|
Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut (Halaman 33)
Nama: Dandung Dari: Tulungagung Saya: Pengamat Tulungagung Aspirasi / Informasi: Persoalan bangsa ini adalah belum mapannya pola pikir yang menasional dalam menata pendidikan khususnya. Sifat nasionalisme itu perlu untuk menghilangkan negativisme sempit yang justru merugikan bangsa ini dari keterpuru8kan pendidikan. Bagaimana sekarang para pemerhati pendidikan bisa menyatukan langkah tersebut? Kita jangan bwertengkar sendiri dalam memajukan pendidikan dan jangan sering saluing menyalahkan pihak lain apalagi menmcari kambing hitam, wah, sama sekali bukan pikirannya oranmg terdidik. Semoga pemerhati pendidikan dan pelibat pendidikan itu sendiri secepatnya meningkatkan taraf keilmuan anak didik kita menuju ke suatu titik kualitas yang berwibawa. Semoga E-mail Pengirim: dandung06@yahoo.co.id Tanggal: 2 Juni 2006
Nama: Fitri Fortuniawati H Dari: Bandung/Jawa Barat Saya: Mahasiswi UPI bdg Aspirasi / Informasi: Pendidikan di Indonesia....?!
Pendidikan di indonesia kini telah sedikit kehilangan jati dirinya...!!! seperti dalam hal kurikulum yang berlaku sebagai pedoman untuk proses belajar mengajar. seringnya gonta ganti kurikulum merupakan salah satu pribadi yang plin-plan, hal tersebut menunjukan bahwa pendidikan indonesia tidak punya kepastian mana yang harus di pegang. Memang benar, kurikulum harus menyesuaikan perkembangan zaman, tapi tidak seharusnya dalam waktu yang singkat telah di ganti lagi, hanya karna dirasa kurang ada hasil yang baik. Penulis rasa, suatu kurikulum tidak akan bisa terlihat hasilnya dalam waktu sekejap mata (hanya beberapa tahun), tetapi memerlukan waktu yang lumayan lama untuk melihat hasilnya. Apalagi kalau hanya sekedar ganti nama kurikulum,sedangkan isinya tidak jauh berbada.Kenapa tidak tetapkan saja satu,,,dan bersabarlah untuk menunggu hasilnya. Gonta - ganti kurikulum hanya akan memhambur- hamburkan biaya negara, sedangkan kebutuhan kita masih banyak yang belum terpenuhi. kenapa tidak gunakan saja untuk biaya pendidikan yang lain , seperti biaya sekolah anak bangsa yang tidak mampu untuk sekolah, mereka itu generasi penerus bangsa Bung,,,,!!!!! E-mail Pengirim: v34tone@yahoo.com Tanggal: 03 juni 2006
Nama: Imelda heriyani Dari: Medan/Sumatera Utara Saya: Mahasiswi Universitas Negeri Medan Aspirasi / Informasi: saya hanya ingin supaya pemerintah lebih melihat kehidupan rakyatnya.Jangan hanya mementingkankan kebutuhan pribadi doang,tetapi lihat juga dong nasib anak-anak jalanan,pengangguran,dan juga rakyat kecil lainnya. Diharapkan kepada pemerintah supaya dapat meningkatkan pendidikan yang semakin lama semakin buruk keadaannya. E-mail Pengirim: civics85@yahoo.com Tanggal: 03 juni 2006
Nama: Fuadh Ramadhan Dari: Medan/Sumut Saya: Mahasiswa jurusan Teknik Sipil- UISU Aspirasi / Informasi: Segala tindak tanduk para pejabat harus diubah jangan melakukan tipikor, kan yang rugi bangsa kita sendiri. perhatikanlah nasib rakyat. dewasa sekarang perkembangan pendidikan kususnya di negeri kita bisa di kategorikan bobrok. banyak kita jumpai sekarang dimana2 uang iuran aja yang mahal tapi hasilnya....? sangat kurang, kalau uang pendidikan sangat mahal berarti pendidikan di khususkan buat orka aja dong, bagaimana dgn nasib si miskin...? yang sementara mereka juga memerlukan pendidikan bahkan yang paling tinggi nantinya, dan sangat di harapkan tidak memberatkan mereka dari segala segi bidang pada awal dan akhirnya, sebaiknya itu yang di pikirkan oleh semua pihak. jangan memikirkan persoalan yang sifatnya tak pasti. yang pasti pasti aja, wass..... E-mail Pengirim: f_ram_007@yahoo.com Tanggal: 5-6-2006 Nama: jamaludin abdi purwanto Dari: palu/sulawesi tengah Saya: Siswa sma negeri 2 palu Aspirasi / Informasi: saya merasa tingkat pendidikan di daerah saya sudah cukup baik. namun saya mohon agar dapat ditambah lebih baik lagi. walaupun sekolah saya sudah menerapkan sistem KBK namun sistem tersebut belum efektif. entah kesalahan dari pengajar, atau dari siswa. mungkin juga kurangnya fasilitas yang mendukung pembelajaran tersebut. di tambah lagi murid dibebankan dengan tugas yang menumpuk setiap harinya. bukannya kami sebagai siswa tidak mau menerima tugas tersebut, namun kami menginginkan adanya pembelajaran yang nyata. agar kami dapat mengekspresikan minat kami secara leluasa. pembelajaran yang nyata tersebut seperti, peningkatan sarana pendidikan, menggunakan metode diskusi dan penelitian sekitar 80% dari pembelajaran, serta mengadakan pembelajaran yang menjurus kepada minat dan bakat siswa. semoga di mengerti.. E-mail Pengirim: jamal_violet@yahoo.com Tanggal: 5 juni 2006
Nama: Yuyun Ariawanti Dari: Kediri - Jatim Saya: Mahasiswi UNISKA Aspirasi / Informasi: Saya adalah Mahasiswi UNISKA Jurusan Bhs. INGGRIS. Saya senang sekali bisa menemukan situs ini. Karena lewat situs ini saya bisa mengungkapkan tentang Education di Negara kita saat2 ini. Sebenarnya kalau kita melihat teori yg telah ada memang bagus, tapi pada kenyataannya Pendidikan tsb belum diterapkan dg sungguh2. Dan saat ini yang sedang dibicarakan Pembelajaran dg sistem PAKEM saya sangat setuju, karena dg sistem itu pembelajar bisa aktif dan mengembangkan kreativitas mereka selain pengetahuan dr Guru.Berdasarkan sistem tersebut saya telah menerapkannya ke siswa - siswi SD khususnya materi Bhs. INGGRIS. Saya telah mendapatkan hasilnya bahwa mereka menjadi aktif,kreatif dan tidak bosan.Oleh karena itu, mulai saat ini kita sebagai generasi penerus. saatnyalah kita berusaha dan mencari status pendidikan yang berkualitas terutama guru dan murid.
E-mail Pengirim: nuya_imut@Yahoo.co.id Tanggal: 08 Juni 2006
Nama: devi rizkiya umami Dari: jember Saya: Mahasiswa UNEJ Aspirasi / Informasi: Masalah pendidikan memang sangat penting untuk di bahas terutama dalam perkembangan masa depan bangsa Indonesia.di wilayah kabupaten jember masih banyak masyarakat yang mempunyai tingkat pendidikan rendah,lebih-lebih di daerah terpencil.Pemerintah diharapkan memikirkan masalah tersebut.untuk segera di tanggulangi.paling tidak meminimalkanya. E-mail Pengirim: v_cizi13@yahoo.co.id Tanggal: 9 juni 2006
Nama: Agustinus Wiyarno Dari: Bekasi Saya: Guru Jakarta Aspirasi / Informasi: Pendidikan di negara kita terbelenggu karena kurikulum yang terpusat. Walaupun telah dicanangkan otonomi daerah dan otonomi sekolah, tidak ada sangkut pautnya dengan kurikulum. Usul saya: 1. Kurikulum boleh ditetapkan terpusat, tetapi penjabarannya sebaiknya mengacu kebutuhan dan ketersedian sarana dan prasarana daerah masing-masing. Dengan demikian pendidikan dapat memicu pertumbuhan baik budaya, agama, ekonomi, teknologi, dll di daerah ybs.
2. Banyaknya mata pelajaran dan padatnya bahan ajar, sangat membebani siswa. Bayangkan dalam satu minggu terdapat 12-14 mata pelajaran. Siswa menjadi stres, bahkan depresi. Banyak bahan ajar yang tumpang tindih, misalnya lithosfer terdapat pada pelajaran geografi, fisika, dan sedikit disinggung Biologi. Oleh karena itu mengacu pada usul yang pertama, dalam satu minggu siswa hanya mendapat 5 - 6 mata pelajaran. bahan ajar juga ditelaah sedemikian sehingga padat dan tidak di ulang-ulang pada mata pelajaran lain.
