|
Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut (Halaman 20)
Nama: yahya Dari: jepara Saya: Mahasiswa undip Aspirasi / Informasi: buktikan bahwa sdm indonesia meningkat. E-mail Pengirim: yeniyahyahasanas@yahoo.com Tanggal: 5 agustus 2004
Nama: yulianus nawipa Dari: papua paniay Saya: Mahasiswa yogya Aspirasi / Informasi: saya generasi mudah papua kini menekuni study yogya dan tempat kuliah nya bagian teknik mesin lalu saya akan aspirasikan kepada paihak pihak berwenang penuh untuk memberikan beasiswa bagi stata apakah sudah progrem ?
kami bagian bidan langka seperti teknik mesin, elektro, geology, inpromatika, dll segera kebiakan dari propensi papua bila ada kata sdm ada. E-mail Pengirim: nawipa_n@yahoo.com Tanggal: 8/8/2004
Nama: nawipaimo Dari: yogya Saya: Wartawan Aspirasi / Informasi: aspirasi dari kami mahasiswa teknik mesin bahwa pemerintah pusat mohon pedayakakan bagian pendidikan teknik karena kami mengira sangat penting bagi demi massa depan kaita E-mail Pengirim: nusnawipa2003@yahoo.com Tanggal: 8/8/2004
Nama: Maurish Ellen Dari: jatim Saya: Siswi Jatim Aspirasi / Informasi: Jaman mulai berubah. Dengan atau tanpa kita sadari, 58 tahun sudah bangsa kita mengenyam indahnya
kemerdekaan. Bangsa kitapun mulai berkembang sejak
saat para proklamator bangsa memproklamasikan
kemerdekaan Republik Indonesia.
Seiring dengan bertumbuhnya bangsa, kecerdasan
para
warga Indonesiapun mulai meningkat. Sekarang
sebagian orang sudah begitu "jenius" dalam
memperkaya diri, bahkan sektor seperti edukasi pun
dapat dimanfaatkan sebagai lahan berbisnis.
Edukasi
yang seharusnya menjadi faktor penting kemajuan
bangsa Indonesia, disalah gunakan menjadi faktor
pendukung kemajuan ekonomi pribadi.
Kami yang semula hanya menyaksikan kisah penyalah
gunaan uang negara di media massa mulanya merasa
aman karena jauh dari semua kisah itu. Namun sejak
hari ini, mata kami mulai terbuka. Bahkan sebuah
sekolah di kota kecil yang tenang dan damai tempat
kami menuntut ilmu tidak terlepas dari resiko
terlibat dalam kasus korupsi.
Memang benar, kepribadian seseorang tak bisa
ditentukan dari penampilan luar. Seorang kepala
sekolah yang stylist, parlente, wangi seperti baru
mandi kembang dan tampak taat beribadah ternyata
menyimpan kotoran di dalam jiwanya yang tak
sekedar
bisa dibersihkan dengan deterjen terampuh yang
pernah ada dimuka bumi. Tak tanggung-tanggung,
dari
sekolah yang tidak bisa dibilang mewah, sang
kepala
sekolah bisa menarik keuntungan sebesar Rp 200 jt.
WOW! Andaikan bapak itu bisa menjadi presiden
negara
ini, pasti membantu kita menjadi negara dengan
peringkat korupsi nomor satu di dunia. Mulai dari
dana yang disumbangkan oleh lebih dari 800 siswa
untuk menunjang pembangunan sarana dan prasarana
sekolah, uang Bp3 yang berubah fungsi menjadi
anggaran cicilan mobil pribadi, sampai tabungan
rutin para siswa kelas tiga yang rencananya akan
digunakan untuk biaya UAN dan rekreasi ahir tahun
pelajaran, semuanya lenyap tanpa sisa lewat tangan
bapak yang telah bergelar Msi tersebut.
Kisah korupsi sang kepala sekolah yang berhati
mulia
itu tidak berakhir sampai disini. Belakangan
diketahui bahwa sang kepala sekolah ternyata juga
mengembat uang beasiswa yang rencananya diberikan
pada ratusan siswa tidak mampu. Mereka yang
harusnya berhak menerima bantuan pemerintah sejak
Maret 2004 lalu tak tahu apa-apa sampai kasus itu
terungkap. Bayangkan betapa dermawan kepala
sekolah
tela... itu (mungkin beliau tidak ingin
ketinggalan
trend korupsi yang belakangan ini nge-top di
Indonesia)! Disaat ratusan wali murid berjuang
keras
mengusahakan pendidikan bagi putra-putrinya,
koruptor itu dengan tenangnya memasukkan recehan
kurang lebih sebesar Rp 20 jt ke dalam kantongnya.
