SD & SLTPSekolah MenengahPerguruan TinggiPendidikan NetworkAspirasi KitaArtikel KitaBerita Kita

 
Pendidikan Network Homepage
Aspirasi: "n harapan dan tujuan untuk keberhasilan pd masa yg akan datang"
(Ref. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas, 2001, P 72)

Membaca Aspirasi Aspirasi Kita 24 (Index)
Ke Halaman 22, 23, 24, 25
Menulis Aspirasi Anda



Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut
(Halaman 24)

Nama: rifai ekop
Dari: jabar
Saya: Mahasiswa ekop upi
Aspirasi / Informasi: menanggapi tentang kesejahteraan pendidik. pemerintah diharapkan bisa menaikkan gaji guru karena jika gaji mereka tidak diperhatikan kesejahteraan keluarganya kurang terjamin.salah satu untuk meningkatkan kualistas pendidikan kita adalah dengan memperhatikan kesejahteraan guru. karena jika kesejahteraan guru tidak dibperhatikan mungkin saja guru itu malas untuk mengajar atau mencari tambahan dengan menjadi guru honor.

jika demikian maka konsentrasi guru tersebut akan terpecah apakah memperhatikan kesejahteraan keluarganya atau memperhatikan perkembangan peserta didiknya. perlu diingat kembali bahwa jasa seorang guru sangat besar sekali bagi suatu negara. politikus, presiden ,ekonom, tentara, pengacara semuanya didik oleh seorang guru.alangkah baiknya jika kesejahteraan seorang guru diperhatikan. kenaikan gaji guru alangkah baiknya dinaikkan setiap tahun dan bagi guru yang berprestasi atau yang rajin diberi suatu bonus.
E-mail Pengirim: pay_ekop@plasa.com
Tanggal: 07-03-2005


Nama: Jose da Silva Monteiro
Dari: Dili - Timor -Leste
Saya: Dosen Jakarta
Aspirasi / Informasi: Saya sangat bangga dengan kurikulum Indonesia yang sekarang ini Bahasa Inggris sudah mulai diajarkan sejak SD, itu berarti kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang akan jauh lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya. sebab Negara Indonesia sangat penting bagi negara Timor Leste.
E-mail Pengirim: monterio021175@yahoo.com
Tanggal: 20 April 2005


Nama: weni gusvina
Dari: bandar lampung
Saya: Siswi sman12.b.lampung
Aspirasi / Informasi: saya sebagai salah satu siswi merasa sangat kecewa dengan keadaan disekolah. yang saya tanyakan mengapa jalan-jalan ke mol2 & tempat hiburan selalu menjadi perhaian, sedangkan jalan menuju tempat pendidikan tidak diperhatikan! sudah beberapa tahun belakangan ini jalan ke sekolah saya bolong & jelekk bgt. gmn mo smangat blajarrrrr?
E-mail Pengirim: ewe'sinam
Tanggal: 11 maret 2005


Nama: NI WAYAN LIA WIDI HARNANIK
Dari: LAMONGAN/JAWA TIMUR
Saya: Guru SD BAITU ILMIN
Aspirasi / Informasi: PADA PEMBELAJARAN UNTUK KELAS 1 SEKOLAH DASAR SANGATLAH SULIT MENERAPKAN KOMPETENSI. DIMOHON BAPAK-IBU YANG TERPILIH DI KURSI PENDIDIKAN YANG MENETUKAN PRESTASI BANGSA. LEBH MEMIKIRKAN JALAN KELUAR YANG LEBIH BAIK LAGI DENGAN MENINJAU LANGSUNG KESULITAN GUGU-GURU DI TEMPAT.
E-mail Pengirim: nNIWAYANI@ORG

Mohon mampir ke MBEProject.Net
Selamat berjuang
Phillip R. (Webmaster)

Tanggal: 13 MARET 2005


Nama: syaeful rahman
Dari: bandung
Saya: Mahasiswa universitas pendidikan indonesia
Aspirasi / Informasi: pendidikan mutlak diperlukan bagi anak-anak bangsa indonesia untuk dapat memberikan masa depan yang cerah bagi mereka. mereka adalah generasi bangsa yang kelak dengan ilmu yang telah mereka dapatkan akan dapat membangun bangsa ini menuju yang lebih baik.Bangunlah mereka untuk mendapatkan pendidikan.

mari kita bantu mereka yang memiliki hambatan dalam menyelesaikan belajarnya melalui beasiswa-beasiswa maupun program orang tua asuh.aku ingin mengutarakan pula contohnya seorang siswa SD dimana orangtuanya tidak sanggup untuk membiayai sekolahnya, saat ini ia baru kelas 2 SD, masih panjang bagi dia untuk menempuh pendidikan dan sekarang dia sedang membutuhkan uluran tangan. untuk itu bagi siapapun yang ingin memberikan beasiswa atau ingin menjadi orang tua asuhnya harap menghubungi saya. Mari kita sama-sama mewujudkan indonesia maju melalui mereka pula.
E-mail Pengirim: rahman_syaeful@yahoo.com
Tanggal: 14 maret 2005


Nama: Roberth Rivaldo M
Dari: Salatiga Jawatengah
Saya: Mahasiswa UKSW salatiga
Aspirasi / Informasi: menurut saya tentang dunia pendidikan di Indonesia adalah bahwa dengan bergantinya mentri baru secara otomatis akan mengubah kurikulum sebelumnya. Hal ini perlu dikaji dan dipertimbangakan secara mendalam karena dapaknya adalah anak didik serta guru di lapangan yang akan mengalami kesulitan dalam mengadapatasi dari perubahan kurikulum tersebut. Perubahan/inovasi kurikulum itu sangat penting dan dibtukan, namun yang disayangkan adalah akibat negative dari perubahan tersebutitu yang penting untuk dipertimbankanoleh pengambil keputusan pendidikan di Pusat (Jakarta) maupun daerah dengan memperhatikan kondisi obyektive di lapangan di seluruh Indonesia.oke!!!Harap Mengerti ya pak!! Tuhan memberkati Anda
E-mail Pengirim: roberth_maling83@yahoo.co.uk
Tanggal: 15/Maret 2005


Nama: smpeno
Dari: pekalongan
Saya: Mahasiswa perguran tinggi
Aspirasi / Informasi: Bagaimana kalau anak sekolah tidaklah membayar, dari SD-SMU karena sudah jelas bahwa subsidi BBm untuk anggran sekolah. Dan jangan dilupankan potong gaji untuk DPR yang tak tau malu?
E-mail Pengirim: peno@yahoo.com
Tanggal: selasa 15-03-2005


