08161490934 (hp)
Tanggal: 5 agustus 2003
Nama: Yulianus kuayo
Dari: Nabire/ Papua
Saya: Mahasiswa Universitas Pakuan Bogor
Aspirasi / Informasi: Dewasa ini, tidak heran jika orang ramai membicarakan masalah Pendidikan di Indonesia terutama Pihak Pemerintah, Lembaga swasta, para tokoh pedidikan dan pemerhati pendidikan indonesia. Jutaan dollar Dana pendidikan bancir di mana-mana, dari dalam maupun dari luar negeri. Apakah dengan jutaan dollar akan terjawab masalah pendidikan di Indonesia? Kata saya tidak, mengapa ? dari pengalaman kebijakan Pemerintah dalam hal ini pembangunan pendidikan secara fisik maupun materil kurang di rasakan oleh masyarakat golongan bawah yang menjadi sasaran utama dari dana-dana pendidikan tersebut.
contoh,
-Gedung-gedung sekolah tingkat SD yang ada di daerah pedalaman papua hinggga saat ini masih beratap Alang-alang.
- Fasilitas sekolah yang menjadi roda berjalannya pengajaran di sekolah tidak ada seperti : Buku-buku mata pelajaran baik untuk pegangan guru berdasarkan kurikulum tidak ada, dan yang menjadi pegangan mereka untuk mengajar adalag buku-buku ringkasan sejak dia masih di bangku sekolaj/Kuliah.
- Uang SPP semakin mahal.
- dan masih banyak persoalan yang di alami masyarakat golongan bawah khususnya terutama pedalaman papua yang sulit di jangkau dengan berbagai informasi dan komunikasi.
Solusi saya :
1. Dana-dana bantuan pendidikan dari luar negeri yang bancir sekian juta dollar itu alangkah baiknya digunakan untuk mengatasi masalah- masalah yang saya kekemukakan tadi, jangan dijadikan proyek oleh para pengelola atau para pengambil kebijakan dengan berbagai kegiatan yang tidak dapat mempengaruhi di dalam dunia pembangunan pendidikan di Indonesia yang menelan ratusan jutaan, seperti Pelayaran Kebangsaan Nasional yang diadakan tiap tahun oleh DIKTI.
2. Pihak pengambil kebijakan dalam hal ini Pemerintah, harus mempunyai sikap untuk dapat bekerja sama dengan berbagai pihak yang bergerak di bidang pendidikan terutama pihak-pihak yang kegiatannya langsung di nikmati oleh masyarakat golongan bawah terutama daerah-daerah pedalaman papua khususnya dan umumnya Indonesia.
Masih banyak Aspirasi ataupun solusi dari saya, namun pada kesempatan ini saya akhiri sampai disini dan kepada para pembaca saya ucapkan terimakasi.
Mabipai Kuayo
E-mail Pengirim: kuayo2002@yahoo.com ykuayo@infopapua.com
Tanggal: 06-08-2003
Nama: Asmaul Chusna
Dari: Sidoarjo-jatim
Saya: Mahasiswi UM sidoarjo
Aspirasi / Informasi: perhatikan nasib guru-guru swasta
E-mail Pengirim: Rahuly@plasa.com
Tanggal: 6 Agustus 2003
Nama: Yulianus kuayo
Dari: Nabire/ Papua
Saya: Mahasiswa Universitas Pakuan Bogor
Aspirasi / Informasi: Para pembaca yang saya hormati, perlu diketahui bahwa aspirasi saya ini adalah persolan- persoalan kecil yang di hadapi oleh masyarakat Indonesia yang berdominsili di daerah pedalaman papua namun sering dan selalu di lupakan oleh Pemerintah.
Aspirasi Saya adalah :
1. Gedung-gedung sekolah tingkat SD dengan beratap Daun alang-alang yang hingga sampai saat ini masih ada dan tersebar di wilayah pedalaman papua khususnya dan umumnya di Indonesia perlu di tangani serius oleh Pemerintah.
2. Fasilitas sekolah seperti buku-buku pelajaran, buku-buku bacaan dll ataupun buku pegangan guru yang menjadi roda berjalannya pengajaran di sekolah perlu di prioritaskan berdasarkan kerikurum yang berlaku, dan jangan dijadikan proyek oleh pihak pemerintah.