3. Karena tes terbiasa dengan menyilang, siswa tidak dihargai proses mendapatkan jawabannya. ini adalah pengingkaran terhadap nilai pendidikan. Ubah cara-cara ini, niscaya siswa lebih kreatif dan percaya diri.
4. Ulangan Umum bersama, UAN adalah penghargaan terburuk negara terhadap guru, kalau tidak boleh disebut sebagai penghianatan. Guru yang mendidik/mengajar tetapi tidak boleh menguji sendiri dan menyatakan lulus/tidak lulus. Akhirnya Bimbingan Belajar menjamur. dsb.
5. Negara dapat meneliti mutu hasil pendidikan dengan standar tes sahih tanpa harus mengganggu otoritas sekolah untuk meluluskan/tidak meluluskan siswa. Negara lain sudah mencontohkan, misalnya TOEFL, SAT dsb. Toh ... siswa yang lulus dengan nilai terbaikpun belum tentu laku di dunia kerja, kerena yang terampillah yang dicari. E-mail Pengirim: agustinus_wiyarno@yahoo.com Tanggal: 9 Juni 2006 Nama: YULI SARTIKA Dari: PERDAGANGAN / SUMUT Saya: Siswi SMK AW 2 PERDAGANGAN Aspirasi / Informasi: Pak kami mohon agar biaya sekolah jangan terlalu tinggi karena harga BBM sudah melambung tinggi.Banyak yang putus sekolah karena mereka tidak sanggup dengan biaya yang sangat mahal,harapan kami subsidi sekolah agar dijalankan sesuai dengan harapan kami E-mail Pengirim: Tanggal: 10 JUNI 2006
Nama: Yazid Bustomi,S.P. Dari: Gresik, Jawa Timur Saya: Guru SMA Darul Islam Gresik Aspirasi / Informasi: Saya seorang guru pada sebuah Yayasan Lokal Gresik yang telah berkiprah pada bidang pendidikan sejak tahun 1932, saya heran kenapa yang selalu digembar-gemborkan adalah gaji guru negeri kecil, sehingga selalu ada upaya peningkatan gaji guru yang termasuk PNS, yang perlu kita lihat dengan mata dan hati bahwa guru swasta jauh lebih sengsara dari mereka, gajinya jauh dari ukuran UMR, pekerjaannya jauh lebih berat, karena harus mendidik siswa yang mempunyai keterbatasan ekonomi dan kemampuan IQ, dimana kelompom siswa yang demikian adalah kelompok yang tidak dikehendaki oleh sekolah negeri dan sekolah swasta yang memasang label plus atau unggulan, karena kelompok ini tidak mampu bila diminta biaya yang tinggi. sedangkan lembaga-lembaga swasta seperti kami SMA Darul Islam Gresik yang berlokasi di Jl. Dr. setia Budi No. 5 Gresik Telp. 031-3981764, Fax. 031-3989388, Email. sma_di@plasa.com yang komitmen untuk menampung siswa demikian tidak mungkin mengambil dana yang cukup besar pada siswa untuk peningkatan pendidikan namun jarang mendapatkan bantuan.
Untuk itu kami usulkan :
1. Janganlah memberikan bantuan yang sifatnya tidak mendidik dengan memberikan uang tunai yang akhirnya banyak muncul orang kaya mengaku orang miskin
2. Apabila dana-dana tersebut digunakan untuk menggaji semua guru di Indonesia baik Swasta dan Negeri, dan oprasionalnya maka negara dapat menekan atau memerintahkan semua lembaga pendidikan untuk tidak menarik dana apapun pada siswa, dan menetapkan proporsi penerimaan siswa baru dengan proporsi kemampuan IQ tinggi, medium dan rendah, maka akan terwujud sekolah gratis, dan kita akan dapat menilai dengan obyektif mana sekolah yang berkualitas atau tidak, karena mereka sama-sama mengelola siswa yang beragam, tidak hanya mengelola siswa yang pandai-pandai saja.
3. Buatlah aturan untuk semua BUMN dan perusahaan untuk menempatkan jajaran elit perusahaan untuk menjadi ketua komite sekolah dengan ketentuan semakin BUMN itu sehat, maka ia harus mengangani sekolah yang miskin, maka kita dapat bayangkan berapa juta sekolah yang akan ternagkat kualitasnya, dan berapa ratus juta generasi muda yang mendapatkan pindidikan berkualitas, sehingga tidak ada lagi suatu istilah bahwa "Sekolah berkualitas hanya milik orang kaya, sekolah rendah gizi untuk orang miskin" sebab bila negara telah menanggung semua biaya sekolah, maka tidak ada lagi penarikan biaya apapun kepada siswa yang artinya sekolah gratis benar-benar terwujud.
4. Jangan ragu untuk mensbsidi pendidikan, karena Orang Kaya biasanya Banyak Mobil Sedikit Anak, Sedang Orang Miskin Banyak Anak sedikit bahkan tidak punya Mobil, maka subsidi BBM adalah subsidi untuk orang kaya, subsidi pendidikan adalah subsidi untuk orang miskin
E-mail Pengirim: yzd_tmy@plasa.com Tanggal: 10 Juni 2006 Nama: Sany Dari: Bekasi / Jawa Barat Saya: Guru SDN Pejuang VII Medan Satria Aspirasi / Informasi: Kepada Bapak diatas sana yang terhormat. Tolong tengok sekolah kami! Sekolah kami yang pada tahun 1999 pernah memenangkan Sekolah UKS tingkat propinsi kini sangat menyedihkan. Tembok disekeliling sekolah kami yang lumayan luas nyaris roboh. Ditambah dengan adanya kepala sekolah baru yang tidak profesional, kinerjanya sangat buruk, kebijakannya sangat merugikan guru,siswa dan sekolah, membatasi potensi guru dan siswa dan masih banyak lagi. TOLONG LIHAT SEKOLAH KAMI PAK! KALAU PERLU KEPALA SEKOLAHNYA DI MUTASI! Perlu bapak ketahui, sekolah kami sangat berprestasi baik akademik atau non akademik. Kalau hal ini dibiarkan sekolah kami akan terpuruk bahkan ambruk! Sekali lagi lidungi aset bangsa pak! E-mail Pengirim: smartsounds_7@yahoo.com Tanggal: 18 Juni 2006
Nama: Tinih AMK Dari: INDRAMAYU JABAR Saya: Masyarakat INDRAMAYU Aspirasi / Informasi: SAYA MENILAI TINGAKAT PENDIDIKAN DI INDONESIA MUNGKIN BELUM MENGALAMI KEMAJUAN DALAM BEBERAPA HAL DIANTARANYA BIYAYA PENDIDIKAN YANG TINGGI PENYEBARAN SEKOLAH YANG KURANG MERATA DALAM HALA INI SARANA DAN PRASARANA, SEDANGKAN PEMERINTAH MEYETANDARKAN HASIL KELULUSAN ANTARA DESA DAN KOTA YANG DISATU SISI SEKOLAH YANG FASILITASNYA LENGKAP DAN SATU SISI LAIN KURANG HAL INI PERLU DI KAJI LAGI KALAU INGIN MEYETANDARKAN HASIL SETAN DARKAN DULU SEKOLAH SEKOLAH YANG DI DESA SAMA DENGAN DI KOTA BAIK FASILITAS MAUPUN LAINYA YANG MENDUKUNG KBM DI SEKOLAH SELURUH INDONESIA E-mail Pengirim: Tanggal: 19/6/2006
Nama: Deasy Fathia Dari: Garut / Jawa Barat Saya: Staf Administrasi SMK Nusantara Aspirasi / Informasi: Di tengah maraknya kasus korupsi di Indonesia, Presiden menggalakan disiplin terutama dalam hal pengelolaan kegiatan administrasi, untuk mewujudkan pemerintahan yang transparan, akuntable dan beriwbawa. Berbagai media dan juga ICW menginformasikan bahwa korupsi di dunia pendidikan banyak dilakukan oleh pihak Diknas & sekolah (Kepala/Komite sekolah). "Guru Kita" KBR 68H, Kamis, 15-6-2006.
Banyak saran yang diajukan para pengamat pendidikan ataupun masyarakat melalui media ataupun yang saya dengar langsung, bahwa program pendidikan terutama bantuan dana pendidikan, sebaiknya langsung disalurkan ke sekolah masing-masing. Selanjutnya pihak Diknas Kab/Kota menerima tugas dari Depdiknas/pemerintah untuk melakukan monitoring/pengawasan untuk pelaporan. Diknas Kab/Kota ketika melakukan monitoring akan berurusan dengan pengelola informasi sekolah, Kepsek/Lemdiklat, Komite, Yayasan dan Orang tua/siswa. Dengan begitu dunia pendidikan yang transparan, akuntable & beriwbawa akan terwujud.