Nama: ira
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswi yogyakarta
Aspirasi / Informasi: dengan adanya KBK siswa siswi SD, SMP, SMA bisa lebih banyak memperoleh pengetahuan tentang pendidikan secara mandiri dan menjadikan siswa lebih mudah memahami tentang mata pelajaran yang diberikan oleh guru.
E-mail Pengirim: ira@Yahoo.com
Tanggal: 16 maret 2005


Nama: Rachmat Faisal
Dari: Bandung
Saya: Mahasiswa UPI
Aspirasi / Informasi: Perguruan tinggi sudah seharusnya dalam membuka setiap program studi yang ditawarkan harus malalui riset kelayakan berkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap program studi yang dibutuhkan
E-mail Pengirim:
Tanggal: 17 maret 2005


Nama: santoso
Dari: palembang
Saya: di surabaya
Aspirasi / Informasi: seharusnya pemerintah itu tidak lagi menutup mata terhadap fenomena pendidikan kita yang semakin hari semakin terpuruk dan terbelakang bila dibandingkan dengan negara lainnya diasia ataupun diasian, sebenanya pemerintah haruslah tanggap menaggapi ketimpangan2 dalam dunia pendidikan yang menyebabkan output yang dihasilkan oleh pendidikan dalm negeri kita tidak diminati oleh pasar baik mdalam negeri apatahlahi luarnegeri yang rasanya sangat nonesense, yang bahasa krennya orang bilang marketable gitulho, seperti rendahnya gaji para guru, kurangnya sarana pendukung pendidikan, minimnya anggaran yang sampai kepada daerah yang bukan banyak dikorupsi oleh para koruptor2 yang biadab dan laknatullah itu atau lain lain lagi yang segudang pertanyaan yang masih membeku, walaupun memang benaaar pendidikan bukan lah masalah invidu saja akan tetapi merupakan PR kits semua sebegai anak bangsa yang cinta akan tanah airnya sendiri, namun kepada siapalah kita akan mengaadu kalau bukan kepada pemerintah yang telah kita percaya dan kita pilih bersama bukan hanya berleha2 dan memperkaya diri saja. semoga aparat yang demikian lekas sembuh penyakitnya dan bertobat sebelum diazab oleh yang kuasa.
E-mail Pengirim: sanjanie@apakabar.com
Tanggal: 17 maret 2005


Nama: fa.dwiyatno fic
Dari: jawa tengah
Saya: Guru Semarang
Aspirasi / Informasi: Ini bagaimana pula dengan kebijakan Ujian Nasional dan edaran dinas tentang penerimaan siswa baru. Di era otonomi pendidikan dengan pemberlakuan MPMBS apakah segala sesuatunya mesti diatur oleh pemerintah. Apakah gak sebaiknya dikembalikan ke sekolah dan pemerintah tinggal mamonitor kualitas out put sekolah. Ajarilah sekolah untuk mandiri dan bertangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya.
E-mail Pengirim: fransdwiyatno@yahoo
Tanggal: 18 Maret 2005


Nama: WENDA
Dari: WAMENA/PAPUA
Saya: Mahasiswi UNY
Aspirasi / Informasi: Pemerintah daerah kabupaten jayawijaya tidak memperhatikan beasiswa seperti kabupaten lain di provinsi papua. dua periode ini belum ada pembangunan yang baru, tapi hanya pembangunan fisik yang sekarang itu yang dibangun oleh bapak wenas. anggaran dua periode initidak pernah direalisasikan dalam bentuk apapun hanya menjadi kontong kegembiraannya sendiri.

Oleh sebab itu saran saya dana-dana dari main-main sebaiknya mengalokasikan untuk pendidikan sekitar 75% sehingga daerah yang masih terbelakang sumber daya manusia ini bisa konstuksikan seperti provinsi lain di Indonesia.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 19/3-2005


Nama: Satrio
Dari: Karanganyar/Jawa Tengah
Saya: Siswa SMA 2 Karanganyar
Aspirasi / Informasi: Mohon ditingkatkan kualitas pendidikan di indonesia secepatnya mengingat masyarakat sudah terlalu sedih dengan kenaikan harga BBM
E-mail Pengirim: arnold_mika@yahoo.com
Tanggal: 19-3-05


Nama: Andri Haryo Saputra
Dari: Jakarta/DKI Jakarta
Saya: Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Aspirasi / Informasi: Tranparansi Subsidi Dana Pendidikan
Masalah biaya dan mutu pendidikan di Indonesia merupakan masalah yang klasik setiap waktunya akan tetapi hal ini memang selayaknya untuk dipikirkan

Menurut saya, biaya pendidikan serta kualitas pendidikan Indonesia yang rendah diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang mengabaikan masalah pendidikan negara ini. Subsidi pendidikan yang dianggarkan pada APBN tidak seluruhnya dirasakan oleh seluruh rakyat. Karena apabila kita kaji secara bijak, ada korelasi positif antara biaya pendidikan dan kualitas pendidikan karena hal ini menyangkut fasilitas pendidikan dan tingkat kesejahteraan staf pengajar. Sebagian besar institusi pendidikan yang "mematok" biaya besar dalam administrasinya memiliki kualitas pendidikan yang bagus, kita ambil contoh institut/PTN BHMN di Indonesia memiliki kualitas SDM yang lebih unggul jika dibandingkan dengan PTN lainnya.

Sudah selayaknya pemerintah memikirkan bagaimana mekanisme yang tepat dalam penyaluran subdisi pendidikan dan yang terpenting dari itu semua adalah tranparansi dana serta tepatnya penyaluran dana.

Kompensasi BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu utuk bidang pendidikan dan kesehatan senilai 18,1 triliun, merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia akan tetapi apakah semua itu benar-benar terealisasi?

Mutu pendidikan di Indonesia kini menduduki peringkat ke 111 dari 195 negara didunia, Malaysia urutan ke 56, Brunei Darusalan ke 33 dan Singapura ke-25.

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan Indonesia 10 tahun yang akan datang apabila penerintah dan masyarakat tidak memikirkan negara ini. Negara kita memang kaya tapi ingat negara ini pun kaya akan utang luar negeri. Tak dapat dipungkiri bahwa utang tersebut harus dilunasi oleh generasi mendatang.