3. Bagi guru-guru yang sudah bertahun-tahun mengabdi di daerah pedalaman atau daerah terisolir di wilayah NKRI perlu di berikan perhatian khusus / diberikan penghargaan khusus oleh Pemerintah.
4. Kegiatan-kegiatan yang selama ini diadakan oleh pemerintah dalam hal ini Pendidikan Nasional yang menelan ratusan Jutaan seperti Pelayaran Kebangsaan Nasional yang diadakan tiap tahun oleh DIKTI alangkah baiknya di stopkan dan dana-dana tersebut di alihkan untuk pembangunan fisik dalam dunia pendidikan.
5. Pemerintah perlu mengambil sikap untuk dapat bekerja sama dengan berbagai elemen dalam pembangunan dunia pendidikan baik dalam pembangunan fisik ataupun pembangunan non fisik, terutama elemen-elemen yang selama ini betul-betul langsung mengabdi di masyarakat golongan bawah yang berdominsili di daerah pedalaman papua khususnya dan umumnya di Indonesia.
E-mail Pengirim: ykuayo@infopapua.com kuayo2002@yahoo.com
Tanggal: 06-08-2003
Nama: anick rahayu
Dari: samarinda
Saya: Siswi smu melati
Aspirasi / Informasi: lebih perhatikan murid2 dan mengganti metode belajar yang lebih baik
E-mail Pengirim: alnick_15012003@yahoo.com
Tanggal: 08 agustus 2003
Nama: Rusman Effendy
Dari: DKI Jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta Utara KGP
Aspirasi / Informasi: Fakta pahit yang ada -- Masyarakat lebih mengagumi kenangan para guru yang bertugas di Jaman Penjajahan Belanda sebelum Republik Indonesia berdiri.Pada saat itu katanya para guru ini setara dengan petugas pemerintahan yang lainnya baik dibidang kesejahteraan maupun appresiasi dari masyarakat.
Sekarang seperti tidak ada manusia Indonesia yang mampu mengangkat dunia pendidikan. Saran saya kita luruskan dari dasarnya. 1. Jangan jadikan guru orang-orang yang tidak punya kemampuan sebagai pendidik. 2. Harus realistik mengenai kebutuhan kesejahteraan tenaga pendidik. 3. Harus realistik mengenai anggaran pendidikan - harus disetarakan dengan kebutuhan pembangunan sektor-sektor lainnya.
Kalau saya menganggap bahwa sampai saat ini kita-kita sudah banyak yang kuwalat karena sangat meremehkan dunia pendidikan.
E-mail Pengirim: rusmane@centrin.net.id
Tanggal: 8/8/03
Nama: Bojong
Dari: Samarinda/KALTIM
Saya: Masyarakat Loa Bakung
Aspirasi / Informasi: Jika dilihat pendidikan sekarang sudah lebih baik dibanding masa lalu. Hanya saja masih ada oknum pengajar/guru yang moralnya tidak baik seperti memeras siswa untuk dibelikan HP, menggunakan uang yang bukan haknya (menunggak membayar buku yang sebenarnya mereka sudah dapat untung dari harga tersebut, malah harga dasarnya pun ikut di embat). Hal itu sebenarnya masih bisa dimaklumi karena Kadisdiknasnya pun moralnya sudah hancur, dimana untuk mendapatkan jabatan Kepsek pada sekolah Favorit harus bisa memberikan upeti yang lumayan besar. Dan itu tidak bisa diberantas dikarenakan ada hubungan saudara dengan Kepala bagian Kepegawaian daerah Tk.2.
Solusinya : Mendiknas harus punya suatu wadah untuk menampung keluhan dari masyarakat yang statusnya lebih tinggi dari KADISDIKNAS.
E-mail Pengirim: buana77@plasa.com
Tanggal: 10 Agustus 2003
Nama: Suwawan
Dari: Jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta
Aspirasi / Informasi: saya sangat bersedih sesedihnya mengapa dunia pendidikan saat ini begitu mahal dari tk hingga PT akankah kita di masa mendatang dijajah orang kaya yang dpt membeli pendidikan? Banyak pemimpin kita yang buta hati melihat kemiskinan rakyatnya
E-mail Pengirim: hegardinew@yahoo.uk.com
Tanggal: 11 Agustus2003
Nama: mirna
Dari: rantepao
Aspirasi / Informasi: oh ibu mega dimanakah sebenarnya pendidikan kita ini, kami mendambakan pendidikan yang berkualitas yang mampu bersaing dengan pendidikan dari luar negeri. kapan sih pendidikan kita ini akan meningkat?