Semoga. Amin.
E-mail Pengirim: Deasy@slta.zzn.com Tanggal: 20/6/2006
Nama: yusuf Dari: purwokerto Saya: Siswa man purwokerto 1 Aspirasi / Informasi: tolong donk bapak-bapak yang ada di kursi diknas...diadakannya ujian ulang bagi siswa yang tidak lulus sangat kami harapkan,mohon dipertimbangkan dengan bijak!!!,mengingat angkatan kami adalah angkatan kurikulum terakhir.masa anda tidak kasihan?coba kalo anak anda atau saudara anda yang menjalani semua ini?.
saya mendapat informasi dari teman-teman saya yang lain sekolah,mereka mengatakan bahwa mereka mendapat bocoran dari pihak sekolah.bagaimanakah tanggapan anda?.tolong selidiki dan tindak tegas donk!!.adilkah kalau kami yang telah belajar dengan sungguh2 tapi tidak lulus tetapi mereka lulus dengan cara yang sepeti itu dan tidak susah2 payah.tolong kami...........
E-mail Pengirim: electric_skeleton@yahoo.com Tanggal: 20 juni 2006
Nama: ida tiur Dari: medan/sumatera utara Saya: Mahasiswi universitas sumatera utara Aspirasi / Informasi: saya bingung zaman sekarang ini pak, kebanyakan pendidikan tidaklah menetukan status pekerjaan, banyak yang melenceng dari pendidikannya, dimananya yang salah?? kenapa tidak menerapkan ilmunya yang sudah dipelajari?? atau memang sama sekali pemuda/pemudi indonesia tidak ahli dalam bidangnya??
kenapa mahasiswa tidak fokus pada bidangnya sebagai arsitek ataupun bagian kesehatan, kebanyakan jadi bisnis man, kapan lagi bisa para ahli timbul?? terima kasih E-mail Pengirim: idatiur@yahoo.com Tanggal: 21 juni 2006
Nama: RANDY KUSUMA POETRA Dari: METRO,LAMPUNG Saya: Mahasiswa STPDN/IPDN BANDUNG Aspirasi / Informasi: MENANGGAPI TENTANG PERIHAL SISTEM PENDIDIKAN YANG TERDAPAT SAAT INI MEMUNGKINKAN TIMBULNYA PRO DAN KONTRA TERUTAMA TENTANG PENGADAAN UJIAN NASIONAL.BERBAGAI ASPEK PENDAPAT DARI SUDUT PANDANG YANG BERBEDA MENIMBULKAN PEMIKIRAN YANG AMAT SERIUS.
SAYA SANGAT BANGGA DENGAN PROGRAM DAERAH YANG BERUPAYA MENJADIKAN KOTA METRO SEBAGAI KOTA PENDIDIKAN.TAPI YANG PERLU DITANYAKAN.APAKAH SEMUA ELEMEN PENDUKUNG SUDAH BENAR-BENAR SIAP?
BUKAN SISTEM YANG HARUS DIPERTANYAKAN TAPI KINERJA YANG PATUT DIPERHATIKAN.MIRISNYA KOORDINASI PEMDA DENGAN OKNUM DARI STIAP PERWAKILAN TERKADANG MENIMBULKAN MISSCOMMUNICATION.YANG TERJADI SAAT INI HANYALAH PENGEMBANGAN MENUJU KEARAH FISIK/BANGUNAN. YANG NOTABENE ADALAH UNTUK MENUTUPI SEGALA KEKURANGAN DAN PERSAINGAN ANTAR SMA.TAPI ADAKAH YANG MENGERTI BAGAIMANA SEBENARNYA YANG TERJADI DIDALAM INTERNAL LEMBAGA ITU SENDIRI.
YUP BUKTINYA ADALAH SEMUA TEMAN-TEMANKU YANG TERPAKSA HARUS MENUNGGU KAPAN MEREKA BISA MERASAKAN BANGKU LANJUTAN.TAHUKAH KENAPA?
SEMOGA MEREKA MASIH DIBERIKAN SISA KEPERCAYAAN DARI ALMAMATER MEREKA MESKI MEREKA TIDAK TAHU APA YANG MASIH BISA DIBANGGAKAN.SEMANGATLAH KAWAN. E-mail Pengirim: Couplax_Sx@yahoo.com Tanggal: 21 JUNI 2006
Nama: Budhy Dari: Riau Saya: Mahasiswa Padang Aspirasi / Informasi: saya sangat berharap sekali kepada seluruh bapak pemimpin di dalam pendidikan jangan sekali kali menerima uang suap.Kan kasian sekali bagi siswa yang pintar dan g ada duitlagi so .....pasti akan tersingkir,dengan calon siswa atau mahasiswa yg ngasih uang suap.Jadi saya berharap jika siswa/mhssw itu otknya tdk mampu jgn dtrma.Itu malah bkin brbhya bagi kita semua.jangan terima uang suap dari siswa/mahasiswa ygot knya tdk mmpu E-mail Pengirim: budhy_ca3m@yhoo.com Tanggal: 20 juni2006
Nama: Dari: Saya: Staf Administrasi Badan Diklat Propinsi Jawa Timur Aspirasi / Informasi: Mohon Kepada Bapak Presiden SBY untuk meningkatkan/memperhatikan kwalitas Pendidikan Di Negara RI, karena Kwalitas SDM suatu bangsa ditentukan oleh kwalitas Pendidikan di Negara itu sendiri, mohon sangat serta hormat dari Kami kawulo alit yang peduli dengan Nasib Bangsa dan Negara RI. E-mail Pengirim: renbang@Badandiklatpropjatim.co.id Tanggal: 22 Juni 2006 Nama: EDY SANTOSO Dari: SURABAYA - JAWA TIMUR Saya: Staf Administrasi Badan Diklat Propinsi Jawa Timur Aspirasi / Informasi: Mohon Kepada Bapak Presiden SBY untuk meningkatkan/memperhatikan kwalitas Pendidikan Di Negara RI, karena Kwalitas SDM suatu bangsa ditentukan oleh kwalitas Pendidikan di Negara itu sendiri, mohon sangat serta hormat dari Kami kawulo alit yang peduli dengan Nasib Bangsa dan Negara RI. E-mail Pengirim: www.renbang@Badandiklatpropjatim.co.id Tanggal: 22 Juni 2006
Nama: SETIADY YANTOMO Dari: JAMBI Saya: Masyarakat JAMBI Aspirasi / Informasi: Tolong untuk para pejabat diknas jambi, tolong perhatikan kesejahteraan guru luar kota yang harus mengajar dengan perjalanan 3 jam.tolong di kontrol dong,jangan mentang-mentang ada kolega bisa dibuat mengajar dalam kota. E-mail Pengirim: adynine@yahoo.co.id Tanggal: 22-06-2006
Nama: Tunjung Dari: Surabaya Saya: Mahasiswa ITATS Aspirasi / Informasi: Putra/Putri Pak Bambang yang sekarang sudah menempuh pendidikan tiggi (salah satunya du luar neggeri) tantu lulus dari sistem lama dimana kelulusan siswa dinilai berdasar 3 hal : nilai EBTA,nila EBTANAS dan nilai raport, bukan hanya 3 mata pelajaran dalam satu ujian yang berlangsung beberapa jam. Sistem lam,meki juga sangat banyak kekurangan,setidaknya masih menghargai proses belajar yang ditempuh selama 3 tahun tersebut, sistem baru ?? belajar 3 tahun disimplifikasikan cuma kedalam 3 mata pelajaran,kenapa gak selama 3 tahun itu diajarkan 3 mata pelajaran itu saja agar pada UAN semua siswa lebih siap?!!?!? E-mail Pengirim: tjtheleader@gmail.com Tanggal: 23 Juni 2006