Oleh karena itu, subsidi pendidikan, penyediaan fasilitas pendidikan serta peningkatam mutu guru/dosen harus dievaluasi setiap tahunnya agar kemajuan pendidkan di Indonesia tidak bersifat fatamorgana.
E-mail Pengirim: andri_upd@yahoo.com
Tanggal: 20 Maret 2005


Nama: angelus
Dari: Palembang
Saya: Masyarakat Palembang
Aspirasi / Informasi: Pendidikan di Indonesia perlu di tingkatkan dengan partisipasi seluru elemen masyrakat dlam bidang keagamaan yang membentuk iman yang teguh,sikap mental dan perilaku hidup bersama oranmg lain, intelektual untuk mengembangkan diri demi masa depan dirinya dan bangsa,budaya agar mampu bersosialisasi dengan budaya lain, dan yang terpenting mengasa jasmani dan rohani agar seimbang sehingga tidak muda terpengaruh atau terptofokasi,maka sejak dini pendidikan dalam berbagai aspek harus ditanamkan sejak awal agar semuanya mengakar dalam hati nurani sehingga anak didk menjadi generasi bangsa yang bermoral.
E-mail Pengirim: angelus@telkom.net
Tanggal: 21 Maret 2005


Nama: I Gede Mendera
Dari: Palembang Sumatera Selatan
Saya: Guru SMA Negeri 17 Palembang
Aspirasi / Informasi: Otonomi Pendidikan yang Belum Memberikan Dampak Kemajuan
Otonomi pendidikan sudah berjalan kurang lebih 4 tahun, tapi belum ada dampak positif yang dirasakan. Justru yang terjadi adalah pengkotak-kotakan sempit, fanatisme kedaerahan. Sebagai contoh, untuk pindah antar kota kabupaten saja sulitnya bukan main, begitu juga kesempatan pengembangan karier menjadi lebih terkungkung dalam suatu daerah. Untuk itu kepada pejabat yang berwenang, pendidikan tingkat SMA sebaiknya otonomi daerah Propinsi untuk lebih meratanya penyebaran sumber daya manusia yang mempunyai potensi.
Terima kasih
E-mail Pengirim: igede_m@plasa.com
Tanggal: 21 Maret 2001


Nama: Sukma Putrawan
Dari: Semarang / Jawa Tengah
Saya: Mahasiswa FE UNDIP
Aspirasi / Informasi: DI Indonesia Pada umumnya kualitas pendidikannya masih rendah terutama dalam bidang eksakta (matematika, fisika, kimia) dan mata pelajaran Bahasa Inggris dan pada umumnya pelajar / mahasiswa di Indonesia hanya mengejar nilai yg tinggi saja dengan menempuh cara yang tdk benar (mencontek, ngepek, dan msh byk cara yang lain), tetapi tidak menguasai materinya sehingga banyak lulusan Sekolah/Perguruan Tinggi yg byk mengaggur krn kurang memahami arti belajar yg sesungguhnya dan ilmunya kurang dipratekkan di masyarakat. Hal ini merupakan tanggung jawab kita semua untuk memperbaiki kulitas SDM dan Pendidikan di Indonesia sehingga negara kita tidak direndahkan oleh bangsa lain.
E-mail Pengirim: sukmacaem@yahoo.com
Tanggal: 21 Maret 2004


Nama: siti arofah
Dari: semarang
Saya: Mahasiswi IAIN WALISONGO SEMARANG
Aspirasi / Informasi: sebagai insan yang peduli akan nasib pendidikan saya ikut prihatin dengan adanya dana kompensasi BBM yang belum juga terrealisasi padahal tujuan dari di naikannya harga BBM adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan taraf ekonomi masyarakat tapi pada praktiknya hal itu belum juga di relisasikan oleh pemerintah. saya mohon kepada pihak yang terkait agar mempercepat proses pencairan dana untuk pendidikan dan lainnya karena keadaan yang sudah semakin kritis.
E-mail Pengirim: synta_385@plasa.com
Tanggal: 22 MARET 2005


Nama: Andi Sopandi, M.Si
Dari: Kota Bekasi/Jawa Barat
Saya: Pengamat Pusat Kajian Kependidikan dan Sosial Budaya
Aspirasi / Informasi: Apabila kita melihat masalah pendidikan di Indonesia ada beberapa masalah:
1. Masalah Belum Fokusnya Pembangunan Pendidikan di Indonesia (baru label atau slogan saja; dana ada tetapi prakteknya bukan untuk pendidikan)

2. Masalah Anggaran Pendidikan Pusat dan Daerah (anggaran lebih banyak untuk proyek dinas/departemen ketimbang menyetuh ke sekolah, siswa, guru sehingga prosentasenya dana 25% dari APBD/APBN kurang lebih 85% kegiatan departemen/DInas dan 15% ke sekolah dari dana 25 %, Kemana hati nurani Kita)

3. Tanggung Jawab Dana Pendidikan dan Pembinaan Pendidikan di Departemen dan Dinas Kota

4. Sarana dan Prasarana

5. Profesi Tenaga Pendidikan yang dianggap mudah dan kaderisasinya disepelekan sehingga profesi guru dan dosen sangat-sangat tidak dihargai lagi (karena rekruitmentnya diseleksi sama dengan rekruitment tenaga lapangan; sebaiknya ada seleksi kompetensi kualitas guru bukan karena lulusan kependidikan tetapi kemampuannya)

6. Masalah Pendidikan adalah masalah yang paling menyentuh seluruh kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, Dunia Pendidikan selalu dijadikan bemper untuk kepentingan politik, padahal belum tentu kepentingan politik fokus dalam pembinaan pendidikan? Mohon Presiden, Bapak Menteri, Anggota DPR yang ribut-ribut kemarin/DPRD sang jago kandang cobalah berwawasan global tapi berpikir/bertindak mikro.

Masalah BBM 2005 sebenarnya itu bom waktu pemerintah Megawati/PDIP yang ingin dilontarkan tapi karena ada pemilu Presiden/Wapres sehingga tertunda, jadi yang kena batunya adalah: SBY (Tapi saya bukan simpatisan SBY)Cuma Masalah BBM bila dihubungkan dengan Pendidikan (Jangan Pendidikan dijadikan Bamper untuk melegitimasi kebijakan politik, kasihanilah kami hanya dijadikan alat padahal dunia pendidikan masih merana)

Alternatif masalah pendidikan: saya ingin tahu apakah Anda telah melakukan pemetaan pendidikan: Angka rill (bukan yang selama ini di BPS berdasarkan hasil proyeksi, karena kenyataan di lapangan bukanlah kondisi yang sebenarnya bahkan hanya sampai tingkat kecamatan sebiknya hingga tingkat kelurahan) potensi pendidikan, Siswa/Siswi per-jenjang, Kompetensi guru/dosen, sarana-prasarana, kurikulum, Buku pelajaran (mohon ada koordinasinya)dan tingkat kebutuhan dunia pendidikan detail hingga tingkat kelurahan.

