SD & SLTPSekolah MenengahPerguruan TinggiPendidikan NetworkAspirasi KitaArtikel KitaBerita Kita

 
Pendidikan Network Homepage
Aspirasi: "n harapan dan tujuan untuk keberhasilan pd masa yg akan datang"
(Ref. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas, 2001, P 72)

Membaca Aspirasi Aspirasi Kita 20 (Index)
Ke Halaman 18, 19, 20, 21, 22
Menulis Aspirasi Anda



Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut
(Halaman 20)

Nama: yahya
Dari: jepara
Saya: Mahasiswa undip
Aspirasi / Informasi: buktikan bahwa sdm indonesia meningkat.
E-mail Pengirim: yeniyahyahasanas@yahoo.com
Tanggal: 5 agustus 2004


Nama: yulianus nawipa
Dari: papua paniay
Saya: Mahasiswa yogya
Aspirasi / Informasi: saya generasi mudah papua kini menekuni study yogya dan tempat kuliah nya bagian teknik mesin lalu saya akan aspirasikan kepada paihak pihak berwenang penuh untuk memberikan beasiswa bagi stata apakah sudah progrem ?

kami bagian bidan langka seperti teknik mesin, elektro, geology, inpromatika, dll segera kebiakan dari propensi papua bila ada kata sdm ada.
E-mail Pengirim: nawipa_n@yahoo.com
Tanggal: 8/8/2004


Nama: nawipaimo
Dari: yogya
Saya: Wartawan
Aspirasi / Informasi: aspirasi dari kami mahasiswa teknik mesin bahwa pemerintah pusat mohon pedayakakan bagian pendidikan teknik karena kami mengira sangat penting bagi demi massa depan kaita
E-mail Pengirim: nusnawipa2003@yahoo.com
Tanggal: 8/8/2004


Nama: Maurish Ellen
Dari: jatim
Saya: Siswi Jatim
Aspirasi / Informasi: Jaman mulai berubah. Dengan atau tanpa kita sadari, 58 tahun sudah bangsa kita mengenyam indahnya kemerdekaan. Bangsa kitapun mulai berkembang sejak saat para proklamator bangsa memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Seiring dengan bertumbuhnya bangsa, kecerdasan para warga Indonesiapun mulai meningkat. Sekarang sebagian orang sudah begitu "jenius" dalam memperkaya diri, bahkan sektor seperti edukasi pun dapat dimanfaatkan sebagai lahan berbisnis. Edukasi yang seharusnya menjadi faktor penting kemajuan bangsa Indonesia, disalah gunakan menjadi faktor pendukung kemajuan ekonomi pribadi.

Kami yang semula hanya menyaksikan kisah penyalah gunaan uang negara di media massa mulanya merasa aman karena jauh dari semua kisah itu. Namun sejak hari ini, mata kami mulai terbuka. Bahkan sebuah sekolah di kota kecil yang tenang dan damai tempat kami menuntut ilmu tidak terlepas dari resiko terlibat dalam kasus korupsi.

Memang benar, kepribadian seseorang tak bisa ditentukan dari penampilan luar. Seorang kepala sekolah yang stylist, parlente, wangi seperti baru mandi kembang dan tampak taat beribadah ternyata menyimpan kotoran di dalam jiwanya yang tak sekedar bisa dibersihkan dengan deterjen terampuh yang pernah ada dimuka bumi. Tak tanggung-tanggung, dari sekolah yang tidak bisa dibilang mewah, sang kepala sekolah bisa menarik keuntungan sebesar Rp 200 jt. WOW! Andaikan bapak itu bisa menjadi presiden negara ini, pasti membantu kita menjadi negara dengan peringkat korupsi nomor satu di dunia. Mulai dari dana yang disumbangkan oleh lebih dari 800 siswa untuk menunjang pembangunan sarana dan prasarana sekolah, uang Bp3 yang berubah fungsi menjadi anggaran cicilan mobil pribadi, sampai tabungan rutin para siswa kelas tiga yang rencananya akan digunakan untuk biaya UAN dan rekreasi ahir tahun pelajaran, semuanya lenyap tanpa sisa lewat tangan bapak yang telah bergelar Msi tersebut.

Kisah korupsi sang kepala sekolah yang berhati mulia itu tidak berakhir sampai disini. Belakangan diketahui bahwa sang kepala sekolah ternyata juga mengembat uang beasiswa yang rencananya diberikan pada ratusan siswa tidak mampu. Mereka yang harusnya berhak menerima bantuan pemerintah sejak Maret 2004 lalu tak tahu apa-apa sampai kasus itu terungkap. Bayangkan betapa dermawan kepala sekolah tela... itu (mungkin beliau tidak ingin ketinggalan trend korupsi yang belakangan ini nge-top di Indonesia)! Disaat ratusan wali murid berjuang keras mengusahakan pendidikan bagi putra-putrinya, koruptor itu dengan tenangnya memasukkan recehan kurang lebih sebesar Rp 20 jt ke dalam kantongnya.