Hari ini, saat tulisan ini kami kirim, dengan
jelas
masih dapat kami lihat kepala sekolah yang bijak
itu
melenggang di koridor sekolah dengan senyum
innocent
di wajahnya. Mungkin dia merasa tenang setelah
mengembalikan 2% dari seluruh uang yang telah
dilahapnya. Entah sampai kapan kami akan terus
melihat wajah tanpa dosa-nya. Yang jelas, sampai
hari ini, kami belum menyaksikan tindak lanjut
pihak
yang berwenang.
kemarin (2 Mei 2004) adalah HARI PENDIDIKAN
NASIONAL.
Namun, kami ragu, apakah Ki Hajar Dewantara akan
tersenyum bangga menyaksikan semua ini. Pendidikan
yang telah diperjuangkannya mati-matian kini
dianggap tidak sepenting materi. Fakta diatas
hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti
hancurnya pendidikan di Indonesia. Tapi kami masih
beruntung tidak mengalami nasib seperti
teman-teman
kami yang sekolahnya digusur, atau tertimpa atap
sekolah yang sudah rapuh.
Sekarang, yang kami herankan adalah, mengapa
kemarin
kami masih harus berdiri dalam sebuah upacara
untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional? Padahal
kami
tak pernah tahu apa gunanya peringatan tersebut
dalam kehidupan yang sudah menyepelekan makna
penting pendidikan. Mungkinkah masih ada orang
yang
bisa memberitahu jawaban atas pertanyaan kami?
Dari : Siswa kelas dua SMP yang merasa trenyuh
menyaksikan perkembangan pendidikan Indonesia.
E-mail Pengirim: iam_survivor79@yahoo.com Tanggal: 8-8-2004
Nama: rinto Dari: bogor Saya: Mahasiswa bandung Silakan mengirim lagi - dengan kontak e-mail !!! Tanggal: 9 agustus 2004
Nama: rachma Dari: kendari/sultra Saya: Mahasiswi yogya Aspirasi / Informasi: untuk mencapai mutu pendidikan di Indonesia dibutuhkan: - kesadaran pemerintah untuk memberikan subsidi pendidikan yang tinggi; gaji para pengajar dinaikkan sehingga tidak ada istilah "nyambi" diluar; fasilitas pendidikan dipenuhi sesuai kebutuhan; target dari pemerintah untuk menyekolahkan anak bangsa keluar negeri setiap tahun. Dengan begitu maka persaingan akan terbuka untuk memperoleh pendidikan yang nantinya akan menjadi akar bagi penerus bangsa kedepan. E-mail Pengirim: rachma_w4ti@yahoo.com Tanggal: 9/8/2004
Nama: Hadi surya Dari: banda aceh Saya: Mahasiswa Unsyiah Aspirasi / Informasi: Saya harap kepada mentri pendidikan tolong pikirkan masalah biaya pendidikan di NAD karna keamanan yang belum kondusif jadi perekonomian orang tua kami di daerah-daerah masih keterbelakangan. mohon bapak perhatikan secara serius. E-mail Pengirim: adhiyasu@pendidikan.zzn.com Tanggal: 12 Agustus 2004
Nama: Bambang Dari: Mataram Saya: Masyarakat Aspirasi / Informasi: Saya perhatikan Bangsa ini mau dibawa kemana Pendidikan kita, coba dak usah mencetak siswa yang berprestasi tapi tidak berbudi. Banyak orang pintar dan berprestasi tetapi pintar berprestasi mengakali orang-orang kecil.
Tidak ada lagi lagu "Oh Ibu dan Ayah selamat pagi ku pergi .... .
agar menjadi murid yang "BUDIMAN"
(Berbudi dan Beriman), lagu tersebut telah berubah menjadi "murid yang berprestasi"
Mengapa berprestasi, untuk apa berprestasi tapi tak berbudi E-mail Pengirim: ganas04@yahoo.com Tanggal: 13 Agustus 2004
Nama: NITA KUSUMA NINGRUM Dari: YOGYAKARTA Saya: Mahasiswi UGM Aspirasi / Informasi: Saya mohon kebijaksanaannya untuk menurunkan ongkos sekolah,karena banyak anak yang putus sekolah krn masalah ekonomi keluarga & banyak pengangguran sehingga banyak terjadi kriminalitas terima kasih E-mail Pengirim: Tanggal: 13 AGUSTUS 2004
Nama: PUTRI MEGA FATMAWATI Dari: DEPOK / JAKARTA Saya: Mahasiswi UI Aspirasi / Informasi: SAYA MINTA DENGAN SANGAT AGAR ANDA SEGERA MENINDAK LANJUTI TENTANG BIAYA PENDIDIKAN YANG SANGAT MAHAL SAAT INI KARENA SAYA MERASA KASIHAN KEPADA ORANG NGGAK MAMPU. MOHON ASPIRASI SAYA INI DIPERHITUNGKAN DENGAN SANGAT! DAN SEHARUSNYA GAJI ANDA ITU SEBAIKNYA DISUMBANGKAN UNTUK ORANG YANG TAK MAMPU!!!OKKKKKKKKKKKK!! E-mail Pengirim:
Aspirasi ini sangat menarik, sayang tidak ada alamat e-mail!