Memang di Dinas atau Bapeda/bapenas ada pemetaan tetapi tidak operasional dan tidak menggambarkan kebutuhan dunia pendidikan, tapi kalau di bawahnyanya saja datanya tidak benar apalagi ke atas (tingkat nasional) "Semu Semua Data Pendidikan Kita"

Mengapa saya usulkan demikian angka-angka yang ditampilkan seakan-akan menakjubkan agak samar tak menyetuh kondisi sebenarnya. Karena di sinilah para politisi, pengambil kebijakan dapat bermain-main menentukan keputusan politik/kebijakan. Masyarakat seakan dibutakan dengan program, padahal mereka tahu kondisi pendidikan kita sedang krisis!!!!

Maaf, saya merasakan ini karena di lapangan saya di pusat kajian kependidikan dan sosial budaya merasakan keganjilan-keganjilan yang membuat "dunia pendidikan kita terpuruk"
E-mail Pengirim: ndi_sopandi@yahoo.com
Tanggal: 23 Maret 2005


Nama: muhtar
Dari: bandung/jawa barat
Saya: Guru bandung
Aspirasi / Informasi: Jika Bangsa indonesia ingin surviv maka pembangunan bidang pendidikan harus diutamakan, dalam hal ini pemerintah harus taat pada uud 45 anggaran pendiikan minimal 25% pun pemerintah daerah harus mau menopang atau mengeluarkan dana tambahan untuk kesejahtraan guru.

Kesejahtertaan guru dapat berupa gaji guru harus berbeda dengan pns lainnya berikan rewod baqi yang berprestasi dalam bidangnya berikan kemudahan untuk memiliki alat teknologi (kiomputer dsb) ada perhatian khusus kepada putra-putri guru untuk medlanjutkan ke jenjang berikutnya kembalikan pengurusan guru ke pusat

Buktikan pemerintahan yang dikepalai sby-jk untuk mensejahtrakan guru dan tingkatkan sumber daya insani melalui PENDIDIKAN
E-mail Pengirim: msl_005@yahoo.com
Tanggal: 24maret 2005-kamis


Nama: myu
Dari: kotabaru/kalsel
Saya: Mahasiswi bandung
Aspirasi / Informasi: mohon tindak lanjut dari seminar pendidikan khususnya PT
E-mail Pengirim: myu_marin@plasa.com
Tanggal: 25 maret 2005


Nama: RIM WENDA MILLY
Dari: MANADO/SULAWESI UATARA
Saya: Mahasiswa UNSRAT
Aspirasi / Informasi: SAYA SEKARANG KECEWA BIAYA SSP SEKARANG SUDAH MAHAL DAN KAMI ORANG TUANYA BEREKONOMI LEMAH TIDAK BISA KULIA LAGI AYAH.
E-mail Pengirim: Habetnegorwemilly@yahoo.com
Tanggal: MINGGU, 25-04/20005


Nama: Wira Hadi Kusuma
Dari: Palembang / Sumatera Selatan
Saya: Mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang
Aspirasi / Informasi: Aspirasi: Kami berharap IAIN Raden Fatah segera menjadi UIN, karena kami sudah bosan dengan keadaan sebagai institut dibawah naungan Depag. Tapi apalah daya saya selaku mahasiswa yang belum bisa berbuat banyak dan hanya bisa menyamapaikan aspirasi ini dari hati kecil yang tulus dan iklas
E-mail Pengirim:
Tanggal: 26 Maret Sabtu


Nama: muhyiddin
Dari: Banda Aceh/NAD
Saya: Guru Banda Aceh
Aspirasi / Informasi: Saya melihat pendidikan kita tidak mendidik orang untuk segera mengajarkan dan memilih berdasarkan skala prioritas. Kebanyakan orang tua dan siswa kita bahkan guru sekalipun hanya fakus bagaimana anak dapat melanjutkan pendidikan (apa saja). Kalaupun ada yang memilih kebanyakan juga hanya berdasarkan gengsi. Soal mau jadi apa nanti adalah masalah berikutnya. Setiap akhir tahun selalu menjadi masalah bagi orang tua dan siswa dalam hal memilih jurusan.

Pendidikan kita juga belum mengajarkan bagaimana menghargai pendidikan itu sendiri. Penghargaan yang dirancang untuk prestasi pada bidang-bidang pendidikan sangat rendah. Fasilitas pendukung untuk peningkatkan kreatifitas sangat kurang. Guru dituntut meningkat pelayanan dan kualitas tanpa diberikan insentif yang memadai. Akumulasi dari kurangnya penghargaan terhadap para relawan pendidikan menyebabkan sangat sedikit yang bersedia mengambil jalur pengabdian dibidang ini. Adalah realita yang ironi ketika para guru rame-rame melarang siswanya yang cerdas untuk melanjutkan pendidikan ke institusi-institusi keguruan (karena kasihan dengan potensi kecerdasan mereka yang akan terbuang?).

Problem lain pendidikan kita adalah me-label program/kegiatan/model/kurikulum yang sebenarnya tidak lain adalah (maaf) bagaimana menjaga dan menciptakan projek. Begitu banyak uang negara dihabiskan mulai dari seminar/lokakarya, sosialisasi dan pelaksanaan. Yang paling aktual adalah bagaimana ramenya soal UNAS, sementara sulit mencari jawaban apa urgensinya terhadap pertanyaan: siapa user standarisasi UNAS itu sendiri. Alih-alih untuk kepentingan siapa, bahkan hampir tidak satupun yang mensyaratkan nilai UNAS untuk dapat melanjutkan pendidikan ke institusi tertentu atau menerimanya menjadi pegawai/karyawan. Semua harus melalui seleksi yang dibuat tersendiri untuk kepentingan itu. Sebaliknya, muncul pertanyaan apakah para penentang tidak punya hidden agenda?