Hari ini, saat tulisan ini kami kirim, dengan jelas masih dapat kami lihat kepala sekolah yang bijak itu melenggang di koridor sekolah dengan senyum innocent di wajahnya. Mungkin dia merasa tenang setelah mengembalikan 2% dari seluruh uang yang telah dilahapnya. Entah sampai kapan kami akan terus melihat wajah tanpa dosa-nya. Yang jelas, sampai hari ini, kami belum menyaksikan tindak lanjut pihak yang berwenang.

kemarin (2 Mei 2004) adalah HARI PENDIDIKAN NASIONAL. Namun, kami ragu, apakah Ki Hajar Dewantara akan tersenyum bangga menyaksikan semua ini. Pendidikan yang telah diperjuangkannya mati-matian kini dianggap tidak sepenting materi. Fakta diatas hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti hancurnya pendidikan di Indonesia. Tapi kami masih beruntung tidak mengalami nasib seperti teman-teman kami yang sekolahnya digusur, atau tertimpa atap sekolah yang sudah rapuh.

Sekarang, yang kami herankan adalah, mengapa kemarin kami masih harus berdiri dalam sebuah upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional? Padahal kami tak pernah tahu apa gunanya peringatan tersebut dalam kehidupan yang sudah menyepelekan makna penting pendidikan. Mungkinkah masih ada orang yang bisa memberitahu jawaban atas pertanyaan kami?

Dari : Siswa kelas dua SMP yang merasa trenyuh menyaksikan perkembangan pendidikan Indonesia.
E-mail Pengirim: iam_survivor79@yahoo.com
Tanggal: 8-8-2004


Nama: rinto
Dari: bogor
Saya: Mahasiswa bandung
Silakan mengirim lagi - dengan kontak e-mail !!!
Tanggal: 9 agustus 2004


Nama: rachma
Dari: kendari/sultra
Saya: Mahasiswi yogya
Aspirasi / Informasi: untuk mencapai mutu pendidikan di Indonesia dibutuhkan: - kesadaran pemerintah untuk memberikan subsidi pendidikan yang tinggi; gaji para pengajar dinaikkan sehingga tidak ada istilah "nyambi" diluar; fasilitas pendidikan dipenuhi sesuai kebutuhan; target dari pemerintah untuk menyekolahkan anak bangsa keluar negeri setiap tahun. Dengan begitu maka persaingan akan terbuka untuk memperoleh pendidikan yang nantinya akan menjadi akar bagi penerus bangsa kedepan.
E-mail Pengirim: rachma_w4ti@yahoo.com
Tanggal: 9/8/2004


Nama: Hadi surya
Dari: banda aceh
Saya: Mahasiswa Unsyiah
Aspirasi / Informasi: Saya harap kepada mentri pendidikan tolong pikirkan masalah biaya pendidikan di NAD karna keamanan yang belum kondusif jadi perekonomian orang tua kami di daerah-daerah masih keterbelakangan. mohon bapak perhatikan secara serius.
E-mail Pengirim: adhiyasu@pendidikan.zzn.com
Tanggal: 12 Agustus 2004


Nama: Bambang
Dari: Mataram
Saya: Masyarakat
Aspirasi / Informasi: Saya perhatikan Bangsa ini mau dibawa kemana Pendidikan kita, coba dak usah mencetak siswa yang berprestasi tapi tidak berbudi. Banyak orang pintar dan berprestasi tetapi pintar berprestasi mengakali orang-orang kecil.
Tidak ada lagi lagu "Oh Ibu dan Ayah selamat pagi ku pergi .... .
agar menjadi murid yang "BUDIMAN"
(Berbudi dan Beriman), lagu tersebut telah berubah menjadi "murid yang berprestasi"
Mengapa berprestasi, untuk apa berprestasi tapi tak berbudi
E-mail Pengirim: ganas04@yahoo.com
Tanggal: 13 Agustus 2004


Nama: NITA KUSUMA NINGRUM
Dari: YOGYAKARTA
Saya: Mahasiswi UGM
Aspirasi / Informasi: Saya mohon kebijaksanaannya untuk menurunkan ongkos sekolah,karena banyak anak yang putus sekolah krn masalah ekonomi keluarga & banyak pengangguran sehingga banyak terjadi kriminalitas terima kasih
E-mail Pengirim:
Tanggal: 13 AGUSTUS 2004


Nama: PUTRI MEGA FATMAWATI
Dari: DEPOK / JAKARTA
Saya: Mahasiswi UI
Aspirasi / Informasi: SAYA MINTA DENGAN SANGAT AGAR ANDA SEGERA MENINDAK LANJUTI TENTANG BIAYA PENDIDIKAN YANG SANGAT MAHAL SAAT INI KARENA SAYA MERASA KASIHAN KEPADA ORANG NGGAK MAMPU. MOHON ASPIRASI SAYA INI DIPERHITUNGKAN DENGAN SANGAT! DAN SEHARUSNYA GAJI ANDA ITU SEBAIKNYA DISUMBANGKAN UNTUK ORANG YANG TAK MAMPU!!!OKKKKKKKKKKKK!!
E-mail Pengirim:

Aspirasi ini sangat menarik, sayang tidak ada alamat e-mail!