Nama: SABAM FRANDO SINAGA (081384302894) Dari: BOGOR/JAWA BARAT Saya: Mahasiswa INSTITUT PERTANIAN BOGOR Aspirasi / Informasi: saya setuju dengan pak menteri, bambang soedibyo.perlu adanya nilai standard UAN biar pelajar indonesia lebih sungguh lagi.wong standard 4,5 ga bsa dicapai???malu ama pendidikan luar negeri.tp buat pemerintah:kalau bisa APBN buat pendidikan sebesar 25 %.salah satu syarat negara yang ingin maju.PENDIDIKAN YANG BERMUTU ITU PERLU BIAYA..... E-mail Pengirim: Tanggal: 23 JUNI 2006 Nama: Moch Fazrin rahman Dari: Gorontalo Saya: Siswa SMP Widyakrama Aspirasi / Informasi: Saya sebagai salah satu dari ribuan siswa diindonesia yang merasa kurang puas dengan sistem pendidikan Indonesia, salah satunya yaitu dalam penyelenggaraan UAN hal ini disebabkan oleh cara cara menentukan kelulusan dengan cara yang objektif tanpa mempertimbangkan ahlak dan juga bakat dari siswa tersebut. Perjuangan seorang siswa selama tiga tahun tidak begitu mendapat kebijakan dari pemerintah, memang seperti yang saya ketahui seseorang dapat dikatakan lulus dengan nilai yang mencapai standar tapi hal itu tidak dapat dianggap sebagai standar untuk menentukan kelulusan seorang siswa karena biasanya dalam penyelenggaraan UAN banyak terjadi kecurangan untuk mendapatkan nilai yang memenuhi standar dan dengan nilai hasil dari kecurangan tersebut maka pemerintah menganggap para siswa di Indonesia telah berkembang dan yang menjadi korban adalah angkatan tahun berikutnyadanyang pasti mau tidak mau para siswa tersebut akan melakuka kecurangan yang akan berlanjut tanpa ada upaya dari pemerintah untuk menegakkan keadilan dan lebih mementigkan kualitas dari pada kuantitas. E-mail Pengirim: mr.rat@vj.la Tanggal: 24-06-2006
Nama: Harsadi Dari: Malang/Jawa Timur Saya: Guru Malang Aspirasi / Informasi: Sebagai pengamat dan orang yang berkecimpung langsung di bidang pendidikan saya menghimbau kepada para tokoh elit pendidikan agar sebelum membuat kebijakan yang berkaitan langsung dengan anak didik, pendidikan atau apapun yang terkait langsung dengan pendidikan hendaknya diadakan survey lebih dulu, bila perlu adakan semacam proyek percontohan sehingga hasilnya optimal yang pada akhirnya membawa ke arah pendidikan di Indonesia menjadi jelas. Saya mengamati kadang arah pendidikan kita mundur (seperti kasus diterbitkannya Surat Tanda Tamat Belajar, walaupun harus mengulang untuk bidang studi yang tidak lulus) atau terlalu maju seperti kasus yang sedang "HOT" saat ini karena siswa diterima lewat jalur PMDK namun terganjal oleh satu bidang studi yang tidak lulus. Atau kalaupun tidak sempat membuat percontohan sosialisasikan lebih dini sehingga sekolah, guru, dan siswa tidak selalu menjadi korban. E-mail Pengirim: Dolfi@telkom.net Tanggal: 24/03/2006
Nama: rawinda Dari: yogyakarta Saya: Siswa madrasah muallimaat yk Aspirasi / Informasi: kebutuhan pendidikan di indonesia cukup tinggi,dan hal ini tidak seimbang dengan lembaga pendidikan yang ada di indonesia.hal ini di karenakan adanya jenjang sosial yang cukup tinggi di kalangan pelajar,sehingga seakan-akan pendidikan hanya diperuntuk kan anak-anak dr kalangan konglomerat.Sedangkan dr kalangan yg biasa-biasa saja masih banyak yg kesulitan,terutama dalam hal materi.sehingga sy mengharap pemerintah dapat mensosialisasikan pendidikan kepada para pelajar yg kurang mampu dlm hal ini.
Terima kasih.Wassalam. E-mail Pengirim: rafina_89@yahoo.co.id Tanggal: 24 juni 2006 Nama: NSR dan RW Dari: Jawa Tengah Saya: Siswi SMPN 2 Wonogiri Aspirasi / Informasi: Pak SBY yang baik, kami mau menyampaikan kritik buat pendidikan Indonesia yang memprihatinkan karena saya dengar kabar kalau salah satu sekolah di wonogiri waktu UAN ada yang menyewa guru di SMP favorit untuk mengerjakan soal untuk siswa2nya. mohon untuk dikoreksi tahun depan. terus ada guru yang membetulkan pekerjaan siswanya agar nilainya bagus dan itu dilakukan saat siswa dan pengawas sudah pulang. kalau begini terus kapan Indonesia bisa seperti negara lain. Makasih ya Pak, tolong ditindaklanjuti dan diperhatikan dan membuktikan bahwa Indonesia mampu seperti negara lain seperti Jepang, Korea, Singapore dll. Bye.... E-mail Pengirim: Tanggal: 26 Juni 2006
Nama: Sawitry Apriati Dari: Jawa Barat Saya: Siswi SMP Negeri 1 Bekasi Aspirasi / Informasi: Assalammu'alaikum Wr. Wb.
Utk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia jangan hanya digunakan cara "gonta-ganti kurikulum",menurut saya,peningkatan dan pengembangan sistem kurikulum yang sudah ada lebih penting dari pada mengubah-ubah kurikulum sebelumnya. Toh, kurikulum kita sudah baik,koq! Tinggal pelaksanaannya saja di lapangan.
Wassalam. E-mail Pengirim: rye_ordinaryprincess@yahoo.com Tanggal: 28-06-2006
Nama: harryl Dari: jakarta Saya: Siswa Aspirasi / Informasi: assalammualikum .wr.wb
saya ingin mengusulkan tentang ujian perbaikan untuk semua sekolah,karena tahun kemarin mengapa ada ujian perbaikan seharusnya tahun ini juga begitu menurut saya,agar anak anak tidak kecewa jadi sebaiknya dilaksanakan jadi mereka dapat melanjutkan sekolah nya masing masing.saya mengusulkan hal itu karena saya merasa kasihan dengan nasib anak anak.
saya mohon kepada MENDIKNAS agar ujian anak anak segera di HER atau ujian perbaikan
terima kasih atas perhatiannya
E-mail Pengirim: harryl_gunawan@ yahoo.com Tanggal: 28/6/2006
Nama: YUNITA Dari: DKI JAKARTA/ JAK-TIM Saya: Mahasiswi UPI YAI Aspirasi / Informasi: KELUHAN
Sejak dipindahkannya tempat pendaftaran,pengambilan formulir SPMB yang sebelumnya diurus langsung oleh UI kini berpindah tangan ke UNJ justru membuat para peserta SPMB menjadi rumit dikarenakan ada saja masalah yang timbul mulai dari formulir yang habis ditempat namun kuitansi register masih berlebihan dijual oleh pihak Bank, adapun seharusnya ada koordinasi yang baik antara pihak panitia penyelanggara dengan panitia pusat UI Salemba agar nantinya kita sebagai calon peserta SPMB tidak kecewa dan harus menuggu lama formulir SPMB yg katanya belum tercetak padahal pihak panitia pusat seharusnya sudah lebih dahulu wanti-wanti dalam pengadaan formulir agar sesuai/seimbang antara kuitansi pembelian Formulir dengan pengadaan kertas formulir pendaftarannya dan tidak ada yang kelebihan ataupun kekurangan. Adapula kekurangan dari cara kerja panitia yaitu kenapa no. urut peserta SPMB tidak berurut sesuai dengan harinya misalnya saja: saat saya mencoba membeli formulir SPMB saya mempehitungkan waktu pembeliannya untuk mempermudah mendapat no.urut kelompok terakhir agar nantinya bisa mendapat tempat ujian SPMB yang tidak jauh dari rumah seperti UNJ di kelompok terakhir tapi pada kenyataanya formulir tersebut habis bukan karena peserta pendaftar spmb membeli langsung dipanitia namun bisa dipolitisisasi melalui jalur kolektif sekolah " Kan seharusnya itu formulir belum habis,lalu dikemanakan ?"