Berdasarkan hal-hal di atas, saya menyarankan kepada siapapun peminat, pemerhati, fasilitator, lembaga-lembaga donor dll; kita semua, untuk segera melakukan reorientasi bagaimana melihat pendidikan sebagai proses pemberdayaan sehingga produk dari suatu jenjang pendidikan akan benar-benar mampu memerdayakan. Jika ini dicapai justru akan menguntungkan semua pihak. Mari menciptakan dunia pendidikan menjadi sesuatu yang sangat menarik. Menarik karena dibutuhkan, diberdayakan dan memberdayakan.
E-mail Pengirim: mee_din@yahoo.com
Tanggal: 26-03-2005


Nama: amrizal
Dari: duri/riau
Saya: Siswa duri
Aspirasi / Informasi: tolong pak beasiswa untuk mahasiswa yang kurang mampu dikucurkan
E-mail Pengirim: mr_2lek@yahoo.com
Tanggal: 29 maret 2005


Nama: RM. MARITUSO
Dari: TERNATI-TIDORE
Saya: Mahasiswa YOGYAKARTA
Aspirasi / Informasi: Intensitas penelitian dari kebanyakan dosen di negeri ini masih dapat dibilang kurang dan karenanya secara serius mempengaruhi kualitas pendidikan di PT baik PTN maupun PTS.Harapan saya, semoga pemerintah SBY-JK mewajibkan para dosen untuk malakukan kegiatan penelitian, misalnya, dalam setahun setiap dosen harus menghasilkan 2-3 karya ilmiah. dan kepada mereka yang enggan melaksanakan penelitian dikenai jeratan hukum, kalau bisa.
E-mail Pengirim: 1503_tamanti@plasa.com
Tanggal: 29 Maret 2005


Nama: hendri purwoto
Dari: lampung
Saya: Siswa sma negeri 1 metro
Aspirasi / Informasi: saya ingin sesuatu yang benar-benar nyata dalam pengembangan pendidikan. saya sangat prihatin atas nasib teman-teman saya yang sekarang tidak dapat melanjutkan pendidikannya. tidak hanya itu, jika sistem pendidikan terus begini tanpa ada perubahan mungkin selanjutnya lebih banyak dari kami yang terpaksa tidak dapat mengikuti pendidikan sesuai dengan harapan.
E-mail Pengirim: hendri_mix@telkom.net
Tanggal: 28 maret 2005


Nama: Mahmud Sanusi
Dari: Tangerang / Banten
Saya: Masyarakat Jakarta
Aspirasi / Informasi: Pembaca yang budiman,
Menyimak surat-surat yang masuk sebenarnya sudah banyak disampaikan pemikiran bagaimana upaya melakukan perbaikan segala bidang, tidak kalah pentingnya adalah pendidikan. Pendidikan formal, dari SD sampai PT, menurut saya adalah merupakan dasar (pondasi), sedangkan untuk mendirikan bangunannya, proses pembelajaran tidak bisa mengandalkan pendidikan formal saja. Justru setelah lepas dari pendidikan formal, itu adalah awal pembelajaran hidup yang nyata.

Mahalnya pendidikan, membuat pendidikan itu seperti "barang mewah"

Kita memang berharap ada perbaikan di segala bidang. Perubahan besar, hanya akan terjadi karena ada akumulasi perubahan (baca - perbaikan) yang kecil-kecil. Mari kita mulai perubahan-perubahan kecil dari diri kita, keluarga kita, lingkungan kita dst, mulai saat ini, dengan MEMBACA.
Tks/Salam
E-mail Pengirim: mahmudsanusi@yahoo.com
Tanggal: 29 Maret 2004


Nama: Udni Usman
Dari: Sumatera Selatan
Saya: Pengamat
Aspirasi / Informasi: Perubahan kurikulum harus dipersiapkan secara menyeluruh, jangan menambil hanya sepotong-sepotong, termasuk sistem pengganjian guru perlu dipikirkan mengingat beban kerja yang sangat padat, saya sebagai pengamat menyarankan agar kurikulum berbasis kompetensi ditinjau kembali, meskipun pemerintah telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mensosialisasikan kurikulum tersebut. Jangan hanya karena keinginan segelintir profesor yang tidak mengajar di lapangan membuat pendidikan kacau balau.
E-mail Pengirim:
Tanggal: 30 Maret 2005


Nama: BERLIAN INDAH PUSPITASARI
Dari: LAMPUNG/METRO
Saya: Siswi SMAN1 GADING REJO
Aspirasi / Informasi: Pak SBY yg terhormat saya ingin TANYA bagaimana sih para pejabat sekarang, kok seperti itu sampai-sampai adu JOTOS SEGALA UNTUK MEREBUTKAN KURSI KEKUASAAN DINEGARA INI.Apa sih istimewanya kursi pejabat sepertinya kan sama dg kursi-kursi lainnya.Dan kenapa para pejabat malah yang mencerminkan yang ga' baik bagi masyarakat! bagaimana negara kita ini mau maju seperti negara lain kalau pejabat nya aja sampai ADU JOTOS MEREBUTKAN KURSI JABATAN. THANK YOU VERI MUCH.
E-mail Pengirim: AMAL_77
Tanggal: 2 APRIL 2005


Nama: agus sudiyatno
Dari: cilacap/jateng
Saya: Mahasiswa upn"veteran"yogyakarta
Aspirasi / Informasi: Saya sebagai mahasiswa UPN "veteran" yogyakarta merasa sangat prihatin dengan keadaan perekonomian indonesia yang akhir akhir ini sangat memprihatinkan, kenapa harus rakyat yang harus menjadi korban para koruptor-koruptor, apa lagi dengan kenaikan BBM sekarang ini, padahal pemakai BBM 60% rakyat mrnengah kebawah.
E-mail Pengirim: chynotliportaz@yahoo.com
Tanggal: 02 april 2005


Nama: Scokronegoro
Aspirasi / Informasi: Ditinjau dari berbagai aspek, saya melihat SDM kita memang masih rendah dan perlu ditingkatkan. Di bidang ekonomi nilai tukar kita rendah sehingga produktivitasnya juga rendah. Di aspek sosial, SDM kita menunjukkan kepedulian sosial yang belum mencukupi, sikap membypass aturan sebagai kebiasaan, daya saringnya juga parah. Di bidang hukum sebatas retorika dan fatamorgana, pemberantasan korupsi sudah jalan walau tertatih-tatih. Amanat UUD komitmen dana pendidikan 20 persen agar segera direalisir dengan berbagai cara, kalau negara kita ini benar-benar ingin maju, hanya melalui pengembangan SDM harapan itu masih ada, ketika upaya lain berantakan. Only this way, the development problems can be solved. Kita benar-benar harus all-out di semua lini untuk merealisasikan hal ini.
E-mail Pengirim: Scokronegoro@yahoo.com
Tanggal: 3 April 2003