Kalau maksudnya, gaji saya sendiri - wah tidak dapat membantu siapapun! Semuanya di Pendidikan Network dikerjakan secara gratis. Kalau maksudnya, meminta dari gaji para langganan dan pembaca website ini, mengapa harus meminta uang dari orang yang barangkali telah bekerja keras dan berjuang untuk keluargnya secara halal. Berpikirlah lebih jernih, mengapa kita jadi begini?
Mengapa pendidikan jadi mahal untuk masyarakat? KORUPSI-kah penyebabnya? Kekayaan negara ini yang seharusnya dipakai untuk menyiapkan masyarakat untuk masa depan kelihatnya bocor (lebih dari 30%) - ke mana ya? Kepedulian pemerintah terhadap pendidikan sangat rendah, terlihat dari anggaran negara untuk pendidikan (dibawah 5% - sebenarnya), dibanding Malaysia 25% dan Thailand 30%. Kayaknya pemerintah kita sadar bahwa kalau masyarakat sudah berpendidikan dengan baik mereka tidak mungkin dipilih lagi. Apakah, ini pola pikir yang dipakai pemerintah kita untuk mempertahankan dirinya (kekuasaanya)?
Apakah anda betul-betul peduli mengenai "ORANG NGGAK MAMPU", dan peduli masa depan negara ini? Mengapa kita tidak berjuang secara berani untuk memberantas korupsi daripada meminta sumbangan saja. Kapan negara kita akan maju kalau solusinya selalu hanya meminta dan kapan kita mau berusaha untuk memperbaiki negara kita kalau tidak dari sekarang dan dimulai dari anda, saya dan kita semua?
Besok tanggal 17 Agustus adalah Hari Kemerdekaan kita, momentum yang sangat tepat kapan kita akan merdeka dari korupsi yang sudah terkenal di dunia dan ternyata jauh lebih berbahaya daripada AIDS, karena merusak moral bangsa dan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Memang masa depan negara dan pendidikan masyarakat hanya dapat ditingkatkan kalau masyarakat sendiri secara berani memaksakan tanggungjawab pemerintah pada bidang pendidikan ini. Seperti kemerdekaan negara kita dari pejajahan Belanda, tentu tidak akan dikasih begitu saja, kita harus berjuang dan melawan orang-orang yang mencuri masa depan negara kita dalam bentuk pendidikan bermutu untuk semua bangsa.
Selamat berjuang, Webmaster
 Mengirim Saran Anda Mengenai Topic Ini
Tanggal: 13 AGUSTUS 2004
Nama: Mohammad Wantoro Dari: Bantul,DIY Saya: Guru SMP3 Imogiri Bantul Aspirasi / Informasi: Sekolah kami mendapatkan blok grang senilai 30 juta tapi penggunaanya harus sesuai dengan arahan konsultan misal harus menyelenggarakan diklat model-model pembelajaran yang menelan biaya 13 juta, padahal usulan kami diklat KBK yang sangat diperlukan dalam menunjang kurikulum 2004. Juga usulan pembelian computer yang diajukan ditolak konsultan padahal kami sangat memerlukan sedangkan disekolah hanya ada 2 unit komputer itupun untuk administrasi. Kalau semua harus sesuai dengan kehendak konsultan buat apa dikasih blok grand yang kalau dihitung-hitung hanya mempertebal kantong konsultan ? harap diperhatikan bagi bapak-ibu pemegang kebijakan. E-mail Pengirim: m.wantoro@plasa,com Tanggal: 16 Agustus 2004
Nama: Edwin Indranaya Dari: Jakarta Saya: Staf Teknologi Jakarta Aspirasi / Informasi:
APAKAH ASPIRASI INI DI BACA?
APAKAH FEED BACKNYA?
APAKAH ANDA PEDULI?
APAKAH BIAYA PENDIDIKAN MURAH?
APAKAH ANDA TIDAK KORUPSI?
APAKAH INDONESIA AKAN MAJU?
APAKAH HUTANG INDONESIA LUNAS?
APAKAH PENGANGGURAN BERKURANG?
DAN APAKAH Aspirasi: "n harapan dan tujuan untuk keberhasilan pd masa yg akan datang"?