E-mail Pengirim:
Tanggal: 14 agustus 2003
Nama: BARU "Gus BAR"
Dari: KEDIRI-JATIM
Saya: Masyarakat Kediri
Aspirasi / Informasi: Buat PEMERINTAH yg sedang berkuasa
PENDIDIKAN : pertanyaan saya Kenapa Pendidikan kita MAHAL SEKALI? Produk siapa ini? Pendidikan bukanlah hal yg harus dikomersiilkan, akan tetapi pendidikan adalah aset investasi bangsa yg harus nya mudah dijangkau, dan merata. Tidak seperti sekarang ini, Biaya mahal, bahkan ada yg bilang pendidikan dipakai untuk sarana Kampanye Partai (kejadian di JATENG). BU/Mbak MEGA yg terhormat : Ibu sebagai presiden harusnya mengutamakan pendidikan sebagai barometer aktivitas bangsa, itu bila mbak mega ngerti ttg pendidikan dan pentingnya pendidikan, Ingat hanya dengan rakyat yg cerdas maka bangsa akan maju dan makmur (itukan cita-2 anda mbak mega). .......
E-mail Pengirim: sti99155@stttelkom.ac.id
Tanggal: 22 Agustus 2003
Nama: Ruyatna
Dari: Banten
Saya: Mahasiswa Bogor
Aspirasi / Informasi: SAYA SANGAT MENYAYANGKAN JIKA SEBUAH INTITUSI PENDIDIKAN SAAT INI SANGAT MAHAL BIAYA UNTUK MENGENYAM PENDIDIDKAN BAGAIMANA DENGAN YANG TIDAK MAMPU
E-mail Pengirim: amanah_39@yahoo.com
Tanggal: 25 AGUSTUS 2003
Nama: Yeni Indiarti
Dari: Malang -Jawa Timur
Saya: Mahasiswi universitas gajayana Malang
Aspirasi / Informasi: Pendidikan yang saya rasakan saat ini adalah pendidikan yang berdasarkan memorisasi. jika tidak hapal apa yang dikatakan dosen maka kita alamat tidak lulus. hal ini sangat tidak baik bagi generasi masa depan. nantinya mahasiswa akan menjadi lulusan yang hanya bisa tunduk apa kata orang tanpa bisa berpikir dengan kritis. kenyataannya, adalah seperti itu saat ini. ironis sekali!
E-mail Pengirim: Indiarti@Eudoramail.com
Tanggal: 25 agustus 2003
Nama: rabiatul adawiah
Dari: sul-sel/makassar
Saya: Siswa SMU N 1 MKS
Aspirasi / Informasi:
1. menurut saya ada baiknya PEMDA dapat menanggulangi kemiskinan dan pengangguran, sebab itu adalah masalah yg mendasar bagi suatu kota/negara.
2. SAYA ADALAH SALAH SATU MURID SMU.N.1 MKS,SAYA BERHARAP DIMASA-MASA YANG AKAN DATANG NANTI SELURUH SEKOLAH TIDAK ADA IURAN-IURAN LAGI. SEBAB BANYAK ORANG INGIN SEKOLAH NAMUN TERKANDAS DIMASALAH KEUANGAN, SEMOGA ADA ORANG YANG MENDENGAR HARAPANKU INI. KARENA AKU TAK INGIN MELIHAT ANAK-ANAK INDONESIA DALAM KEBODOHAN.