Nama: echi
Dari: bandar lampung
Saya: Siswi sman3 bandar lampung
Aspirasi / Informasi: saya ingin sekolah ditempat yang berwawasan luas, tidak banyak membuang biaya, supaya saya bs meringankan beban orang tua saya
E-mail Pengirim: ecimoet17yeah@yahoo.com
Tanggal: 5 april 2005


Nama: Giant
Dari: Pekanbaru
Saya: Mahasiswa Pekanbaru
Aspirasi / Informasi: pilkada sebentar lagi, kepri sudah jadi provinsi, namun kemana Kepri akan dibawa??? akankah kepri bernasib sama dengan otorita batam? yang katanya untuk kemajuan masyarakat tempatan tapi pada kenyataanya masyarakat tempatan justru semakin tersingkir, kepinggir, sendirian. batam bagaikan buah mangga yang kuning dan wangi diluar namun berulat di dalam. masyarakat kepri harus menyadari bahaya yang mengancam didepan mata. jangan korbankan anak - cucu untuk kepentingan sekelompok orang. semoga dalam pilkada yang akan berlangsung sebentar lagi, akan terpilih seorang putera daerah yang mengutamakan kemajuan daerahnya.
E-mail Pengirim: giantarmi@yahoo.com
Tanggal: 5 April 2005


Nama: Kisum Kusnadi
Dari: Karanggayam ( Kebumen )
Saya: Mahasiswa Bandung
Aspirasi / Informasi: Selama Hukum belum bisa berdiri tegak sebagaimana fungsinya, MUSTAHIL Korupsi dan perilaku menyimpang lainnya bisa diberantas. Kita ngga usah menutup mata dan telinga bahwa kalangan penegak hukum sendiri juga banyak yang menjadi pelaku korupsi, kita juga melihat atau bahkan merasakan bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya tidak suka (ALERGI) dengan hal-hal yang berbau DISIPLIN (intinya Tegakkan Hukum, Bagaimana kalau di indonesia diadakan wajib taat hukum, karena satu-satunya alat untuk memaksa orang adalah HUKUM,
E-mail Pengirim: kisum_kusnadi @yahoo.com
Tanggal: 6 April 2005


Nama: totokmpikir
Dari: surabaya-jawa timur
Saya: Dosen surabaya
Aspirasi / Informasi: kalau ganti menteri jangan terus mengganti sesuatu yang sudah baik, misalnya ada wacana unas,un, bikin orang tua bingung aja. tambah biaya kesempatan bagi yang ingin memperkaya diri.
E-mail Pengirim: totokpikir.yahoo.com
Tanggal: 6 april 2005


Nama: DEDI SUMIRAT
Dari: MEDAN /SUMATRA
Saya: Siswa SMAN 15 MEDAN
Aspirasi / Informasi: Saya rasa sistem pendidikan di sekolah haruslah lebih ketat lagi khususnya di sekolah-sekolah negeri, karena saya tahu bagaimana siswa/siswi yang serius dalam belajarnya dan saya minta kepada pihak pendidik agar setiap tindakan siswa yang tidak mencerminkan norma yang baik untuk terus di tindak dengan sebaik-baiknya.
E-mail Pengirim: Edi_CAHYO@PLS.COM
Tanggal: 06 APRIL 2005


Nama: dick
Dari: banten
Saya: Mahasiswa bandung
Aspirasi / Informasi:
1. sadarlah bahwa selama ini kita hanya bisa meniru dari hasil-hasil terdahulu tetapi tidak pernah berinovasi baru,,,jadi dalam mendidik seseorang seharusnya dilihat hidup dizaman apakah kita.
2. SDM melemah karena kurang GIZI, JADI BERILAH GIZI MANUSIA PENDIDIK KITA BERIKAN MEREKA FASILITAS CUKUP
E-mail Pengirim:
Tanggal: 07-04-05


Nama: dharmono
Dari: jabar
Saya: Masyarakat cilaku - ciajur
Aspirasi / Informasi: Saya baru pindah dari semarang. dulunya saya usaha komputer di semarang. karena istri ingin dekat sama orang tua... ya. saya akhirnya jadi orang CILAKU - CIANJUR. Tepatnya di Blok C5 No. 9 Perumahan Kota Baru Cilaku Cianjur.
Dan saya ingin sekali mengembangkan usaha komputer di bidang pendidikan, service, pengetikan maupun jual beli kembali. Tapi karena tidak adanya modal cita-cita saya sampai sekarang belum terwujud.
Jika ada yang berminat kerjasama usaha dibidang Komputer Hubungi Saya di : 0263-341245
E-mail Pengirim: hanacaraka@yahoo.com
Tanggal: 07/4/05


Nama: CIKLUK
Dari: BANDUNG
Saya: Mahasiswa UPI
Aspirasi / Informasi: Saya melihat bahwa PENDIDIKAN di indonesia udah mengalami sedikit kemajuan dari pada masa2 sebelumnya. SAYA BERHARAP KEPADA BAPAK SBY AGAR PENDIDIKAN DI NEGARA KITA LEBIH DITINGKATKAN.
E-mail Pengirim: cikluk_rtu@plasa.com
Tanggal: 8 APRIL


Nama: seri wahyuni nasution
Dari: pekanbaru/riau
Saya: Mahasiswi universitas islam riau
Aspirasi / Informasi: katanya, subsidi bbm itu dicabut untuk dialihkan ke bidang pendidikan tetapi saat ini kami belum merasa dampak dari pengalokasian subsidi tersebut. maksud saya seperti pemberian beasiswa terhadap mahasiswa/i yang berprestasi ataupun yang kurang mampu. mungkin dana beasiswa tersebut sudah dialokasikan, tetapi tolong pendistribusian dana tersebut haruslah secara jujur dan adil, karena para koruptor sangat mengincar hal-hal seperti itu.
E-mail Pengirim: Trias_ku@plasa.com
Tanggal: 9 april 2005


Nama: Julia Maria van Tiel
Dari: Netherland
Saya: Masyarakat Heiloo
Aspirasi / Informasi: PERLU PSYHCOEDUCATIONAL ASSESSMENT CENTER DALAM KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Gemebyar digelarnya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) saat ini di Indonesia bagi saya rasanya masih ada saja yang mengganjal. Jika pendekatan ini digunakan tentunya akan mengacu pada pengertian bahwa setiap anak mempunyai tumbuh kembang yang unik yang dibawanya sejak lahir dan memerlukan pengasuhan serta metoda pendidikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan begitu bisa dibayangkan jika di dalam kelas akan terdapat penyajian berbagai metoda dan materi yang disebut kurikulum berdiferensiasi. Sehingga setiap anak akan menempuh pendidikan dalam kompetensinya masing masing. Namun siapa yang menentukan keunikan masing masing murid serta menentukan metoda pendidikannya? Tentu saja guru tidak akan sanggup jika tidak dibantu oleh seperangkat tenaga yang mampu melihat berbagai keunikan anak tersebut, yang akan menyangkut perkembangan fisik, psikologis, motorik, perilaku dan sosial, inteligensia serta gaya belajar. Seperangkat tenaga itu bergabung dalam sebuah lembaga yang disebut psychoeducational assessment center yang terdiri dari dokter, psikolog, orthopedagog, ahli gerak, speech patolog, dslb.