WALLAHU'ALAM E-mail Pengirim: edwin_indranaya@yahoo.com
Wah, ini bukan aspirasi, ini pertanyaan dan ada form khursus untuk pertanyaan. Tetapi karena anda sudah bertanya dan kami ingin transparen, saya akan menjawab.
APAKAH ASPIRASI INI DI BACA?
Website Aspirasi.US ini sudah "6716" hits bulan ini (Agustus) dan sekarang baru 17 Agustus.
APAKAH FEED BACKNYA?
Kadang-kadang saya akan memberi feedback kalau saya merasa perlu input dari saya. Tetapi, feedback yang paling penting yaitu dari langganan kami dan orang-orang di lapangan yang peduli pendidikan.
APAKAH ANDA PEDULI?
Wah, anda menilai sendiri. Setiap tahun saya menghabiskan ribuan dollar dari kantong saya sendiri dan sudah berjuang dengan website-website (24 khursus pendidikan Indonesia) selama enam tahun. Terus terang, isteri saya kadang-kadang merasa saya "stupid" karena saya sering bekerja dari jam 6 pagi, sampai jam 1 pagi tanpa menghasilkan uang. Saya percaya bahwa ada cukup orang di lapangan yang jujur atau ingin jujur dan peduli pendidikan dan kalau kita menjadi kompak dan bejuang bersama kita akan mempercepat proses perubahan. Saya merasa puas kalau ada hasilnya, meskipun tidak dapat dinilai dengan materi.
APAKAH BIAYA PENDIDIKAN MURAH?
Ini memang topik diskusi minggu ini.
Jawaban tersingkat begini:
Kalau anda sudah langganan Pendidikan Network anda tahu bahwa saya berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan pendidik. Jadi pendidikan bermutu seharusnya lebih mahal lagi. Di Indonesia harga pendidikan masih termasuk murah dibanding dengan negara lain. Tetapi, karena kesejahteraan masyarakat sudah rendah sekali dan bagian anggaran dari pemerintah untuk pendidikan sangat rendah sehingga pendidikan memang sudah mahal buat kebanyakan masyarakatnya!
Masalahnya begini. Pemerintah sudah membuat pendidikan wajib 9 tahun, tetapi mereka tidak membuat pendidikan 9 tahun itu gratis. Mengapa? Karena alokasi anggaran untuk pendidikan sangat kecil walapun pendidikan yang bermutu adalah hak semua masyarakat di Indonesia, Ini negara kaya. Jadi kita harus bertanya kepada pemerintah "ke mana uangnya". Kami semua tahu mengenai korupsinya, kapan kita mau membuat pemerintah bertanggungjawab?
APAKAH ANDA TIDAK KORUPSI?
Maaf, tetapi saya tidak anggap uang begitu penting sampai menjual roh saya.
APAKAH INDONESIA AKAN MAJU?
Pasti Indonesia akan maju. Pertanyaan yang penting adalah kapan? Selama masyarakat masih mau menghormati orang-orang yang koruptor dan ikut berbuat seperti mereka, tentu kita tidak akan maju. Menghormati dan melayani koruptor selain berdosa tentunya menghianati negara kita.
APAKAH HUTANG INDONESIA LUNAS?
Mengambil uang-uang dari koruptor - beres!
Tetapi, kelihatannya hukum Indonesia menjaga dan menyelamatkan mereka yang rakus. Tetapi, misalnya tukang becak yang mencuri Rp.100.000 karena lapar pasti akan langsung masuk penjara (kalau tidak dibakar masa). Kasus-kasus koruptor yang dilepaskan terus memang memalukan hukum negara dan bangsa negara kita. Mengapa bangsa harus malu? - siswa-siswi yang berani mem-protest tidak didukung oleh masyarakat.
Kalau kita mulai peduli mengenai negara dan masyarakat, kita akan fokus kepada kesempatan negara ini untuk menghasikan uang, daripada mengimport barang dari luar negeri yang semestinya kita dapat produksi sendiri, misalnya mobil. Kebijakan pemerintah kita sekarang hanya menguntung negara lain dan orang-orang tertentu yang dapat mengimportnya.
APAKAH PENGANGGURAN BERKURANG?
Kuncinya adalah membuat industri. Salah satu masalah dari korupsi adalah uang yang dicuri tidak dipakai untuk investasi di dalam negeri. Tetapi, kebanyakan dipakai untuk membeli rumah mewah buat sendiri dan simpanan-simpanannya, tanah, hotel, shopping plaza, mobil mewah, memasukan uang ke bank di dalam dan di luar negeri yang sangat tidak membantu perkembangan negara kita.
DAN APAKAH Aspirasi: "n harapan dan tujuan untuk keberhasilan pd masa yg akan datang"?
Kalau anda ingin kehidupan anda lebih baik besok daripada sekarang, keinganan itu namanya ASPIRASI.