saya beharap nantinya ini menjadi pembelajaran bagi para panitia pengadaan SPMB untuk tahun-tahun berikutnya agar kami para calon peserta SPMB tidak kapok lagi membeli formulir SPMB melalui panitia di luar sekolah. Terimakasih bila nantinya ditanggapi sebagai perbaikan dari Depdiknas E-mail Pengirim: rame_rame_jadi_teman@yahoo.com Tanggal: 30 JUI 2006
Nama: Dandung Dari: Tulungagung Saya: Pengamat Tulungagung Aspirasi / Informasi: Setelah UAN berlangsung, dan kelulusan pun terumumkan, ternyata menyisakan banyak masalah. Antara lain : 1) Mengapa seorang siswa tidak lulus hanya salah satu mata pelajaran saja ia mendapat nilai kurang dari standar?, 2) Mengapa undang-undang Sisdiknas tidak diimplementasikan oleh BSNP, sebab saya pikir materi UAN ini hanya mampu merefleksikan salah satu domain saja yaitu domain kognitif, sementara masih ada domain lagi yang perlu dirumuskan dalam soal UAN?, 3) UAN kali ini mempengaruhi pencarian bibit atlet atai seniman di kalangan siswa yang memiliki potensi sebab apa gunanya ikut dalam pembinaan mata pelajaran tertentu kalau pada akhirnya tidak dihargai oleh pemerintah?,
Dengan kenyataan seperti itu, saya memberikan saran kepada BSNP untuk menkaji ulang materi UAN kali ini agar diadakan evaluasi menyeluruh tentang aspek apa saja yang harus dikembangkan dalam pembuatan soal yang pada intinya bermuara pada mutu pendidikan. Menurut hemat saya, mutu kelulusan kali ini bukan mutu pendidikan melainkan mutu akademik saja. Tolong, semua pihak ikut memikirkan cara terbaik mengangkat harkat pendidikan di bumi Indonesia ini. E-mail Pengirim: dandung06@yahoo.co.id Tanggal: 2 Juli 2006
Nama: Dandung Dari: Tulungagung, Jawa Timur Saya: Pengamat Tulungagung Aspirasi / Informasi: Masih dalam konteks UAN, mengapa masih banyak guru yang belum memiliki visi yang sama dalam hal pengawasan UAN? Masih ada usaha-usaha memperketat situasi ujian dan sebaliknya ada usaha-usaha memperlonggar pelaksanaan pengawasan. Ini yang saya katakan masih belum seragamnya missi guru dalam soal pengawasan UAN yang mengakibatkan diskriminasi edukatif yang pada akhirnya menunculkan bentuk rekayasa yang sebenarnya mencederai pendidikan itu sendiri. Mohon, para guru di seluruh Indonesia memiliki niat yang sama, visi yang sama, dan missi yang sama dalam hal pengawasan pelaksanaan ujian, agar tidak menimbulkan konflik internal yang membebani mental guru untuk mengabdikan dirinya secara baik E-mail Pengirim: dandung06@yahoo.co.id Tanggal: 2 Juli 2006
Nama: Muammar Syaubari Dari: Cirebon Jawa Barat Saya: Pengamat Cirebon Aspirasi / Informasi: Pola pendidikan nasional yang monoton harus segera diperbarui, saya sependapat dengan tidak ada lagi pengulangan UN, ini terobosan yang berani sekaligus bagus.
Kemudian mengenai paradigma pengajaran harus segera di perbaiki, masih banyak di daerah-daerah khususnya yang pedalaman masih menggunakan sistem guru menulis, tolong ini diperhatikan... E-mail Pengirim: muammar_79@yahoo.com Tanggal: 04-07-2006
Nama: amy indra putri Dari: bekasi / jawa barat Saya: Siswi sman 3 bakasi Aspirasi / Informasi: assalammu'alaikum..
kpd Bp.presiden
pa saya sedih deh pa ngeliat temen' saya yg ga lulus. sbenernya sistem plaksanaan un udah bagus tapi menurut saya itu ga seimbang antara apa yang harus kita kejar ( min:4.26 ) sama yang di pelajari. di negara" maju, spt singapura, dimana mereka memiliki nilai batas nilai 8, makin tinggi jenjang pendidikan makin sedikit yang dipelajari. kita tambah lagi tambah lgi (pd pinter" kali y anak indonesia), so ENGGA FOKuS. kenapa sih pa kita engga ikut sistem pendidikan dari negara maju, menurut saya KBK belum cukup. Misal, dari segi jumlah pelajaran yang harus BENAR-BENAR dikuasai. -terima kasih-
wassalammu'alaikum.wr.wb E-mail Pengirim: eendra_poetree@yahoo.com Tanggal: 6 juli 2006
Nama: Yasmina Dari: Jakarta Saya: Pengamat Aspirasi / Informasi: Masalah pendidikan di negeri ini tidak terlepas dari sikap hidup bangsa ini yang berorientasi pada materi bukan pada kebaikan. Bagaimana bangsa ini akan menjadi bangsa yang baik jika tega membiarkan sebagian besar saudaranya hidup dalam kekurangan, sementara dia dalam kelimpahan. Tahan nafsu bung. Nggak dibawa mati itu kenikmatan materi itu. Lebih baik berbuat kebaikan dalam segala hal dan di bidang apa saja. Bukan mencari uang sebanyak-banyaknya yang terpenting, tetapi mencari kebaikan sebesar-besarnya. Apa artinya ada anak yang bersekolah di sekolah swasta mahal, tapi pada saat yang sama ada yang tidak mampu menjejakkan kakinya di ruang kelas karena ketiadaan biaya. Model pembangunan pendidikan macam ini tidak akan membawa kebaikan dunia akhirat. Apakah berharap anak yang lulusan sekolah mahal nantinya akan membangun negeri? Omong kosong. Mereka dibesarkan dididik dalam suasana tujuan menghalalkan cara, jadi pastilah akan melanjutkan apa yang telah mereka serap itu. Jangan mimpi untuk mengejar ketinggalan dari barat hanya dalam puluhan tahun. Barat itu sendiri membangun bangsanya setahap demi setahap dalam jangka waktu ratusan bahkan sudah seribu tahun dan masih belum berhenti hingga sekarang. Itulah yang harus dipelajari, sejarah akan menceritakan itu semua. Hasilnya dapat kita lihat, kemakmuran dan keadilan yang merata yang membuat bangsa ini silau dan terpedaya dan akhirnya terjebak di dalam kemelut yang tidak henti-hentinya. Sabar mas. Buat apa naik mobil mewah, kalau comberanmu bau, jalananmu penuh dengan anak2 yang tidak mendapatkan perhatian, hanya karena segelintir orang yang lupa dengan lingkungannya, terpesona dengan kemakmuran barat yang dibawa oleh iptek mereka, tapi bangsa ini sendiri tidak mau berpikir dan bersabar. Ringkasnya bangsa ini bermoral bobrok. Yang salah bukan sistem pendidikannya tetapi manusianya itu. E-mail Pengirim: yasmi@yahoo.com Tanggal: 08-07-2006
Nama: irfandy Dari: tolitoli sulawesi tengah Saya: Mahasiswa jepang Aspirasi / Informasi: indonesia adalah negara yang penuh dengan sumber daya alam yang menjanjikan. kenapa kita tidak memanfaatkan SDA yg begitu menjanjikan ini. semua ini terjadi karena sistem pendidikan yang tidak ideal. dengan sistem pendidikan yang tidak ideal ini, jangan heran bila indonesia semakin terpuruk baik dalam akhlak maupun ilmu pengetahuan. ayoooooo bentuk sistem pendidikan yang ideal untuk membentuk calon kader bangsa yang saat ini duduk dibangku pendidikan,menjadi kader bangsa yang tangguh. yang mampu membangun bangsa indonesia menjadi bangsa yang besar.