Kalau maksudnya, gaji saya sendiri - wah tidak dapat membantu siapapun! Semuanya di Pendidikan Network dikerjakan secara gratis. Kalau maksudnya, meminta dari gaji para langganan dan pembaca website ini, mengapa harus meminta uang dari orang yang barangkali telah bekerja keras dan berjuang untuk keluargnya secara halal. Berpikirlah lebih jernih, mengapa kita jadi begini?

Mengapa pendidikan jadi mahal untuk masyarakat? KORUPSI-kah penyebabnya? Kekayaan negara ini yang seharusnya dipakai untuk menyiapkan masyarakat untuk masa depan kelihatnya bocor (lebih dari 30%) - ke mana ya? Kepedulian pemerintah terhadap pendidikan sangat rendah, terlihat dari anggaran negara untuk pendidikan (dibawah 5% - sebenarnya), dibanding Malaysia 25% dan Thailand 30%. Kayaknya pemerintah kita sadar bahwa kalau masyarakat sudah berpendidikan dengan baik mereka tidak mungkin dipilih lagi. Apakah, ini pola pikir yang dipakai pemerintah kita untuk mempertahankan dirinya (kekuasaanya)?

Apakah anda betul-betul peduli mengenai "ORANG NGGAK MAMPU", dan peduli masa depan negara ini? Mengapa kita tidak berjuang secara berani untuk memberantas korupsi daripada meminta sumbangan saja. Kapan negara kita akan maju kalau solusinya selalu hanya meminta dan kapan kita mau berusaha untuk memperbaiki negara kita kalau tidak dari sekarang dan dimulai dari anda, saya dan kita semua?

Besok tanggal 17 Agustus adalah Hari Kemerdekaan kita, momentum yang sangat tepat kapan kita akan merdeka dari korupsi yang sudah terkenal di dunia dan ternyata jauh lebih berbahaya daripada AIDS, karena merusak moral bangsa dan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Memang masa depan negara dan pendidikan masyarakat hanya dapat ditingkatkan kalau masyarakat sendiri secara berani memaksakan tanggungjawab pemerintah pada bidang pendidikan ini. Seperti kemerdekaan negara kita dari pejajahan Belanda, tentu tidak akan dikasih begitu saja, kita harus berjuang dan melawan orang-orang yang mencuri masa depan negara kita dalam bentuk pendidikan bermutu untuk semua bangsa.
Selamat berjuang, Webmaster


Mengirim Saran Anda Mengenai Topic Ini

Tanggal: 13 AGUSTUS 2004


Nama: Mohammad Wantoro
Dari: Bantul,DIY
Saya: Guru SMP3 Imogiri Bantul
Aspirasi / Informasi: Sekolah kami mendapatkan blok grang senilai 30 juta tapi penggunaanya harus sesuai dengan arahan konsultan misal harus menyelenggarakan diklat model-model pembelajaran yang menelan biaya 13 juta, padahal usulan kami diklat KBK yang sangat diperlukan dalam menunjang kurikulum 2004. Juga usulan pembelian computer yang diajukan ditolak konsultan padahal kami sangat memerlukan sedangkan disekolah hanya ada 2 unit komputer itupun untuk administrasi. Kalau semua harus sesuai dengan kehendak konsultan buat apa dikasih blok grand yang kalau dihitung-hitung hanya mempertebal kantong konsultan ? harap diperhatikan bagi bapak-ibu pemegang kebijakan.
E-mail Pengirim: m.wantoro@plasa,com
Tanggal: 16 Agustus 2004


Nama: Edwin Indranaya
Dari: Jakarta
Saya: Staf Teknologi Jakarta
Aspirasi / Informasi:
APAKAH ASPIRASI INI DI BACA?
APAKAH FEED BACKNYA?
APAKAH ANDA PEDULI?
APAKAH BIAYA PENDIDIKAN MURAH?
APAKAH ANDA TIDAK KORUPSI?
APAKAH INDONESIA AKAN MAJU?
APAKAH HUTANG INDONESIA LUNAS?
APAKAH PENGANGGURAN BERKURANG?
DAN APAKAH Aspirasi: "n harapan dan tujuan untuk keberhasilan pd masa yg akan datang"?
WALLAHU'ALAM
E-mail Pengirim: edwin_indranaya@yahoo.com

Wah, ini bukan aspirasi, ini pertanyaan dan ada form khursus untuk pertanyaan. Tetapi karena anda sudah bertanya dan kami ingin transparen, saya akan menjawab.