Apabila seorang anak dirasa tidak mampu mengikuti kegiatan pembelajaran secara umum di dalam kelas, misalnya prestasi yang dicapai di bawah rata-rata kelas, atau selalu mengganggu jalannya pengajaran, maka anak ini memerlukan pemeriksaan yang mendalam agar metoda dan materi yang diberikan cocok dengan keunikannya tadi. Atau barangkali memang anak tersebut mengalami gangguan neurologis yang mempengaruhi kemampuan belajarnya (disleksia, diskalkulia, atau disgrafia) sehingga memerlukan koreksi serta bimbingan yang lebih intensif. Atau juga barangkali anak tersebut mempunyai gaya belajar yang berbeda dibanding dengan teman-temannya, ia lebih berfikir global, sangat kreatif dan pemikir cepat, sehingga memerlukan tugas-tugas pengayaan dan percepatan untuk mencegah kefrustrasian belajar, berkembangnya konsep diri negatif dan faalangst (perasaan takut gagal) akibat dari materi yang ditawarkan tidak cocok.

Di negara-negara yang telah melaksanakan KBK dengan mapan, cara seperti di atas dilakukan tidak lagi menunggu jika sudah terjadi gangguan atau merosotnya prestasi anak, namun jauh sebelum anak itu masuk sekolah dasar telah dilakukan pemantauan yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Pemantauan berbagai aspek tumbuh kembang ini dilakukan di taman kanak-kanak, dikerjakan oleh dokter sekolah, dan status kesehatannya diterima dari dokter tumbuh kembang. Dokter sekolah ini dibantu oleh berbagai tenaga tadi, dan jika memerlukan observasi serta pemeriksaan lebih intensif bisa dikirim ke lembaga kesehatan yang lebih tinggi misalnya rumah sakit atau pusat-pusat assessment yang lebih khusus.

Kelompok profesi ini akan bekerjasama dengan guru dan orang tua memantau berbagai aspek tumbuh kembang itu sehingga saat masuk ke sekolah dasar ia akan segera mendapatkan bimbingan pengajaran sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Jangan sampai di awal masa-masa sekolahnya anak-anak ini mendapatkan perlakuan yang kurang menguntungkan (salah penempatan, dikeluarkan dari sekolah, mendapatkan perlakuan yang tidak wajar sebagaimana halnya anak-anak berbakat bergangguan belajar - lihat Kompas 7 Sept.2003 tentang anak berbakat) yang akibatnya berlanjut diwaktu-waktu sesudahnya. Dengan begitu taman kanak-kanak bukan lagi hanya sekolah untuk meningkatkan kemampuan akademik, namun lebih berfungsi sebagai pusat tumbuh kembang anak-anak.

Setiap negara mempunyai pula pola masing masing, misalnya Belanda di mana openbaarbasisschool (sekolah dasar negerinya) merupakan sekolah reguler dengan pendekatan inklusif memiliki tiga kompetensi di setiap kelas, yaitu kompetensi anak yang belajar lebih maju, rata-rata, dan tertinggal dengan inteligensia normal sampai tinggi. Muridnya terdiri dari murid berbakat, normal, dan yang mengalami gangguan belajar. Murid yang mengalami cacat fisik primer seperti buta, dan bisu tuli, serta anak-anak yang mengalami gangguan inteligensia berat maupun anak bergangguan psikiatrik tidak dimasukkan ke sekolah seperti ini. Lain halnya dengan New Zealand dimana kerapatan penduduknya sangat jarang menggunakan empat kompetensi dengan memasukkan juga yang mengalami gangguan inteligensia berat. Sedang Norwegia menggabungkan sekolah luar biasa dengan sekolah normal, sehingga berbagai anak yang mengalami gangguan ataupun tidak, dapat masuk ke dalam sekolah inklusif, dengan begitu kompetensinya pun menjadi jauh lebih banyak. Namun tuntutan terhadap kemahiran dan kepekaan gurupun menjadi tinggi.

Di dalam kelas kompetensi anak tidak dibatasi secara ketat seperti halnya program akselerasi anak berbakat Indonesia, di mana ia hanya boleh menduduki program itu saja. Pada KBK model inklusif seperti ini, sajian materi sangat adaptif dengan kemampuan anak. Bisa saja terjadi satu anak sangat mahir dalam matematika ia akan berada di kompetensi atas, tetapi ia mengalami kekurangan dalam membaca, ia akan belajar bersama dengan anak lain yang sama kompetensinya. Atau sebaliknya.

Namun bagaimana dengan kondisi di Indonesia, sanggupkah KBK yang digelar dapat memberikan pembelajaran terhadap anak didik sesuai dengan kompetensi masing-masing. Hal ini akan menuntut berbagai sistem, sistem kesehatan nasional dengan membentuk dokter sekolah, menarik berbagai profesi lain ke dalam sistem kesehatan nasional artinya penambahan formasi kepegawaian, merubah ataupun menambah kurikulum baru bagi sekolah kedokteran, psikologi, dan keguruan. Membentuk jurusan-jurusan baru di sekolah keguruan dan psikologi seperti psikologi patologi, speech patologi, anak dengan gangguan belajar, dan seterusnya. Kemudian membentuk lembaga-lembaga psychoeducational assessment center dimana-mana yang terdiri dari dokter, psikolog, orthopedagog, speech patolog, ahli gerak, remedial teachers dan lain sebagainya.