Maaf, ini Hari Kemerdekaan Indonesia dan saya juga wajib membantu dengan kegiatannya dan saya harus pergi sebentar lagi. Maaf kalau ada yang kurang, tetapi ini hanya jawaban tersingkat saja. Salam hormat, Webmaster Tanggal: 16/17 Agustus 2004
Nama: Y A N T O Dari: MALANG - JAWA TIMUR Saya: Mahasiswa FE UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG Aspirasi / Informasi: BANGSA, PARASIT DAN DISFUNGSI DEMOKRASI
Oleh: Yanto
Dibalik sukacita merayakan hari kemerdekaan bangsa ini, ternyata masalah- masalah besar masih mengintai keseharian kehidupan kita. Persoalan konstitusi yang belum selesai, hingga problem korupsi teramat mengganggu. Melihat pesimisme masyarakat terhadap keadilan hukum, nampaknya, koreksi dan pembaruan dibidang hukum akan berjalan lambat. Padahal, konstitusi yang kokoh akan menjamin kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan jauh lebih baik lagi. Ketidakpahaman ini menyebabkan demokrasi mengalami gangguan. Demokrasi menjadi tidak semanis kembang gula. Malahan menyuburkan korupsi. Inilah yang disebut sebagai disfungsi demokrasi.
Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia terbitan Media Center disfungsi diartikan sebagai hal atau keadaan tidak berfungsinya sesuatu secara wajar. Cita-cita luhur universal demokrasi adalah memberikan ruang kebebasan bagi setiap manusia untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaannya itu sendiri. Melihat kekacauan -dalam pengertian berjalannya sistem negara- maka menurut beberapa penelitian, Indonesia memang rentan mengalami gangguan atau distorsi. Dalam sebuah masyarakat majemuk, demokrasi dan nasionalisme memang sering menjadi sebuah dilema. Tuntutan-tuntutan demokratissai yang idealnya memperkuat nasionalisme, realitasnya juga memunculkan konflik-koflik etnis yang bisa membahayakan demokratisasi itu sendiri, yang bukan tidak mungkin lalu atas nama negara kebangsaan malah melahirkan pemerintahan otoriter baik sipil atau militer (Larry Diamond & Marc F.Platner, terjemahan "nasionalisme, konflik etnis dan demokrasi, ITB Press,1998)
Seorang Mohamad Hatta lebih dari setengah abad yang lalu mengatakan, korupsi ini adalah penyakit sosial yang membudaya ditengah kehidupan masyarakat Indonesia. Merujuk A. Mukti Fadjar sebagaimana penelitian Donald L. Horowitz mengenai demokrasi pada masyarakat majemukmenunjukkan bahwa demokrasi dan demokratisasi dapat mengalami kegagalan karena berbagai alasan seperti perlawanan dari kaum sipil atau militer yang terserobot , tiadanya kondisi sosial atau budaya kondusif, lembaga yang dirancang secara tidak tepat, dan pada banyak negara di Afrika, Asia, dan Eropa Timur adalah konflik etnis.
Kemudian tidak terlalu salah kiranya jika pada perayaan kemerdekaan di bulan Agustus ini kita instropeksi diri. Ternyata lebih tepat jika bangsa ini masih disebut sebagai bangsa parasit. Masyarakat masih terlalu mudah diadu domba hingga melahirkan kerusuhan. Sikap kita masih sering mencurigai keberadaan kelompok masyarakat yang lain. Bahkan, kita tidak ambil peduli ketika gelombang ribuan pengungsi yang harus meninggalkan tempat hidupnya karena konflik.
Pelaksanaan pemilu 2004 yang dilangsungkan secara aman dan relatif lebih baik daripada pemilu masa lampau belum memberikan arti apa-apa jika tidak diikuti dengan kemauan mengkoreksi tatanan hukum nasional. Menarik sekali mencermati apa yang dikatakan oleh Satjito Rahardjo (1990-1), bahwa Negara Republik Indonesia yang berdasarkan atas hukum (NBHI) adalah suatu bangunan yang belum selesai disusun dan masih dalam proses pembentukannya yang intensif". Pertanyaannya adalah beranikah para anggota DPR beserta DPD yang terpilih merumuskan tatanan baru yang lebih kondusif?
Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Demokrasi dinegara ini masih teramat rapuh. Ketamakan politisi sipil telah mengalihkan fungsi legilatif dari yang sepatutnya. Pembahasan undang-undang dan sebagainya tidak mencerminkan adanya perubahan mendasar. Sehingga kasus-kasus kudeta terselubung terhadap demokrasi mudah saja terjadi. Coba lihat kasus impor gula. Ternyata dibalik regulasi atau kebijakan yang seakan-akan memihak pada rakyat, penguasa negara sendiri yang melakukan kejahatan. Belum lagi kasus pemanfaatan aparatur hukum sebagai bidak-bidak catur politik untuk melanggengkan kekuasaan. Aparat negara negara yang berselingkuh dengan kepentingan politik tentunya karena mendapat imbal suap.