APAKAH ASPIRASI INI DI BACA?
Website Aspirasi.US ini sudah "6716" hits bulan ini (Agustus) dan sekarang baru 17 Agustus.

APAKAH FEED BACKNYA?
Kadang-kadang saya akan memberi feedback kalau saya merasa perlu input dari saya. Tetapi, feedback yang paling penting yaitu dari langganan kami dan orang-orang di lapangan yang peduli pendidikan.

APAKAH ANDA PEDULI?
Wah, anda menilai sendiri. Setiap tahun saya menghabiskan ribuan dollar dari kantong saya sendiri dan sudah berjuang dengan website-website (24 khursus pendidikan Indonesia) selama enam tahun. Terus terang, isteri saya kadang-kadang merasa saya "stupid" karena saya sering bekerja dari jam 6 pagi, sampai jam 1 pagi tanpa menghasilkan uang. Saya percaya bahwa ada cukup orang di lapangan yang jujur atau ingin jujur dan peduli pendidikan dan kalau kita menjadi kompak dan bejuang bersama kita akan mempercepat proses perubahan. Saya merasa puas kalau ada hasilnya, meskipun tidak dapat dinilai dengan materi.

APAKAH BIAYA PENDIDIKAN MURAH?
Ini memang topik diskusi minggu ini.
Jawaban tersingkat begini:
Kalau anda sudah langganan Pendidikan Network anda tahu bahwa saya berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan pendidik. Jadi pendidikan bermutu seharusnya lebih mahal lagi. Di Indonesia harga pendidikan masih termasuk murah dibanding dengan negara lain. Tetapi, karena kesejahteraan masyarakat sudah rendah sekali dan bagian anggaran dari pemerintah untuk pendidikan sangat rendah sehingga pendidikan memang sudah mahal buat kebanyakan masyarakatnya!

Masalahnya begini. Pemerintah sudah membuat pendidikan wajib 9 tahun, tetapi mereka tidak membuat pendidikan 9 tahun itu gratis. Mengapa? Karena alokasi anggaran untuk pendidikan sangat kecil walapun pendidikan yang bermutu adalah hak semua masyarakat di Indonesia, Ini negara kaya. Jadi kita harus bertanya kepada pemerintah "ke mana uangnya". Kami semua tahu mengenai korupsinya, kapan kita mau membuat pemerintah bertanggungjawab?

APAKAH ANDA TIDAK KORUPSI?
Maaf, tetapi saya tidak anggap uang begitu penting sampai menjual roh saya.

APAKAH INDONESIA AKAN MAJU?
Pasti Indonesia akan maju. Pertanyaan yang penting adalah kapan? Selama masyarakat masih mau menghormati orang-orang yang koruptor dan ikut berbuat seperti mereka, tentu kita tidak akan maju. Menghormati dan melayani koruptor selain berdosa tentunya menghianati negara kita.

APAKAH HUTANG INDONESIA LUNAS?
Mengambil uang-uang dari koruptor - beres!
Tetapi, kelihatannya hukum Indonesia menjaga dan menyelamatkan mereka yang rakus. Tetapi, misalnya tukang becak yang mencuri Rp.100.000 karena lapar pasti akan langsung masuk penjara (kalau tidak dibakar masa). Kasus-kasus koruptor yang dilepaskan terus memang memalukan hukum negara dan bangsa negara kita. Mengapa bangsa harus malu? - siswa-siswi yang berani mem-protest tidak didukung oleh masyarakat.

Kalau kita mulai peduli mengenai negara dan masyarakat, kita akan fokus kepada kesempatan negara ini untuk menghasikan uang, daripada mengimport barang dari luar negeri yang semestinya kita dapat produksi sendiri, misalnya mobil. Kebijakan pemerintah kita sekarang hanya menguntung negara lain dan orang-orang tertentu yang dapat mengimportnya.

APAKAH PENGANGGURAN BERKURANG?
Kuncinya adalah membuat industri. Salah satu masalah dari korupsi adalah uang yang dicuri tidak dipakai untuk investasi di dalam negeri. Tetapi, kebanyakan dipakai untuk membeli rumah mewah buat sendiri dan simpanan-simpanannya, tanah, hotel, shopping plaza, mobil mewah, memasukan uang ke bank di dalam dan di luar negeri yang sangat tidak membantu perkembangan negara kita.