E-mail Pengirim: whia_leo@yahoo.com
Tanggal: 28-AGUSTUS-2003
Nama: Zulfikar
Dari: makassar/SulSel
Saya: Mahasiswa Universitas Hasanuddin
Aspirasi / Informasi: Hello Birokrat Kampus
jalur kemitraan kenapa ada saya punya usul bgmn kalo kampus aja yang dijual kan kekurangan dana alasanya ato saya punya ide bgmn klo karya "ilmiahnya yang dijual kan lebih enak gitu
E-mail Pengirim: viqar02@yahoo.com
Tanggal: 31/09/03
Nama: Mukhlis
Dari: NAD
Saya: Staf Teknologi Karyamandiri
Aspirasi / Informasi: Seiring dengan kemajuan tekhnologi informasi di bidang komputer, mari dengan adanya ISP Karyamandiri pertama untuk daerah aceh utara yang dikelola langsung oleh putra-putra daerah setempat, untuk mengejar dan mengimbangi kemajuan teknologi di daerah lhokseumawe, ISP Karyamandiri adalah salah satu gerbang tuk menuju kedua informasi. Dari Aceh salam kenal buat seluruh forum pendidikan
E-mail Pengirim: mukhlis@karyamandiri.com
Tanggal: 02-09-2003
Nama: Muhajir Syamsu
Dari: Jakarta Barat / DKI Jakarta
Saya: Guru Yayasan Pendidikan Cengkareng
Aspirasi / Informasi: Dalam rangka meningkat kualitas Sumber daya manusia saya simpatisan PDI Perjuangan dengan mendukung penuh segala tindak tanduk Ibu Negara untuk kami sebagai kader PDI Perjuangan sudilah kiranya Ibu Negara Untuk Berkunjung Ke sekolah kami dalam rangka Memantapkan Pendidikan Nasional khusus disekolah kami ini dan kami sangat berharap untuk mohon dibalas agar mendapat perhatian dari Ibu Negara Nomor HP saya 01859428589 atau 5418110
Yayasan Pendidikan Cengkareng
SLTP - SMU - SMK Cengkareng 1 Jakarta Jl. Bambu Larangan Raya No.67 Kompleks Dinas Kebersihan DKI Jakarta Jakarta Barat
E-mail Pengirim: zulfikar_muhajir@yahoo.com
Tanggal: 04 September 2003
Nama: Pia
Dari: Tangerang
Saya: Guru Tangerang
Aspirasi / Informasi: Mohon maaf kalo saya disini tidak u/ memberikan informasi tetapi mencari informasi. Informasi yang ingin saya cari adl ttg kriteria kenaikan kelas. Walaupun Depdiknas sdh membuat juklak kenaikan kelas dengan adanya otonomi sekolah apakah sekolah diberi kebebasab pula u/ membuat kriteria kenaikan sendiri? Mohon bagi yang memahami masalah ini bisa kiranya membalas email saya ini. Thanks.
E-mail Pengirim: pia0283@yahoo.com
Tanggal: 5 September '03
Nama: JJ Amstrong Sembiring, SH
Dari: JAKARTA / DKI JAKARTA
Saya: Pengamat LEMBAGA BANTUAN HUKUM REFORMASI DAN DEMOKRASI (LBHRD)
Aspirasi / Informasi: BAGAIMANA PENDIDIKAN BUAT GENERASI "KAUM MUDA" DI NEGERI INI ?
Hal harus dicermati mengenai pendidikan tuk kaum muda di negeri ini, kelak terdistributif bagi kalangan / strata sosial manapun terutama termajinalkan seperti mahalnya pendidikan memaksa kaum marginal makin termarginalkan dalam struktur masyarakat karena tidak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan guna mengubah nasib menjadi lebih baik lagi. Gelandangan tetap menjadi gelandangan, anak jalanan tetap menjadi anak jalanan, anak putus sekolah semakin gigit jari mengalami kekalahan ekonominya.
Kita semua memang layak untuk bersyukur karena dalam Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen keempat disebutkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta dari Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Rasa optimisme kaum miskin mulai tumbuh, anak putus sekolah mulai bersemangat belajar lagi karena pemerintah mulai sadar untuk memperhatikan pendidikan.
Namun, ketika optimisme muncul, maka muncul pula pesimisme. Dalam keadaan pesimis kita semua bertanya, mampukah pemerintah merealisasikan amanat Undang-Undang Dasar dalam bidang pendidikan di tengah morat-maritnya perekonomian dan beban utang yang semakin tinggi.