Dukungan adanya psychoeducational assessment center dan KBK ini akan sangat menguntungkan bagi anak-anak yang mengalami hidden disabilities tetapi berinteligensia normal sampai tinggi, yaitu mempunyai ketakmampuan namun sulit dideteksi secara selintasan, memerlukan berbagai test, yang apabila dibiarkan begitu saja ia hanya akan nampak sebagai anak cacat mental, atau bodoh, lambat belajar, tak mampu membaca, menulis dan berhitung (disleksia, diskalkulia, dan disgrafia). Dengan model pembelajaran seperti halnya Indonesia saat ini, sungguh tidak menguntungkan bagi anak-anak berbakat namun mengalami gangguan belajar, karena kemampuannya tidak harmonis untuk berbagai bidang ajaran. Kadang hanya sangat tinggi di satu mata ajaran tetapi tidak demikian di mata ajaran lain.

Anak yang sudah lulus sekolah dasar akan membawa kompetensinya masing-masing, dan penjenjangannya berdasarkan kompetensi yang diraihnya. Bagi anak yang mempunyai kemampuan logika analisis dan abstraski yang sangat baik bisa disiapkan ke universitas, sedang yang mempunyai ketrampilan dengan tangan yang baik bisa ke sekolah kejuruan terapan. Pada prinsipnya tidak ada lagi anak yang bodoh, anak normal atau tak normal, namun mereka mempunyai keunikan dan kompetensi masing-masing.

KBK memang suatu model pendidikan yang sangat ideal, tetapi pelaksanaannya memerlukan perombakan yang luar biasa, membutuhkan tenaga banyak, persiapan yang sungguh lama, dan kehandalan tenaga yang melakukan assessment, sebab melakukan assessment perlu kehati-hatian yang luar biasa, jika salah mendiagnosa akan terjadi salah penanganan, dan itu merupakan hal yang bahaya. Jika pendukung KBK di Indonesia sebagaimana halnya psychoeducationaal assessment center tadi masih belum ada, saya yakin, KBK sulit untuk dilaksanakan. Akhirnya cuma meraba-raba seperti yang terjadi saat ini dimana banyak sekolah berani menerima anak-anak dengan diagnosa psikiatrik seperti ADHD dan autisme, yang sebenarnya fihak sekolah bukan menerima dalam bentuk diagnosa psikiatrik, tetapi bentuk diagnosa psychoeducational. Jadi diagnosa psikiatrik itu harus diterjemahkan dahulu oleh seorang orthopedagog melalui berbagai test pedagogik untuk menentukan metoda pendidikannya yang dimengerti oleh guru. Guru sekolah reguler tidak lagi berurusan dengan diagnosa psikiatrik.
Julia Maria van Tiel, kelompok diskusi orang tua anak berbakat.
http://gifted-disinkroni.blogspot.com/
E-mail Pengirim: segaintil@yahoo.com
Tanggal: 12 April 2005


Nama: fa.Dwiyatno
Dari: Jawa tengah
Saya: Guru Semarang
Aspirasi / Informasi: Mensikapi MPMBS yang telah digulirkan beberapa tahun yang lali namun masih juga sekolah banyak diatur, para kepala sekolah dan praktisi pendidikan formal harus jeli dan mengambil sikap yang tegas. Apapun kebijakan kita selama itu dapat dipertangggungjawabkan secara publik dan terorientasikan untuk kepentingan peserta didik ya harus berani dan jalan terus walau kadang mesti bergesekan dengan dinas. Pelayanan pendidikan adalah pelayanan publik untuk masa depan anak bangsa maka segala kebijakan yang menghambat pelayanan pencerdasan anak bangsa sebaiknya kita terobos saja. Yang penting transparan, akuntabel dan kredibel dalam pelayanan.
E-mail Pengirim: fransdwiyatno@yahoo.com
Tanggal: 13 April 2005


Nama: Kelly
Dari: Depok
Saya: Staf Administrasi Departement Pendidikan
Aspirasi / Informasi: Sungguh saya sangat prihatin akan keadaan pendidikan dewasa ini dikarenakan harus membutuhkan biaya yang sangat tinggi mengingat keadaaan saat ini yang serba masih harus ditunjang walaupun kondisi demikian mohon kiranya para pimpinan yang berwenang mau menengok kebawah untuk menuju ke satu titik persamaan dalam kemajuan pendidikan dewasa ini yang sudah sangat memprihatinkan keadaan dan kondisi negara kita (kesalahan besar negara kita adalah lemahnya program pendidikan yang merupakan sokoguru negara ini)
E-mail Pengirim: Jurigsopasti@Yahoo.Com
Tanggal: 14 - April - 2005


Nama: Kelly
Dari: Depok
Saya: Staf Administrasi Perguruan tinggi Negeri
Aspirasi / Informasi: Bagaimana SDM kita mau maju lho jika biaya pendidikan sekarang aja melambung sampai ke langit ketujuh tolong dong yang punya jabatan dan wewenang bantu tuh negara jangan enak aja duduk sambil dugem ama ABG kagak pernah mau mikirin negara buang jauh-jauh orang begitu napa. Wassalammm......
E-mail Pengirim: Jurigsopasti@Yahoo.com
Tanggal: 14 - April - 2005


Nama: hasanuddin
Dari: kangean sumenep jatim
Saya: Mahasiswa umsida
Aspirasi / Informasi: hancurnya moralitas bangsa ini haruslah dicermati oleh pemerintah.

Nama: Kukuh Dwi S
Dari: Pekalongan/Jawa Tengah
Saya: Siswa SMA 2 Pekalongan
Aspirasi / Informasi: Pak, saya mau menaggapi masalah UAN tahun 2005 ini. Saya sih ok2 aja dg sistem nilai minimal 0,25 meskipun agak terbebani. Yang akan saya tanyakan kenapa PEMERINTAH menentukan UAN ulangan pada bulan oktober?? kenapa tidak 2 minggu setelah pengumuman kelulusan?? kan kasihan anak yang tidak lulus jadi tidak bisa mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri/Swasta. Padahal bulan oktober seluruh PTN/PTS sudah mulai proses KBM. Itu berarti sama saja menunda kuliah anak 1 tahun. Kalau seperti itu PERCUMA diadakan UAN ulangan!!!!!
E-mail Pengirim: tyo_swiss4257@plasa.com
Tanggal: 15 April 2005


Mengunjungi:
Korupsi dan Pendidikan
Kunjungi Korupsi Org

Untuk yang Peduli Pendidikan

[ Ke Halaman 25 - Klik Di Sini ]






Membaca Aspirasi HOME Menulis Aspirasi Anda

Print Halaman Ini