DAN APAKAH Aspirasi: "n harapan dan tujuan untuk keberhasilan pd masa yg akan datang"?
Kalau anda ingin kehidupan anda lebih baik besok daripada sekarang, keinganan itu namanya ASPIRASI.

Maaf, ini Hari Kemerdekaan Indonesia dan saya juga wajib membantu dengan kegiatannya dan saya harus pergi sebentar lagi. Maaf kalau ada yang kurang, tetapi ini hanya jawaban tersingkat saja.
Salam hormat, Webmaster

Tanggal: 16/17 Agustus 2004


Nama: Y A N T O
Dari: MALANG - JAWA TIMUR
Saya: Mahasiswa FE UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Aspirasi / Informasi: BANGSA, PARASIT DAN DISFUNGSI DEMOKRASI
Oleh: Yanto
Dibalik sukacita merayakan hari kemerdekaan bangsa ini, ternyata masalah- masalah besar masih mengintai keseharian kehidupan kita. Persoalan konstitusi yang belum selesai, hingga problem korupsi teramat mengganggu. Melihat pesimisme masyarakat terhadap keadilan hukum, nampaknya, koreksi dan pembaruan dibidang hukum akan berjalan lambat. Padahal, konstitusi yang kokoh akan menjamin kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan jauh lebih baik lagi. Ketidakpahaman ini menyebabkan demokrasi mengalami gangguan. Demokrasi menjadi tidak semanis kembang gula. Malahan menyuburkan korupsi. Inilah yang disebut sebagai disfungsi demokrasi.

Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia terbitan Media Center disfungsi diartikan sebagai hal atau keadaan tidak berfungsinya sesuatu secara wajar. Cita-cita luhur universal demokrasi adalah memberikan ruang kebebasan bagi setiap manusia untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaannya itu sendiri. Melihat kekacauan -dalam pengertian berjalannya sistem negara- maka menurut beberapa penelitian, Indonesia memang rentan mengalami gangguan atau distorsi. Dalam sebuah masyarakat majemuk, demokrasi dan nasionalisme memang sering menjadi sebuah dilema. Tuntutan-tuntutan demokratissai yang idealnya memperkuat nasionalisme, realitasnya juga memunculkan konflik-koflik etnis yang bisa membahayakan demokratisasi itu sendiri, yang bukan tidak mungkin lalu atas nama negara kebangsaan malah melahirkan pemerintahan otoriter baik sipil atau militer (Larry Diamond & Marc F.Platner, terjemahan "nasionalisme, konflik etnis dan demokrasi, ITB Press,1998)

Seorang Mohamad Hatta lebih dari setengah abad yang lalu mengatakan, korupsi ini adalah penyakit sosial yang membudaya ditengah kehidupan masyarakat Indonesia. Merujuk A. Mukti Fadjar sebagaimana penelitian Donald L. Horowitz mengenai demokrasi pada masyarakat majemukmenunjukkan bahwa demokrasi dan demokratisasi dapat mengalami kegagalan karena berbagai alasan seperti perlawanan dari kaum sipil atau militer yang terserobot , tiadanya kondisi sosial atau budaya kondusif, lembaga yang dirancang secara tidak tepat, dan pada banyak negara di Afrika, Asia, dan Eropa Timur adalah konflik etnis.

Kemudian tidak terlalu salah kiranya jika pada perayaan kemerdekaan di bulan Agustus ini kita instropeksi diri. Ternyata lebih tepat jika bangsa ini masih disebut sebagai bangsa parasit. Masyarakat masih terlalu mudah diadu domba hingga melahirkan kerusuhan. Sikap kita masih sering mencurigai keberadaan kelompok masyarakat yang lain. Bahkan, kita tidak ambil peduli ketika gelombang ribuan pengungsi yang harus meninggalkan tempat hidupnya karena konflik.

Pelaksanaan pemilu 2004 yang dilangsungkan secara aman dan relatif lebih baik daripada pemilu masa lampau belum memberikan arti apa-apa jika tidak diikuti dengan kemauan mengkoreksi tatanan hukum nasional. Menarik sekali mencermati apa yang dikatakan oleh Satjito Rahardjo (1990-1), bahwa Negara Republik Indonesia yang berdasarkan atas hukum (NBHI) adalah suatu bangunan yang belum selesai disusun dan masih dalam proses pembentukannya yang intensif". Pertanyaannya adalah beranikah para anggota DPR beserta DPD yang terpilih merumuskan tatanan baru yang lebih kondusif?

Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Demokrasi dinegara ini masih teramat rapuh. Ketamakan politisi sipil telah mengalihkan fungsi legilatif dari yang sepatutnya. Pembahasan undang-undang dan sebagainya tidak mencerminkan adanya perubahan mendasar. Sehingga kasus-kasus kudeta terselubung terhadap demokrasi mudah saja terjadi. Coba lihat kasus impor gula. Ternyata dibalik regulasi atau kebijakan yang seakan-akan memihak pada rakyat, penguasa negara sendiri yang melakukan kejahatan. Belum lagi kasus pemanfaatan aparatur hukum sebagai bidak-bidak catur politik untuk melanggengkan kekuasaan. Aparat negara negara yang berselingkuh dengan kepentingan politik tentunya karena mendapat imbal suap.