Mampukah pemerintah untuk memberikan kesejahteraan yang layak dan memadai kepada "pahlawan pendidikan". Terlepas dari hal tersebut kita boleh sedikit bernapas lega karena di berbagai daerah terdengar pemberitaan seputar sekolah gratis, gaji guru dinaikkan. Namun, bagaimana dengan daerah yang minus. Menyingkapi keprihatinan tersebut, kita lantas berpikir bahwa hal ini hendaknya menjadi keprihatinan bersama. Menjadi keprihatinan bersama mereka yang memiliki komitmen dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Hal ini menjadi keharusan karena suka tidak suka, mau tidak mau eksistensi guru tidak dapat kita pandang sebelah mata.
Guru adalah tulang punggung pendidikan, ditangannyalah keberhasilan pendidikan dapat terwujud.
Mengomentari masalah layak tidaknya guru mengajar, tentunya ada banyak faktor yang menyebabkan layak tidaknya seorang guru tersebut mengajar. Faktor tersebut tidak hanya terletak pada guru semata, tetapi terletak juga pada semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan. Faktor tersebut yang akhirnya menimbulkan suatu pertanyaan bagi kita semua, apakah kita dalam posisi sebagai pengambil keputusan telah berusaha maksimal dalam mengambil suatu kebijakan yang ditujukan bagi peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru, atau apakah kita dalam posisi sebagai peserta didik telah berusaha maksimal dalam menyerap ilmu yang diberikan, atau apakah kita dalam posisi sebagai orang tua murid telah memberikan motivasi dan dukungan secara wajar dan tepat.
Pendidikan adalah proses yang menempatkan siswa sebagai pribadi yang utuh. Saat ini para siswa merasakan betapa materi pelajaran dalam sisitem pendidikan kita sampai overload. Hanya otak siswa saja yang dikembangkan dengan dijejeli berbagai materi yang teramat padat. Acara ke alam bebas, ke panti asuhan, ke masyarakat miskin, atau acara olah raga dan seni kini cenderung terabaikan. Akibatnya adalah sisi non-otak siswa kurang berkembang.
Saat ini kita sangat membutuhkan guru yang memiliki kematangan baik intelektual maupun emosional. Kematangan intelektual dan emosional tersebut dapat dilihat dari kemampuan bernalar dan bertutur yang telah terbentuk.
Sehingga tidaklah berlebihan apa yang dikatakan Paul Suparno bahwa bangsa Indonesia membutuhkan guru yang sungguh seorang pendidik dan dewasa, guru yang tahan emosi, yang seimbang, yang dapat memberi contoh sikap baik, guru yang mengerti perkembangan anak dengan segala persoalannya, guru yang kreatif, inovatif menguasai banyak metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan, situasi dan intelegensi anak didik.
Kortono juga menegaskan perlunya seorang guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memikirkan kembali, menghayati dan merenungkan pelajaran yang diperoleh, serta mencari dan menyelami makna dan nilai manusiawi yang penting bagi kehidupan diri dan sesamanya. Dengan ini, peserta didik akan menemukan nilai-nilai kehidupan tertentu yang akan dijadikan pegangan. Ironisnya, saat ini peserta didik tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan hal tersebut diatas. Seperti yang dikemukakan oleh Freire, pendidikan cenderung berjalan seperti sistem pendidikan gaya bank (banking education system).
Dalam sistem ini, peserta didik diberi materi sebanyak-banyaknya lewat proses menimbun informasi layaknya orang menabung di Bank, kemudian menagihnya kembali lewat ujian. Sistem hapalan yang tidak memancing kretifitas, analisis dan daya imajinasi serta kemampuan berpikir logis merupakan sesuatu yang harus ditolak jika kita tidak ingin dikatakan menganut sistem pendidikan gaya bank.Terlepas dari segala permasalahan yang dikemukakan di atas, maka momentum perayaan hari PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) haruslah kita jadikan sebagai langkah awal bagi terwujudnya profesionalitas guru.
Dengan memahami profesi guru sebagai profesi yang luhur (officium nobile) maka eksistensi wadah persatuan guru yang dahulu dijadikan simbol pergerakan politik harus dikembalikan kepada wadah perjuangan bagi peningkatan kualitas pendidikan yang menjadikan anggotanya sebagai guru yang profesional.