intinya kunci dari permasalahan indonesia adalah sistem pendidikan. klw tidak dirubah dari sekarang maka tunggu aja kehancuran indonesia. ayo pak presiden ini tanggung jawab anda. bentuk sistem pendidikan yang ideal. E-mail Pengirim: s4ngpec1nta@yahoo.com Tanggal: 8 juli 2006
Nama: Amir Syarifuddin Dari: Jember/Jawa Timur Saya: Mahasiswa Universitas Jember Aspirasi / Informasi: Lembaga Pendidikan yang notabene merupakan wadah agent of change telah mengalami pergeseran sebagai tempat paling aman mengembangkan kebijakan yang cenderung pada investasi modal, seiring dengan membludaknya kuantitas anak didik yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi maka harga tawaran dari tiap industri pendidikan makin naik pula, kaya hukum ekonomi ya.... E-mail Pengirim: aladin_madura@yahoo.com Tanggal: 08 Juli 2006
Nama: Cecep Sunarya Dari: Bogor/Jawa Barat Saya: Masyarakat Aspirasi / Informasi: saya setuju dengan program pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara ini. namun sayangnya mencari tempat pendidikan yang sesuai dengan kemampuan masyarakat sekarang ini sangat sulit. sungguh ironis memang kalau lembaga pendidikan hanyalah lahan bisnis bagi mereka yang tidak memperhatikan kondisi negara sekarang ini. harapan saya semoga pemerintah menjawab aspirasi saya, tolong berikan keringanan bagi mereka yang tidak mampu terutama untuk melanjutkan ke sekolah tinggi. terima kasih E-mail Pengirim: qays_tea@yahoo.co.id Tanggal: 18/07/2006
Nama: restika Dari: bukittinggi Saya: Mahasiswi universitas andalas Aspirasi / Informasi: kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tentang pemberlakuan UAN kurang dapat merepresentatifkan tentang dunia pendidikan di indonesia saat ini.Karena kebijakan yang dalam proses pelaksanaannya mendulang kontroversi ini sama sekali tidak dapat dijadikan barometer mutu pendidikan.Hal ini dapat kita lihat,dari banyaknya timbul permasalahan-permasalahan dari peserta UAN itu sendiri.Banyak dari mereka yang protes karena ketidaklulusan mereka.Mereka bilang,"sebuah hasil tidak dapat dinilai dari waktu yang cuman 2 jam saja.lalu apa artinya waktu yang telah mereka habiskan selama 3 tahun,jk ntinya hy sebuah kegagalan yang didapat.kebijakan tersebut sungguh sangat tidak adil".Padahal klo ditilik lebih dalam,kebanyakan dari siswa bahkan ada yang merupakan siswa berprestasi malahan sudah ada yang diberi beasiswa ke luar negeri.tp sebuah kebijakan menghapus semua impian dan cita-cita mereka.Dari sini dapat kita nilai apakah sudah benar kebijakan ini diterapkan di indonesia???melihat SDM indonesia yang sangat sangat belum siap dalam malaksanakan kebijakan tersebut. E-mail Pengirim: tikamaniez@yahoo.id Tanggal: 20/07/2006
Nama: Elfridus Siuk Berkanis Dari: Ende/NTT Saya: Masyarakat Ende Aspirasi / Informasi: Saatnya kita ditantang untuk "mengabdi" more than we can, lebih dan lebih lagi. Pendidikan untuk semua, begitupun upaya peningkatan mutu pendidikan pada multi-tataran adalah oleh semua, lintas komponen. Saya selalu terlibat dalam berbagai aktifitas sosio-pedagogik yang melibatkan komunitas sekolah (guru, murid, orang tua murid, komite sekolah, masyarakat umum lainnya). Kehadiran saja sudah cukup. Apalagi menyumbangkan gagasan cemerlang. Lebih lagi jika gagasan kita mampu menggerakkan spirit masyarakat untuk mulai berbuat sesuatu. Saatnya telah tepat untuk tidak menunggu. Kesadaran seperti ini harus menjadi "virus" mematikan bagi kemalasan berpikir dan apatisme konyol. Hanya satu tekad: PENDIDIKAN is everything. Terima kasih. E-mail Pengirim: elfrieds@yahoo.com Tanggal: 20 Juli 2006 Nama: Sari Lubis Dari: Batam Saya: Guru Batam Aspirasi / Informasi: Berbicara pendidikan Indonesia, berarti tidak terlepas dari intelektualitas setiap manusia. Namun, sudahkah setiap kita, baik itu para guru, para pemerintah, pejabat-pejabat tinggi maupun pejabat-pejabat di daerah-daerah menyadari arti dan hakikat dari pendidikan itu sendiri?
Mengapa kita sibuk berbicara keinginan kita yang kuat untuk membentuk kemajuan negara kita baik dalam segala sektor jika kita sendiri belum selesai di dlam memaknai pendidikan itu? Bukankah pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia? Tetapi, mari kita buka mata, apakah benar tujuan ini? Bukankah malah menyesengsarakan manusia? Bagaimana rakyat kecil bisa mengecap pendidikan, jika untuk masuk sekolah saja harus mengeluarkan sejumlah dana yang tidak sedikit. Bagaimana setiap kita mau mengecap pendidikan dengan baik jika kita terus dibebani dengan orang-orang yang disekeliling kita hanya dengan memeberi sejumlah uang, tanpa perlu bertahun-tahun duduk di bangku kuliah sudah bisa menyandang gelar Sarjana, Master, dll.Bukankah ini malah semakin memicu ke arah persaingan yang tidak sehat? Kalau demikian kondisinya, bagaimana setiap kita mau berusaha dengan baik dan jujur jika kita sendiri melegalkan hal-hal yang tidak layak.
Dan, bagaimana setiap anak mau belajar dengan baik jika sistem pendidikan kita juga masih carut-marut? Guru sendiri pun mau berlaku curang dengan mengangkat nilai muridnya dengan dalih demi nama baik sekolah. Apakah sistem yang baik? Bukankah hal ini malah mengurangi niat anak untuk belajar dan berusaha? Bukanlah hal ini juga dapat membuat anak malas belajar dan juga berlaku curang? Mungkin, dengan menyogok dengan sejumlah uang, maka guru itu pun bersedia menaikkan nilai muridnya?
Belum lagi setiap guru menyadari apa sebenarny misi dan visi mereka dalam dunia pendidikan. Masih banyak guru yang hanya berpikir tugasnya hanyalah memenuhi pendidikan setiap anak secara kognitif tanpa memikirkan bahwa dia juga harus menjadi teladan, menumbuhkembangkan mental dan spititulitas setiap siswanya.
Sekarang ini untuk mau masuk ke bangku pendidikan saja, setiap orang seperti merasa dibebani beban seberat 500 Kg. Jadi, akankah negara kita ini bisa menjadi negara yang maju baik secara intelektual dan spititual dan moralnya, jika mereka tidak bisa mengecap pendidikan? Jika setiap institusi menghalalkan segala cara demi saku mereka sendiri?
Sampai kapan pemerintah tutup mata dengan hal ini? Siswa kita yang akan mengikuti olympiade matematika tahun ini di luar negeri tidak didukung dengan dalih bahwa negara mereka yang tidak mengeluarkan visa bagi siswa kita yang akan berangkat ke sana dengan alasan kedutaan mereka tidak ada di Indonesia??
E-mail Pengirim: nursari_lubis@yahoo.co.in Tanggal: 21 Juli 2006
Nama: syarifuddin Dari: makassar/sul-sel Saya: Mahasiswa Universitas Negeri Makassar Aspirasi / Informasi: pada UN 2006 kemarin saya kebetulan Tim Independen di SMAN 1 Sungguminasa Kab. Gowa .di mana UN di sekolah tersebut di ulangi karena ditemukan ADANYA INDIKASI PERUBAHAN LJK SISWA YANG DILAKUKAN OLEH PARA GURU. jadi saran saya untuk melihat pendidkan di indonesia maju maka yang menjadi kunci sukses adalah Guru. Jadi silahkan bapak fokus saja kepada guru. Baik mengenai proses penerimaan guru, pendidikan guru,maupun gaji seorang guru. Nah untuk itu bapak harus memperhatikan perguruan tinggi yang mencetak guru. Di situlah awal dari mutu pendidikan. E-mail Pengirim: thindong84@yahoo.co.id Tanggal: 24 - 07 - 2006
Nama: dexster Dari: surabaya Saya: Masyarakat surabaya Aspirasi / Informasi: kenapa sekarang2 ini kok biaya apapun mahal apalagi biaya sekolah sekaolah terlalu mahal ini dapat membuat generasi penerus bangsa sangat sulit meneruskan sekollah apalagi dalam mencari kerja ke sebuah kantor kantor yang diinginkan tolong buat dekan,pejabat atau presiden sedang membaca harap ini memnjadi pertimbangan ke depannya merdekaa!!!!!!!!!!! E-mail Pengirim: dexster@telkom.net Tanggal: 24
Nama: sila Dari: solo/jawa tengah Saya: Mahasiswi ums Aspirasi / Informasi: sebenarnya sistem pendidikan di INDONESIA itu spti ap toh yg diinginkan?sedangkan desa dan kota jauh berbeda jika ingin disamakan?kn perlu modal yg cukup byak tidak hanya sekedar bicara saja.look in tv para pejabat cuma bweyak omong aja.hasil O gwede.gue sbg mhsi aj malu klo cma omong doanx! E-mail Pengirim: sil@yahoo.com Tanggal: 25 juli 2006
Nama: george giri Dari: kupang Saya: Mahasiswa STIKOM UYELINDO KUPANG Aspirasi / Informasi: Buat Bapak Piet Talo dan semua petinggi di propinsi NTT ini,mohon agar memperhatikan teknologi informasi di NTT kedepan.soalnya propinsi kita ketinggalan jauh sekali di banding propinsi lain.Tidah susah kok untuk melakunkannya.contoh kecil :tolong di kembangkan warnet-warnet yang bisa dijangkau oleh masyarakat luas di seluruh NTT.dan dikembangkan pula pembelajaran teknologi informasi dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.terimah kasih kalo diperhatikan.add me:george_8585@yahoo.com/http://joker-kp.blogspot.com E-mail Pengirim: george_8585@yahoo.com Tanggal: 26 juli 2006
Nama: DODI SANTOSO Dari: KUDUS/JAWA TENGAH Saya: Mahasiswa UNY Aspirasi / Informasi: Ass. Di jogja banyak sekali PT swasta yang kurang murid. hal ini karena kalah saingan dg PT negeri yang membuka jalur non-reguler. padahal biaya PT negeri jalur non-reguler lebih mahal dari PT swasta. tolong berikan solusi tentang PT swasta yang kekurangan mahasiswa. E-mail Pengirim: dot_gant@yahoo.co.id Tanggal: 28 JULI 2006
Nama: Yatmi Ijdiwas Dari: Pontianak Kalbar Saya: Masyarakat Pontianak Aspirasi / Informasi: Pendidikan tanggung jawab pemerintah, orang tua dan masyarakat. Jadi Tanggung jawab pemerintah kurang lebih adalah sepertiganya. Jadi kalau ada orang tua miskin dan masyarakat tidak mampu, maka pemerintah menyediakan standar minimal untuk anak-anak dari keluarga dan masyarakat miskin tersebut.