Dorongan untuk menegakkan demokrasi dan civil society ini harus dimulai dari gerakan yang sungguh-sungguh untuk memerangi korupsi maupun suap. Lembaga pemerintah anti korupsi tidak bisa berjalan dengan keterbatasannya yang disebabkan dibawah subordinasi kekukasaan. Negara ini harus benar-benar mebentuk tim yang independen untuk memberantas korupsi. Bahkan kalau perlu memeriksa seorang presidenpun bukannya sebatas pada Gubernur ataupun pembantu presiden saja. Termasuk kepala kepolisian.
Kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman negara lain yang secara serius melakukan hal ini. Contohnya badan anti korupsi yang terkemuka dinegara-negara berkembang yaitu ICAC (independent Commision Againts Corruption ) di Hongkong. Dalam buku "Membasmi korupsi " karya Robert Klitgaard (2001:130) dapat ditelusuri mengapa dan bagaimana ICAC didirikan, dan bagaimana ICAC mencapai sukses dalam membersihkan korupsi dijajaran kepolisian Hongkong. Sebagaimana di Indonesia, banyak orang Hongkong yakin bahwa korupsi itu berurat -akar dalam kebudayaan Cina di Hongkong. Ada yang menarik kesimpulan fatalistik, dengan mengatakan bahwa usaha-usaha untuk mengurangi krupsi itu akan sia-sia. Kaum pesimistik dapat dengan mudah mengutip berbagai catatan kegagalan kampanye anti korupsi di masalalu.
Namun pada tahun 1971 pemerintah Hongkong meloloskan sebuah undang-undang pencegahan suap yang brilian. Undang-undang itu memperluas kategori-kategori pelanggaran. Bagi mereka yang dicurigai, kekayaan pribadinya melampaui pendapatan, atau yang menikmati tingkat hidup diluar apa yang dimungkinkan oleh penghasilan, beban pembuktiannya beralih: mereka harus bisa membuktikan diri tidak bersalah. "Dalam setiap tuntutan terhadap seorang karena pelanggaran menurut undang-undang ini, beban memberikan pembelaan yang sah atau dalih yang dapat diterima terletak dipihak tertuduh."(2001:139) Pendek kata ini merupakan pembalikkan dari asas praduga tak bersalah yang lazim digunakan seperti di Indonesia. Mampukah kita menata hukum kita demikian? Jawabannya mungkin menunggu perayaan hari kemerdekaan yanhg ke-100.
Penulis: Yanto
Mahasiswa FE Universitas Muhammadiyah Malang
E-mail Pengirim: yanto_sagu@yahoo.com Tanggal: 17 AGUSTUS 2004
Nama: P. Sukoco Irianto Dari: Singkawang - Kalimantan Barat Saya: Guru Singkawang Aspirasi / Informasi: Terkadang kami ingin menangis sejadi-jadinya, jika mencermati biaya pendidikan dewasa ini. Banyak teman-teman mengeluhkan tingginya biaya masuk, sementara mutu pelayanan sekolah masih jauh dari memuaskan. Mungkinkah, jika Ibu Mega terpilih lagi menjadi Presiden 2004-2009 mengupayakan agar dalam penyusunan RAPBN memprioritaskan bidang pendidikan? Sebab, kecerdasan bangsa ini sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan. .... E-mail Pengirim: Tanggal: 18 Agustus 2004
Nama:
wardani
lubis Dari: medan/sumut Saya:
Masyarakat medan Aspirasi / Informasi: saya harap
guru-guru dinegara ini lebih meningkatkan kualitas
pendidikan siswa, terutamanya pendidikan moral bagi
siswa/i dibangku sekolah. ini sangat berguna
melihat kondisi negara kita yang tak stabil.
Kapan masyarakat negara kita mau mulai mencontohkan moral yang baik supaya anak kita melihat yang maksudnya "moral" Kita tidak dapat berhasil mengajar supaya anak kita "moral" kalau lingkungan masih mau melayani koruptor. Salam hormat, Webmaster E-mail
Pengirim: beyonce_loebis@hotmail.com Tanggal:
19/08/2004
Nama: Badarsyam Dari: Bandung Saya: Masyarakat
Bandung Aspirasi / Informasi: Ketika "musim" kampanye
sedang marak, sektor pendidikan paling banyak disorot.
Pemerataanlah, biaya murahlah, penambahan
fasuilitas dan lain-lain.