Dengan menjalani kehidupan sebagai guru yang profesional, maka sudah selayaknyalah, bangsa ini memberikan penghargaan secara material dan kultur kepada sang "pahlawan pendidikan". Dengan demikian, kita berharap bahwa tidak ada lagi guru yang gila hormat, gila kekuasaan, gila suatu jabatan tertentu, namun guru yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk memajukan pendidikan anak bangsa ke arah yang lebih baik lagi. Dalam titik inilah terwujud profesionalitas.
Akhirnya, peringatan hari PGRI kali ini hendaknya tidak merupakan seremonial belaka yang rutin dirayakan setiap tahun, melainkan merupakan saat yang tepat bagi kita semua untuk menyadari bahwa ungkapan "pahlawan tanpa tanda jasa" selayaknya diganti dengan ungkapan "pahlawan pendidikan" yang pantas memperoleh tanda jasa. Tanda jasa yang akan terus mengingatkan setiap guru akan eksistensinya sebagai pahlawan pendidikan.Berkurangnya subsidi pemerintah terhadap lembaga tinggi saat ini membuat semakin mahal. Bahkan, melambungnya biaya pendidikan juga dirasakan orangtua siswa dari mulai SD hingga SMU.
"Kami tidak bisa menutup mata bahwa saat ini terutama di kota-kota besar biaya pendidikan sudah sangat mahal. Setiap sekolah membuat aturan sendiri-sendiri untuk mendapatkan uang dari para siswanya. Anak saya tahun ini saja sudah menghabiskan sekitar dua juta hanya buat sumbangan-sumbangan yang tidak jelas untuk apa. Padahal, waktu pendaftaran kemarin kami juga sudah diminta sejuta lebih buat uang bangku".
"Kalau biaya pendidikan secara gamblang enggak bisa saya sebutkan karena setiap jenjang berbeda. Kami enggak kenal uang bulanan atau uang pangkal. Kami menyebutnya DPP atau Dana Pembangunan, dan SPP atau sumbangan pendidikan yang dibayar per tahun. Kalau sekolah umum kan lain, begitu masuk sekolah uang pembangunan atau uang gedungnya langsung dibayar sekaligus dari kelas satu sampai kelas VI. Dulu kami menganut sistem itu, tapi karena krisis ekonomi terlalu berat, dipecah menjadi per tahun. Kalau SD semua sama, SPP dan DPP-nya sekitar 9.500 dollar AS. Kami tidak pakai current rate tapi fix rate. Saat dollar sempat Rp 11.000 kurs kami Rp 7.500".
"Semenjak adanya otonomi kampus, kehidupan di kampus tidak bedanya seperti ladang bisnis. Pejabat-pejabat kampus mengubah kampus menjadi tempat untuk mengeruk uang. Bayangkan saja, uang kuliah melonjak secara drastis dan kampus tidak mau peduli dengan kondisi ekonomi mahasiswa sekarang. Kalau orang kaya masih bisa membayarnya, yang miskin sudah pasti tidak bisa. Padahal, kampus kan punya negara yang punya kewajiban menjamin hak semua warga negara untuk kuliah. Bagaimana mungkin saya bisa kuliah kalau uang kuliah yang ditetapkan kampus melampaui kemampuan orangtua saya. Belum lagi sumbangan-sumbangan wajib yang jumlahnya jutaan rupiah".
"Sekarang banyak orang mulai berpikir menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri. Ini pertanda mutu sekolah dalam negeri sudah tidak dipercaya lagi. Keinginan seperti ini wajar-wajar saja karena memang orientasi pendidikan yang berkualitas sudah menjadi hal mutlak di zaman serba canggih saat ini. Kalau mampu, soal biaya nomor dua, yang penting anak-anak kita mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Kalau mengharapkan pemerintah memperbaiki kualitas pendidikan nasional sampai kapan itu terwujud. Orang pemerintah bisanya cuma obyekin pendidikan untuk kepentingan pribadi mereka".
Kalau begini jadinya bagaimana hari depannya "masa depan" bagi kaum muda di negeri ini ? Wahai para birokrat-birokrat bijaksanalah anda, berilah harapan untuk kaum muda generasi penerus negeri ini untuk mengeyam pendidikan yang semurah-murahnya...
.............
E-mail Pengirim: jjamstrong@yahoo.com
Tanggal: 9-09-2003
[ Ke Halaman 16 - Klik Di Sini ]