Pendidikan perlu dibuat berkelas -kelas. Bagi yang mampu maka untung anak-anaknya dapat masuk ke kelas eksekutif, kalau tidak ya apa boleh buat. Harus ada imnbauan, bukan paksaan, bahwa manusia harus memikirkan masa depan keturunannya. manusia harus sampai tingkatan sikap mental, jangan beranak (dengan sengaja dan suka rela) jika tahu tidak mampu membiayainya. (kecuali beranak karena di perkosa.) Sekarang ini banyak orang tinggal beranak saja sesudah itu menuntut mpemerintah untuk membiayai, padahal bagaimanapun orang tua adalah penanggung jawab utama.
Kecuali ada anak orang miskin tetapi pintar, nah ini aset negara. Anak-anak demikian perlu dibantu.
Bangsa kita perlu belajar bertanggung jawab tidak hanya dapat membuat anak saja. E-mail Pengirim: itsengah Tanggal: 28 juli 2006
Nama: Dari: PADANG / SUMBAR Saya: Mahasiswi UNIVERSITAS BUNG HATTA PADANG Aspirasi / Informasi: ADUH BINGUNG JADINYA MO NULIS APA TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA, YANG KALAU KITA PERHATIKAN SAAT INI SANGAT JAUH TERTINGGAL DENGAN PENDIDIKAN NEGARA TETANGGA SEPERTI MALAYSIA YANG KITA TAHU PADA TAHUN 70AN MASIH MENDATANGKAN GURU DARI INDONESIA TAPI SAPA SANGKA SEKARANG INDONESIA MALAH JAUH TERTINGGAL, MAS-MAS PEJABAT ATAS NGAPAIN DIATAS????? APA ABIS BIKIN JANJI LALU ONGKANG-ONGKANG KAKI AJA, PIKIRKANLAH NASIB PENDIDIKAN KITA, JANGAN PIKIRKAN SEBERAPA BANYAK MAS-MAS HARUS MEMAKAN HAK/HARTA RAKYAT, MANA HATI NURANINYA ATAU MAS-MAS DI ATAS MEMANG GA PUNYA HATI NURANI LAGI SEBAGAI MANUSIA. APA GENERASI PENERUS GA WAJIB MENERIMA PENDIDIKAN YANG LAYAK???? APA MAS-MAS PEJABAT WAKTU SEKOLAH DI AJARKAN OLEH GURU ANDA BAGAIMANA CARA KORUPSI,KOLUSI,DAN NEPOTISME YANG BAIK. SEHINGGA SAMPAI MENDARAH TULANG SAMPAI SEKARANG.KAMI BUTUH PENDIDIKAN YANG BERMUTU, KAMI GENERASI MUDA INDONESIA HAUS AKAN PENDIDIKAN TAPI PENDIDKAN YANG DITAWARKAN SANGAT MAHAL DAN TIDAK BERMUTU.TANYA KENNAPA!!!!!!!!!!!! KEMANA PEMERINTAHAN KITA SELAMA INI,TIDUUUUUR! KALAU MO TIDUR MENDINGAN GA USAH MENJABAT MENDING DIRUMAH AJA JUGA BISA TIDUR.
E-mail Pengirim: GA ADA MAIL Tanggal: 30 JULI 2006
Nama: L.matondang Dari: panyabungan sumut Saya: Mahasiswa Aspirasi / Informasi: di indonesia pasilitas dan mutu pendidikan sangat rendah, dan disuatu perguruantinggi yang ternama pun kelihatan. begitu juga dengan mutu para dosennya. saya bisa bandingkan sebenarnya kuliah di swasta sama ptn sama aja yang membedakannya kadang hanyalah pasilitas. apaligi dptn kalau mahasiswa lama dipersulit bukannya biberi semangat dan saya sangat berharap supaya para dosen jangan semaunya kepada mahasiswanya dan dosen maunya bertanggu jawab atas tugas yang di bebannya E-mail Pengirim: Tanggal: 31
Nama: Sutrisno Dari: Bandung Saya: Masyarakat Bandung Aspirasi / Informasi: saya sangat SALUT kepada para BUPATI/WALIKOTA yang dapat menyelenggarakan "PENDIDIKAN GRATIS" dari SD sampai SLTA seperti Kab. Jembrana, Sinjai, Kalimantan Timur dll, berarti Bapak/Ibu Bupati/Walikota punya wawasan jauh kedepan, karena pendidikan merupakan kunci sukses generasi muda mengahadapi masa depan. Semoga langkah ini dapat dicontoh oleh kabupaten/kota seluruh Indonesia. E-mail Pengirim: sutrisno@len.co.id Tanggal: 1-8-2006
Nama: Yotam. D3 Dari: Irian Jaya Barat Saya: Mahasiswa UNIPA Aspirasi / Informasi: Unipa merupakan salah satu potensi yang baik untuk pembangunan SDM di tanah Papua tetapi salah satu kendala yang di hadi oleh Universitas ini adalah bagai mana pemerintah Pusat maupun daerah mengalokasikan dana yang cukup untuk kelangsungan pendidikan di Universitas INI. E-mail Pengirim: choke_forester Tanggal: 01/08/2006 Nama: adri Dari: Bali Saya: Mahasiswi universitas udayana Aspirasi / Informasi: saya sangat menyayangkan situasi pendidikan di Indonesia saat ini. sebab, tidak sedikit janji janji manis mulut yang tak lebih baik dari bau sampah yang menyengat terhembus dari mereka yang tidak bertanggung jawab yang mengandalkan pamor kekuasaan untuk menjerat rakyat kecil yang terhimpit dan makin dihimpit masalah dana pendidikan. janji yang katanya mengandalkan kepentingan rakyat kecil dan meningkatkan pendidikan sekolah justru menjadi ajang meraup keuntungan yang tidak sedikit. bahkan dari mereka justru menjadikan lahan pendidikan sebagai lahan subur tindakan korupsi dan pemerasan dalam skala besar. ironisnya hal ini tidak terhendus dan terkesan seperti membeli kucing dalam karung yang diselamatkan malaikat kecil yang selalu aman dan jaman tidur dalam sangkar emas meskipun disekitarnya tercium bau mayat yang mengering karena terlantar dan terabaikan oleh janji-janji manis sang penguasa. E-mail Pengirim: Tanggal: 4 Agustus 2006
Nama: intan Dari: banten Saya: Siswi sman 1 pamulang Aspirasi / Informasi: Bpk.presiden yg kami hormati.kami sbg pelajar merasa sangat terbebani dgn NILAI UAN dr tahun ke tahun nilai standart kelulusan pasti naik atau bertambah.sementara itu pemerintah menyerahkan sepenuhnya sistem pengajaran kpd masing2 sekolah atau pengajar.padahal yg tahu keseharian kami di sekolah adalah para pengajar.saya sangat berharap UAN akan segera di hapuskan sblm standart kelulusan semakin naik. E-mail Pengirim: Tanggal: 7 agustus 2006
Nama: Robert.Plaikol Dari: kupang/NTT Saya: Mahasiswa universitas nusa cendana Aspirasi / Informasi: masih banyak anak daerah yang ingin sekalih sekolah namun tuntutan ekonomi membuat banyak orang tua yang tida mamapu menyekolahkan anaknya,saya harapkan pemerintah mau memberikan beasiswa kepada generasi muda yang berada di daerah-daerah.
Mari kita sama-sama membangun bangsa kita ini dalam bidang pendidikan.
