rasulullah Saw dengan pemahaman yang murni yakni pemahaman para salafussoleh (para sahabat,Tabi'in dan Tabi'ut Tabiin serta imam mazhab yang Empat).
Semoga Allah meridhoi segala perbuatan yang kami lakukan. Dan semoga Manhaj yang Haq ini dapat tegak mengujam dan mengakar di bumi Allah serta dapat terus Eksis di Kampus kami yang tercinta UNIVERSITAS RIAU (UNRI).
" Selamat Berjuang Teman Moga Hari-Hari Indah Yang Kita Lewati Menjadi Lebih Bermakna Tuk Kejayaan SUNNAH Ini."
Situs dakwah Islamiyyah, yang berupaya meniti jejak generasi terbaik Islam, Rasulullah, Sahabat, Tabi'in, Tabiu't Tabi'in (Ahlusunnah/Salafus sholih) dan Pengikutnya yang shalih hingga akhir zaman.
Semoga bermafaat khususnya untuk teman-teman kampus di UNRI Pekan baru moga dakwah salafy ini dapat memberi gambaran nyata kebenaran ISLAM.
------------------------------------
Nama: Sasrita
Dari: jakarta
Saya: Mahasiswi stie
Aspirasi / Informasi: sebagai mahasiswa disekolah tinggi swasta mohon kiranya beban biaya pendidikan jangan terlalu mahal, apalagi bagi orang menengah ke bawah
E-mail Pengirim: gapilsa@boleh.com
Tanggal: 26 juli 2003
Nama: tatang
Dari: bandung/jabar
Saya: Mahasiswa pps upi
Aspirasi / Informasi: saya sedang melakukan penelitian untuk tesisi yang berjudul pendidikan dengan media internet. saya ingin meneliti tentang miskonsepsi siswa yang menggunakan materi fisika dari internet. saya merasa kesulitan untuk mencari web fisika dan bagaimana jika saya mendesain web materi fisika untuk di tempelkan di web ini .
E-mail Pengirim: ttatank@plasa.com
Tanggal: 28
Nama: Bambang Subaktyo
Dari: Jakarta
Saya: Konsultan bidang IT
Aspirasi / Informasi: Tujuan dari segala usaha kita selama ini adalah mencapai "Bangsa Negara Jaya di Masa Depan". Jaya di masa depan, bukan saat ini.
Apakah modal utama suatu bangsa/negara untuk bisa berjaya di masa depan!? Apa yang harus dilakukan? Apakah REFORMASI yang sudah dilakukan selama ini adalah inti utama pencapaian hal diata? Apakah mengganti presiden berkali-kali atau mengganti anggota DPR/MPR berkali-kali akan dapat mencapai hal itu!?
Bukan mengganti presidan atau anggota DPR/MPR yang bisa membawa kita menuju "Bangsa Negara Jaya di Masa Depan".
TETAPI . . . GENERASI PENERUS yang jempolan yang dapat membawa kita kepada KEJAYAAN di MASA DEPAN.
Nah bagaimana kita bisa menjadikan GENERASI PENERUS itu jempolan?
Tentu saja tidak mudah, terutama kalau sistem pendidikan yang dipakai adalah seperti saat ini, dimana orang miskin tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki mutu SDM mereka, dimana yang kaya dapat menguasai bangku-bangku sekolah tinggi walau otak mereka tidak sampai kesana.
Negara, harus merubah pelaksanaan sistem pendidikan, dimana semua anak mendapatkan kesempatan sama adilnya, tentu dengan pembebasan anak-anak itu dari keharusan membayar 'ONGKOS SEKOLAH' alias sekolah harus dibiayai oleh negara.
Kesempatan untuk generasi penerus ini mempersiapkan SDMnya harus dibuka seluas-luasnya, sama-rata, sama-rasa . . . jangan bikin aturan-aturan yang kemudian membedakan yang mampu dan yang tidak mampu, sekolah unggulan atau sekolah gubuk reyot.
Kalau Anda atau siapapun ingin 'Bangsa Negara Jaya di Masa Depan' silahkan mulai mengupayakan agar pemerintah merubah sudut pandangnya yang selalu picik selama ini, juga sudut pandang masyarakat yang mau untung sendiri, hanya memikirkan diri sendiri, yang penting anak gue bisa sekolah yang bagus, masa bodoh dengan anak-negeri yang lain.
Marilah berubah dan melakukan perubahan dalam sistem pendidikan kita.
E-mail Pengirim: subaktyo@yahoo.com
Tanggal: 29 Juli 2003
Nama: ERNES A. FALIKRES
Dari: SAUMLAKI, KAB. MALUKU TENGGARA BARAT. PROP. MALUKU
Saya: Guru SMK PERIKANAN DAN PERTANIAN
Aspirasi / Informasi: Menyangkut keabsahan guru SMK produktif dimana sekarang ini kurang diperhatikan karena tertumbuk dengan pemekaran dan otonomisasi wilayah/daerah dimana sekarang ini kebijakan langsung ditangani oleh daerahnya masing-masing yakni Bupati yang sebagai motor penggerak pendidikan segala kebijakan terakhir.
Dalam prakteknya pengembangan sekolah kejuruan berujung pangkal dengan potensi daerah yang dimiliki sehingga pola pendidikan dengan sendirinya akan berubah sesuai dengan program KBK yang dikumandangkan nantinya.
permasalahannya keabsahan guru produktif yang belum memiliki SIM (surat izin mengajar) Akta IV diperbincangankan.
Untuk itu saya menyarankan dan menggarisbawahi agar Departemen Pendidikan Pusat mau melihat masalah ini lebih jauh.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 31 JULI 2003
Nama: khoirun Nasichin
Dari: lumajang-jawatimur
Saya: Mahasiswa IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Aspirasi / Informasi:
Saya sangat berterima kasih, karena masih ada orang yang mau peduli dengan keadaan orang lain.
Dini saya berkomentar bahwa nasib guru sekarang sudah semakin memprihatinkan, sehingga dengan minimnya gaji guru, maka tidak jarang peserta didik banyak menjadi korban karena guru tersebut masih harus bingung mencari tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, yang lebih ironis adalah ketika semua institusi pendidikan menaikkan biaya pendidikan dengan dalih kemajuan, padahal kalau kita mengacu pada UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan maka seharusnyalah pemerintah dalam hal ini yang bertanggung jawab atas hal ini.
Oleh karena ini disina saya mohon kepada pem
erintah untuk segera mengambil langkah bagaimana sekiranya pendidikan yang ada dapat dirasakan oleh semua kalangan, sehingga indonesia ini bisa maju.dalam hal ini bukan saja guru yang tertindas akan tetapi justru rakyat kecil lebih tertindas karena mereka tidak mampu membayar mahalnya pendidikan, maka yang terjadi adalah semakin banyaknya anak usia sekolah harus terlantar dijalanan.
E-mail Pengirim: nash_1081@yahoo.com
Tanggal: 1 AGUSTUS 2003
[ Ke Halaman 15 - Klik Di Sini ]