Setelah musim itu berlalu dan ketika orang-orang
yang cuap-cuap itu jadi dapat kursi, lupa
terhadap janjinya, padahal belum seumur jagung. Yang
jelas biaya pendidikan makin mahal, buku-buku makin
tak terjangkau. dan cilakanya lagi dana
pendidikan di RAPBN yang diajukan Nyonya Megawati CUMA 6 %
dari keseluruhan anggaran jauh dari ketentuan
yang seharusnya 20 %, Jadi janji kampanye itu hanya
omong kosong saja. MERDEKA!! E-mail Pengirim:
Badarsyam@Yahoo.Com Tanggal: 19 Agustus
2004
Nama: Ella Dari: bojonegoro Saya: Wartawan jakarta Aspirasi / Informasi: Kepada pengamat Di Jakarta
Kalau dapat Dinas pendidikan di kembalikan ke pusat saja.
Karena dengan otoda carut marut tentang kebijakan kurikulum maupun mutasi guru yang penuh KKN.
Sedangkan untuk mutasi guru makin sulit ( jangankan antar provinsi, antar kabupaten saja sulit ).Saya baca di radar Bojonegoro, Sekda atas nama Bupati Tuban semau gue memindah guru tanpa permohonan guru yang bersangkutan ke sekolah lain. sekian terima kasih E-mail Pengirim: emban_emprit@hotmail.com Tanggal: 23 - 8 - 2004
kemampuan dan menambah pengetahuan secara maksimal,
sambil pelan2 membangun diri yang konsekuen dan
mandiri. Banyak jalan menuju Cina, kata pepatah
lama. Sepanjang caranya halal dan masuk akal.
Rusaknya sistem kita juga sebagian karena kita terlalu
serakah, manja, menggampangkan sesuatu dan malas.
Senang bisa bergabung dengan
Bapak/Ibu/Mas/Mbak/Uni/Abang yang peka dan peduli masalah pendidikan.
Salam, E-mail Pengirim: qoraima@yahoo.com Tanggal:
23 Agustus 2004
Nama: dain Dari: purworejo Saya: Dosen ump Aspirasi / Informasi: perilaku mengacu pada Islam, science adalah memahami sunnatullah, teknologi adalah rekayasa sunnah-Nya keduanya (science dan teknologi) adalah alat untuk mewujudkan perilaku sebagaimana tubuh dan anggotanya. E-mail Pengirim: muhdain@yohoo.com Tanggal: 24 agustus 2004
Nama: NIKITA YULIA ROSALINI Dari: YOGYAKARTA Saya: Siswi SMA BODA Aspirasi / Informasi: Saya punya aspirasi untuk siswa - siswi smu yok! kita adaim suatu event untuk mempererat ikatan kita terutama anatar sekolah - sekolah baik antar negeri, swasta, maupun antar negeri dan swasta E-mail Pengirim: NIQTHA@HOTMAIL.COM Tanggal: 24 AGUSTUS 2004
Nama: Addin Dari: Yogyakarta Saya: Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta Aspirasi / Informasi: Yth. pemimpin negeri, mohon naikkan anggaran pendidikan segera. Jangan remehkan pendidikan, karena dia adalah aspek yang paling mendasar untuk mewujudkan manusia yang berkualitas baik intelektual maupun moral. Jangan anda berpikir menunda kenaikan anggaran pendidikan merupakan solusi terbaik untuk menutupi kekurangan anggaran yang lain. Ingatlah dengan sejarah negara Jepang yang hancur tahun 1945. Yang dilakukan pertama kali adalah menguatkan pendidikan yang tersirat dari perkataan kaisar yang menanyakan masih berapakah guru yang tersisa. Cukuplah sudah penderitaan negeri ini. Jangan jadikan orang yang miskin semakin bodoh karena keterbatasannya. Semoga Anda memperhatikan saran dari saya.Terima kasih. E-mail Pengirim: DinsV_802003@Yahoo.com Tanggal: 24 Agustus 2004
Nama:
BAMBANG
SOEPENO Dari: JEMBER JAWA TIMUR Saya:
Dosen UNIVERSITAS JEMBER Aspirasi / Informasi:
Pendidikan menjadi tanggungjawab kita bersama.
Kurang bijakn jika pendidikan putra-putri kita
dibebankan sepenuhnya kepada sekolah (Dinas
Pendidikan) semata. Terkait dengan kesejahteraan guru,
sudah tentu juga menjadi tanggung jawab bersama,
antara pemerintah masyarakat/keluarga. Oleh sebab
itu mengacu pada SK.Mendiknas 044/2002, sudah
waktunya komite sekolah sebagai representasi
masyarakat pelanggan dan pengguna jasa pendidikan
memikirkan kesejahteraan guru tsb.