TERIMAKASIH E-mail Pengirim: rplaikol@yahoo.co.id Tanggal: 8 Agustus 2006
Nama: M.Syahrizal Damanik Dari: Sumatera utara Saya: Guru Simalungun Aspirasi / Informasi: Bapak Menteri yang terhormat,
bagaimana bisa mutu pendidikan dapat tercapai dengan baik,jika tidak dibarengi sarana yang memadai.Kurikulum KBK yang ditawarkan tidak dapat mengatasi masalah kekurangan sarana tersebut. Paling tidak harus standart kelengkapan sarana pembelajaran yang harus dipenuhi oleh pemerintah agar mutu pendidikan dapat tercapai.Sebagai contoh, sekolah tempat saya mengajar (SMA Negeri I Paneitongah,Kab.Simalungun)tidak punya sarana lab.ipa, komputer, peralatan olahraga, buku-buku perpustakaan dll. bagai mana mungkin anak-anak memiliki kemampuan yang baik, jika belajar mereka hanya menghayal.Oleh karena saran kami, agar pemerintah melihat kesekolah-sekolah yang ada dipedalaman dan melengkapi kebutuhan sarana dan prasarananya.Kalau tidak, apa yang dijalankan sekarang ini sama dengan program pembodohan secara massal.Pendidikan tidak dapat menghasilkan tujuan yang diharapkan. E-mail Pengirim: Izal_79damanik@yahoo.co.id Tanggal: 08 Agustus 2006
Nama: rino wicaksono Dari: DKI Jakarta Saya: Pengamat jakarta Aspirasi / Informasi: Departemen Pendidikan Nasional selama ini belum bisa memanfaatkan dana APBN secara baik, banyak kebocoran dana yang diberikan kedaerah yang mengakibatkan kegagalan program-program DEPDIKNAS,sebagai contoh dana yang diberikan untuk membuka jurusan baru pada SMK banyak yang tidak berhasil E-mail Pengirim: CPNS_05@plaza.com Tanggal: 9 agustus 2006
Nama: Dian Abdul Su'ud Dari: Jakarta Timur Saya: Guru MTs Swasta Aspirasi / Informasi: Sampai hari ini ratusan guru bahkan mungkin ribuan guru Madrasah di wilayah Jakarta timur belum menerima Bantuan Kesejahteraan Guru ( BKG ), padahal guru-guru diwilayah lain di DKI sudah menerimanya, menurut informasi untuk wilayah Jaktim dananya kehabisan dan kalaupun ada tidak penuh diberikan hanya Rp.300 rb E-mail Pengirim: abditea@plasa.com Tanggal: 9 Agustus 2006
Nama: Barkatin,SPi Dari: BOGOR/JAWABARAT Saya: Guru MA Darul Muttaqien BOGOR Aspirasi / Informasi: Pendidikan merupakan modal untuk masa depan yang lebih cerah. Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas setiap sekolah harus memiliki sarana,prasaran yang memadai agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik sehingga anak mampu menguasai konsep dengan melakukan,bertindak dan berfikir kreatif.Namun yang terjadi selama ini pendidikan yang memadai hanya dimiliki oleh sekolah-sekolah yang notabene nya memiliki dana besar untuk membeli saran dan prasarana.Bagaimana dengan sekolah-sekolah swasta kecil yang tidak mampu membeli perlatan mahal seperti alat-alat lab IPA,lab BAhasa dll. Kurikulun berbasis kompetensi yang dicanamgkan pemerintah tidak menyentuh sama sekali disekolah ini. Pergantian kurikulum tinggal pergantian kurikulum.tanpa disertai perubahan metode pembelajaran.Berdasarkan kenyataan justru sekolah-sekolah inilah yang memilikibanyak murid.Karena sekolahnya kecil maka biaya pendidikannya juga kecil.Kebanyakan dari anak-anak tidak mampu.Merekalah generasi anak bangsa yang menjadi tumpuan hidup orang tua mereka. Karena kebanyakan mereka berasal dari golongan ekonomi lemah.Dan ironisnya pemerintah memberikan dana BOS bagi sekolah-sekolah yang orang tua wali murid tidak membutuhkannya.Inikah yang disebut pemerataan disektor pendidikan?
Sebenarnya masalah ini bisa teratasi dengan dibangunnya sarana pendidikan seperti perpustaan wilayah yang ada disetiap kecamatan, atau mungkin pembangunan saran lab IPA/lab bahasa gratis bagi sekolah-sekolah yang tidak mampu dibawah DEPDIKNAS.Dengan cara ini siswa dari sekolah tidak mampu dapat nelek tehnologi, saint dan menikmati fasilitas belajar yang sama seperti yang dimiliki oleh sekolah-sekolah besar. E-mail Pengirim: Tanggal: 12 agustus 2006
Nama: unie Dari: DKI Jakarta Saya: Siswi DKI Jakarta Aspirasi / Informasi: pak tolong untuk ujian mulai th ini s/d seterusnya jangan terlalu memaksakan nilai yang tinggi,kalau nantinya malah bikin para siswa deprsi berat n bunuh diri. harap diprhatikan dan dipertimbangkan.because setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda,bukan tiga hal itu saja,jgn mematahkan semangat siswa yang berprestasi di bidang lain,,knp hanya 3 mata pelajaran yang hanya menentukan kelulusan para siswa?!bukankah semua siswa berhak untuk lulus.klo emang hanya 3 mata pelajaran yang menjadi penentu lulus atw engganya knp kita harus belejar pelajaran lainnya,bukankah yang mengetaui siswa itu berprestasi atw tidaknya adalah guru,,,mohon maaf apabila ada kata2 yang salah atw kurang sopan!!! E-mail Pengirim: basket_girly@yahoo.com Tanggal: 15-08-2006
Nama: Agus widjajanto Dari: Gresik - Jawa Timur Saya: Masyarakat Aspirasi / Informasi: Ass.wr.wb.
Perlu diadakan penelitian bentuk model pembelajaran yang effektif dan effisien dalam meningkatkan kualitas hasil pendidikan yang mengarah pada dasar kompetensi siswa yang real dan kompetensi pengajar yang sesuai untuk masing - masing kelompok siswa berdasarkan kemampuan daya serap siswa ( ingat bahwa masing-2 anak memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda sehingga daya serap terhadap materi juga berbeda ),untuk itu kami usulkan untuk menempatkan para pengajar pada kemampuan dasar anak yaitu dengan adanya kelas pintar, sedang dan lemah dengan pengajar yang berbeda pula untuk masing-2 kelas dan untuk masing-2 bidang study terutama pada bidang pelajaran MIPA dan sekolah lebih menitik beratkan pada model pembelajaran yang mendukung pada sisi Life Skill anak didik.Terima Kasih Wass.wr.wb. E-mail Pengirim: Ags_widz@yahoo.com Tanggal: 21 Agustus 2006
Nama: NENDEN Dari: GARUT/JAWA BARAT Saya: Mahasiswa UPI BHMN Aspirasi / Informasi: SAYA SEBAGAI MAHASISWA BARU YANG MASUK LEWAT JALUR SPMB, MERASA TIDAK SENANG DENGAN DIADAKANNYA JALUR KHUSUS MASUK UNIVERSITAS. MENGAPA DEMIKIAN?
KARENA JALUR KHUSUS ITU HANYA AKAN MEMBODOHKAN SDM INDONESIA KARENA KETIDAKADILAN YANG MENGHENDAKI ADANYA JALUR KHUSUS INI.
SAYA SANGAT PRIHATIN SEKALI DENGAN SISWA YANG MASUK LEWAT JALUR SPMB HANYA SEBERAPA PERSENNYA BISA DITERIMA DI PTN, KARENA ADANYA JALUR KHUSUS INI YANG MENGURANGI JATAH SPMB.
MENURUT SAYA, PENDIDIKAN SEKARANG INI BENAR-BENAR SUDAH TIDAK MENGANDALKAN OTAK SAJA, TETAPI HANYA MERGADALKAN UANG.
JADI, YANG BERUANG BISA SEKOLAH DAN YANG TIDAK BERUANG HANYA BISA GIGIT JARI.
TERIMA KASIH!!!!!!!
MOHON PERHATIKAN ASPIRASI KAMI........ E-mail Pengirim: www.Ipey_cute88@yahoo.com Tanggal: 22-08-2006
Nama: Haris Samawa Dari: Sumbawa Besar Saya: Mahasiswa Yogyakarta Aspirasi / Informasi: Salah satu faktor berkembangnya suatu bangsa adalah dilihat sejauh mana perkembangan pola pikir generasi mudah.oleh karena itu untuk membentuk suatu generasi mudah pemikir,cerdas sudah tentunya pendidikan merupakan salah satu solusi, nah sementara sekarang kalangan menengah kebawa sangat sulit mendapatkan pendidikan. okelah kalau diantara yang sekian banyak anak dinegeri kita ini yang berprestasi mereka akan mendapat beasiswa,lalu yang menjadi pertanyaan lagi adalah bagaimana dengan orang yang belum dapat berprestasi? ini merupakan tanggung jawab kita.mereka tidak akan mendapatkan pendidikan yang layak. dan merekan akan tenggelam dalam alam kebodohan.kalau saya boleh istilahkan "yang pintar makin pintar dan yang bodoh makin bodoh"itu yang harus kita sama-sama mencari solusinya? E-mail Pengirim: Kemas_ku01@yahoo.com Tanggal: 23 Agustus 2006
Mengunjungi:
[ Ke Tahun 2007 Halaman 33b - Klik Di Sini ]
|