Dorongan untuk menegakkan demokrasi dan civil society ini harus dimulai dari gerakan yang sungguh-sungguh untuk memerangi korupsi maupun suap. Lembaga pemerintah anti korupsi tidak bisa berjalan dengan keterbatasannya yang disebabkan dibawah subordinasi kekukasaan. Negara ini harus benar-benar mebentuk tim yang independen untuk memberantas korupsi. Bahkan kalau perlu memeriksa seorang presidenpun bukannya sebatas pada Gubernur ataupun pembantu presiden saja. Termasuk kepala kepolisian.

Kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman negara lain yang secara serius melakukan hal ini. Contohnya badan anti korupsi yang terkemuka dinegara-negara berkembang yaitu ICAC (independent Commision Againts Corruption ) di Hongkong. Dalam buku "Membasmi korupsi " karya Robert Klitgaard (2001:130) dapat ditelusuri mengapa dan bagaimana ICAC didirikan, dan bagaimana ICAC mencapai sukses dalam membersihkan korupsi dijajaran kepolisian Hongkong. Sebagaimana di Indonesia, banyak orang Hongkong yakin bahwa korupsi itu berurat -akar dalam kebudayaan Cina di Hongkong. Ada yang menarik kesimpulan fatalistik, dengan mengatakan bahwa usaha-usaha untuk mengurangi krupsi itu akan sia-sia. Kaum pesimistik dapat dengan mudah mengutip berbagai catatan kegagalan kampanye anti korupsi di masalalu.

Namun pada tahun 1971 pemerintah Hongkong meloloskan sebuah undang-undang pencegahan suap yang brilian. Undang-undang itu memperluas kategori-kategori pelanggaran. Bagi mereka yang dicurigai, kekayaan pribadinya melampaui pendapatan, atau yang menikmati tingkat hidup diluar apa yang dimungkinkan oleh penghasilan, beban pembuktiannya beralih: mereka harus bisa membuktikan diri tidak bersalah. "Dalam setiap tuntutan terhadap seorang karena pelanggaran menurut undang-undang ini, beban memberikan pembelaan yang sah atau dalih yang dapat diterima terletak dipihak tertuduh."(2001:139) Pendek kata ini merupakan pembalikkan dari asas praduga tak bersalah yang lazim digunakan seperti di Indonesia. Mampukah kita menata hukum kita demikian? Jawabannya mungkin menunggu perayaan hari kemerdekaan yanhg ke-100.
Penulis: Yanto
Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang
E-mail Pengirim: yanto_sagu@yahoo.com
Tanggal: 17 AGUSTUS 2004


Nama: P. Sukoco Irianto
Dari: Singkawang - Kalimantan Barat
Saya: Guru Singkawang
Aspirasi / Informasi: Terkadang kami ingin menangis sejadi-jadinya, jika mencermati biaya pendidikan dewasa ini. Banyak teman-teman mengeluhkan tingginya biaya masuk, sementara mutu pelayanan sekolah masih jauh dari memuaskan. Mungkinkah, jika Ibu Mega terpilih lagi menjadi Presiden 2004-2009 mengupayakan agar dalam penyusunan RAPBN memprioritaskan bidang pendidikan? Sebab, kecerdasan bangsa ini sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan. ....
E-mail Pengirim:
Tanggal: 18 Agustus 2004


Nama: wardani lubis
Dari: medan/sumut
Saya: Masyarakat medan
Aspirasi / Informasi: saya harap guru-guru dinegara ini lebih meningkatkan kualitas pendidikan siswa, terutamanya pendidikan moral bagi siswa/i dibangku sekolah. ini sangat berguna melihat kondisi negara kita yang tak stabil.

Kapan masyarakat negara kita mau mulai mencontohkan moral yang baik supaya anak kita melihat yang maksudnya "moral"
Kita tidak dapat berhasil mengajar supaya anak kita "moral" kalau lingkungan masih mau melayani koruptor.
Salam hormat, Webmaster

E-mail Pengirim: beyonce_loebis@hotmail.com
Tanggal: 19/08/2004


Nama: Badarsyam
Dari: Bandung
Saya: Masyarakat Bandung
Aspirasi / Informasi: Ketika "musim" kampanye sedang marak, sektor pendidikan paling banyak disorot. Pemerataanlah, biaya murahlah, penambahan fasuilitas dan lain-lain.