Ditingkat
kabupaten/kota Dewan pendidikan, sebagai representasi
masyarakat pelanggan dan pennguna jasa pendidikan,
harus segera merancang kebijakan pendidikan yg
terkait dengan peningkatan kesejahteraan guru. Sehingga
dengan demikian bijaklah kita, bahwa
kesejahteraan guru harus menjadi tanggung jawab kita bersama.
BUKANKAH PELANGGAN DAN PENGGUNA JASA LAYANAN
PENDIDIKAN KITA SEMUA?
Persoalan kesejahteraan guru
akan segera teratasi melalui intervensi Komite
sekolah dan Dewan pendidikan, JIKA proses
pembentukan KOMITE SEKOLAH DAN DEWAN PENDIDIKAN TERSEBUT
sesuai dg prinsip TRANSPARANSI, AKUNTABEL,
DEMOKRASI DAN PARTISIPASI. SELAMAT BERJUAN KEPADA KOMITE
SEKOLAH DAN DEWAN PENDIDIKAN untuk memperjuangkan
kesejahtaraan guru. E-mail Pengirim: bsoepono@nttpep.sagric.com Tanggal:
25 AGUSTUS 2004
Nama: SUSMARIANI Dari: Jambi/Jambi Saya: Masyarakat Aspirasi / Informasi: Saya salah satu Fasilitaor PLS di Desa Intensif, yang mana di desa tsb angka putus sekolah sangat tinggi dan rendahnya tkt Ekonomi & kesadaran masy. akan pentingnya pendidikan. Mohon bantuannya bgmn/langkah apa yang hrs saya perbuat agar apa yang saya laksanakan di desa tsb dpt membantu masy setempat, terima kasih. E-mail Pengirim: susi_telanai@yahoo Tanggal: 25 Agustus 2004
Nama: Aditya Sudibya Dari: Denpasar / Bali Saya: Siswa SMA Negeri 4 Denpasar Aspirasi / Informasi: Pemerintah harus memajukan sektor pendidikan. mengingat sektor ini merupakan salah satu organ vital dari suatu elemen bangsa. Disamping itu pemerintah juga harus menciptakan lapangan pekerjaan yang luas. apalah gunanya pendidikan yang tinggi, kalau pada akhirnya berujung pada pengangguran? yang pada akhirnya kita menghadapi mimpi buruk bahwa SDM kita yang berkualitas menjadi sia-sia.. Apakah mungkin pemerintah mampu mewujudkan UUD 1945 pasal 31? ataukah itu akan menjadi kata-kata penghias saja? E-mail Pengirim: adieetzz_cool@yahoo. com Tanggal: 27 Agustus 2004
Nama: Kasdi Haryanta Dari: Palembang Saya: Guru SMA Xaverius 1 Palembang Aspirasi / Informasi: Globalisasi yang tak bisa dibendung tentu membawa dampak dalam berbagai bidang kehidupan, terutama bagi masyarakat yang secara komunikatif jauh tertinggal. Begitu juga dalam pendidikan. Banyak sekolah yang sudah mampu mengikuti perkembangan zaman, namun sangat banyak juga sekolah yang tak bisa mengikuti perkembangan zaman. Inrulah kondisi pendidikan Indonesia sekarang yang amat variatif dalam berbagai jenjang dan jenis. Pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tentu juga menuntut kepekaab dab ketersediaan sarana dan prasarana dunia pendidikan kita. Anggaran pendidikan yang masih jauh dibanding negara lain dalam nilainya tentu sangat terbatas juga dalam kemampuan operasional di lapangan.
Dalih melibatkan komite sekolah juga bisa memberi dukungan, tetapi tentu dalam titik keterbatasannya. Lain halnya jika sektor masyarakat dilibatkan sejalan dengan peningkatan nilai anggaran pendidikan. Jika tak sejalan tentu amatlah sulit bergerak. Pihak swasta yang selama ini terlibat toh belum mendapat perhatian dan kepedulian dari pemerintah, misalnya dalam bentuk subsidi. Di sisi lain, pengamanatan Pembukaan UUD 45 sepertinya hanya sebatas kata-kata, tak ada realisasinya. Lalau saja kondisi terus begini, tentu penjajahan akan terwujud dalam bentuk lain, yang sebenarnya sekarang sydah mulai terasa.Filsafat pendidikan kiya baik, tapi tantangan zaman demikian kuat, hati dan sikap kita kurang teguh dan kurang kuat, sehingga amatlah kasihan generasi berikutnya. Marilah kita mencoba merealisasi konsep gampang pendidikan, bahwa orang tua, masyarakat, sekolah (pemerintah) bersatu dalam membangun bangsa. E-mail Pengirim: kas_doet@yahoo.com Tanggal: 28 Agustus 2004
[ Ke Halaman 21 - Klik Di Sini ]
|