Setelah musim itu berlalu dan ketika orang-orang yang cuap-cuap itu jadi dapat kursi, lupa terhadap janjinya, padahal belum seumur jagung. Yang jelas biaya pendidikan makin mahal, buku-buku makin tak terjangkau. dan cilakanya lagi dana pendidikan di RAPBN yang diajukan Nyonya Megawati CUMA 6 % dari keseluruhan anggaran jauh dari ketentuan yang seharusnya 20 %, Jadi janji kampanye itu hanya omong kosong saja. MERDEKA!!
E-mail Pengirim: Badarsyam@Yahoo.Com
Tanggal: 19 Agustus 2004


Nama: Ella
Dari: bojonegoro
Saya: Wartawan jakarta
Aspirasi / Informasi: Kepada pengamat Di Jakarta
Kalau dapat Dinas pendidikan di kembalikan ke pusat saja.
Karena dengan otoda carut marut tentang kebijakan kurikulum maupun mutasi guru yang penuh KKN.
Sedangkan untuk mutasi guru makin sulit ( jangankan antar provinsi, antar kabupaten saja sulit ).Saya baca di radar Bojonegoro, Sekda atas nama Bupati Tuban semau gue memindah guru tanpa permohonan guru yang bersangkutan ke sekolah lain.
sekian terima kasih
E-mail Pengirim: emban_emprit@hotmail.com
Tanggal: 23 - 8 - 2004


kemampuan dan menambah pengetahuan secara maksimal, sambil pelan2 membangun diri yang konsekuen dan mandiri. Banyak jalan menuju Cina, kata pepatah lama. Sepanjang caranya halal dan masuk akal. Rusaknya sistem kita juga sebagian karena kita terlalu serakah, manja, menggampangkan sesuatu dan malas.

Senang bisa bergabung dengan Bapak/Ibu/Mas/Mbak/Uni/Abang yang peka dan peduli masalah pendidikan. Salam,
E-mail Pengirim: qoraima@yahoo.com
Tanggal: 23 Agustus 2004


Nama: dain
Dari: purworejo
Saya: Dosen ump
Aspirasi / Informasi: perilaku mengacu pada Islam,
science adalah memahami sunnatullah,
teknologi adalah rekayasa sunnah-Nya
keduanya (science dan teknologi) adalah alat untuk mewujudkan perilaku sebagaimana tubuh dan anggotanya.
E-mail Pengirim: muhdain@yohoo.com
Tanggal: 24 agustus 2004


Nama: NIKITA YULIA ROSALINI
Dari: YOGYAKARTA
Saya: Siswi SMA BODA
Aspirasi / Informasi: Saya punya aspirasi untuk siswa - siswi smu yok! kita adaim suatu event untuk mempererat ikatan kita terutama anatar sekolah - sekolah baik antar negeri, swasta, maupun antar negeri dan swasta
E-mail Pengirim: NIQTHA@HOTMAIL.COM
Tanggal: 24 AGUSTUS 2004


Nama: Addin
Dari: Yogyakarta
Saya: Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta
Aspirasi / Informasi: Yth. pemimpin negeri, mohon naikkan anggaran pendidikan segera. Jangan remehkan pendidikan, karena dia adalah aspek yang paling mendasar untuk mewujudkan manusia yang berkualitas baik intelektual maupun moral. Jangan anda berpikir menunda kenaikan anggaran pendidikan merupakan solusi terbaik untuk menutupi kekurangan anggaran yang lain. Ingatlah dengan sejarah negara Jepang yang hancur tahun 1945. Yang dilakukan pertama kali adalah menguatkan pendidikan yang tersirat dari perkataan kaisar yang menanyakan masih berapakah guru yang tersisa. Cukuplah sudah penderitaan negeri ini. Jangan jadikan orang yang miskin semakin bodoh karena keterbatasannya. Semoga Anda memperhatikan saran dari saya.Terima kasih.
E-mail Pengirim: DinsV_802003@Yahoo.com
Tanggal: 24 Agustus 2004


Nama: BAMBANG SOEPENO
Dari: JEMBER JAWA TIMUR
Saya: Dosen UNIVERSITAS JEMBER
Aspirasi / Informasi: Pendidikan menjadi tanggungjawab kita bersama. Kurang bijakn jika pendidikan putra-putri kita dibebankan sepenuhnya kepada sekolah (Dinas Pendidikan) semata. Terkait dengan kesejahteraan guru, sudah tentu juga menjadi tanggung jawab bersama, antara pemerintah masyarakat/keluarga. Oleh sebab itu mengacu pada SK.Mendiknas 044/2002, sudah waktunya komite sekolah sebagai representasi masyarakat pelanggan dan pengguna jasa pendidikan memikirkan kesejahteraan guru tsb.

Ditingkat kabupaten/kota Dewan pendidikan, sebagai representasi masyarakat pelanggan dan pennguna jasa pendidikan, harus segera merancang kebijakan pendidikan yg terkait dengan peningkatan kesejahteraan guru. Sehingga dengan demikian bijaklah kita, bahwa kesejahteraan guru harus menjadi tanggung jawab kita bersama. BUKANKAH PELANGGAN DAN PENGGUNA JASA LAYANAN PENDIDIKAN KITA SEMUA?

Persoalan kesejahteraan guru akan segera teratasi melalui intervensi Komite sekolah dan Dewan pendidikan, JIKA proses pembentukan KOMITE SEKOLAH DAN DEWAN PENDIDIKAN TERSEBUT sesuai dg prinsip TRANSPARANSI, AKUNTABEL, DEMOKRASI DAN PARTISIPASI. SELAMAT BERJUAN KEPADA KOMITE SEKOLAH DAN DEWAN PENDIDIKAN untuk memperjuangkan kesejahtaraan guru.
E-mail Pengirim: bsoepono@nttpep.sagric.com
Tanggal: 25 AGUSTUS 2004


Nama: SUSMARIANI
Dari: Jambi/Jambi
Saya: Masyarakat
Aspirasi / Informasi: Saya salah satu Fasilitaor PLS di Desa Intensif, yang mana di desa tsb angka putus sekolah sangat tinggi dan rendahnya tkt Ekonomi & kesadaran masy. akan pentingnya pendidikan. Mohon bantuannya bgmn/langkah apa yang hrs saya perbuat agar apa yang saya laksanakan di desa tsb dpt membantu masy setempat, terima kasih.
E-mail Pengirim: susi_telanai@yahoo
Tanggal: 25 Agustus 2004


Nama: Aditya Sudibya
Dari: Denpasar / Bali
Saya: Siswa SMA Negeri 4 Denpasar
Aspirasi / Informasi: Pemerintah harus memajukan sektor pendidikan. mengingat sektor ini merupakan salah satu organ vital dari suatu elemen bangsa. Disamping itu pemerintah juga harus menciptakan lapangan pekerjaan yang luas. apalah gunanya pendidikan yang tinggi, kalau pada akhirnya berujung pada pengangguran? yang pada akhirnya kita menghadapi mimpi buruk bahwa SDM kita yang berkualitas menjadi sia-sia.. Apakah mungkin pemerintah mampu mewujudkan UUD 1945 pasal 31? ataukah itu akan menjadi kata-kata penghias saja?
E-mail Pengirim: adieetzz_cool@yahoo. com
Tanggal: 27 Agustus 2004


Nama: Kasdi Haryanta
Dari: Palembang
Saya: Guru SMA Xaverius 1 Palembang
Aspirasi / Informasi: Globalisasi yang tak bisa dibendung tentu membawa dampak dalam berbagai bidang kehidupan, terutama bagi masyarakat yang secara komunikatif jauh tertinggal. Begitu juga dalam pendidikan. Banyak sekolah yang sudah mampu mengikuti perkembangan zaman, namun sangat banyak juga sekolah yang tak bisa mengikuti perkembangan zaman. Inrulah kondisi pendidikan Indonesia sekarang yang amat variatif dalam berbagai jenjang dan jenis. Pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tentu juga menuntut kepekaab dab ketersediaan sarana dan prasarana dunia pendidikan kita. Anggaran pendidikan yang masih jauh dibanding negara lain dalam nilainya tentu sangat terbatas juga dalam kemampuan operasional di lapangan.

Dalih melibatkan komite sekolah juga bisa memberi dukungan, tetapi tentu dalam titik keterbatasannya. Lain halnya jika sektor masyarakat dilibatkan sejalan dengan peningkatan nilai anggaran pendidikan. Jika tak sejalan tentu amatlah sulit bergerak. Pihak swasta yang selama ini terlibat toh belum mendapat perhatian dan kepedulian dari pemerintah, misalnya dalam bentuk subsidi. Di sisi lain, pengamanatan Pembukaan UUD 45 sepertinya hanya sebatas kata-kata, tak ada realisasinya. Lalau saja kondisi terus begini, tentu penjajahan akan terwujud dalam bentuk lain, yang sebenarnya sekarang sydah mulai terasa.Filsafat pendidikan kiya baik, tapi tantangan zaman demikian kuat, hati dan sikap kita kurang teguh dan kurang kuat, sehingga amatlah kasihan generasi berikutnya. Marilah kita mencoba merealisasi konsep gampang pendidikan, bahwa orang tua, masyarakat, sekolah (pemerintah) bersatu dalam membangun bangsa.
E-mail Pengirim: kas_doet@yahoo.com
Tanggal: 28 Agustus 2004


[ Ke Halaman 21 - Klik Di Sini ]






Membaca Aspirasi HOME Menulis Aspirasi Anda

Print Halaman Ini