SD & SLTPSekolah MenengahPerguruan TinggiPendidikan NetworkAspirasi KitaArtikel KitaBerita Kita

 
Pendidikan Network Homepage
Aspirasi: "n harapan dan tujuan untuk keberhasilan pd masa yg akan datang"
(Ref. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas, 2001, P 72)

Membaca Aspirasi Aspirasi Kita 6 (Index)
Ke Halaman 4, 5, 6, 7, 8
Menulis Aspirasi Anda



Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut
(Halaman 6)

Nama: ira
Dari: Jakarta
Saya: Masyarakat Kebayoran Baru
Aspirasi / Informasi: Saya hanya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak, saat ini anak saya yang pertama sekolah di Sekolah Dasar Negeri di daerah Kebayoran Baru Jakarta Selatan kelas 2. Dalam kesehari harian saya mengamati perkembangan anak saya di sekolah, dan kesimpulan saya saat ini bersekolah di sekolah Negeri sangatlah minim, kenapa saya bilang begitu, karena dari jam sekolah nya saja hanya relatif sedikit , tiap hari hanya 2,5 jam. Dan ditambah lagi kondisi pelajarannya yang tidak jauh dari buku buku diktat yang diberikan , saya belum melihat kreatif dari guru sehingga pengetahuan anak sangat terbatas dengan apa yang ada di buku tersebut dan sangat membosankan karena kurang bervariasi.

Memang kalau di banding dengan sekolah swasta sangat lah jauh dari segi mutu pendidikan . Memang juga kalo dilihat dari uang sekolahnya juga jauh lebih murah, tetapi apakah nasib anak anak di sekolah negeri (masyarakat ekonomi sedang kebawah) hanya rata rata atau dibawah rata rata kemajuan ilmu pengetahuan yang berkembang. Saat ini banyak buku buku penunjang telah diterbitkan cobalah para guru guru ini mengembangkan pelajaran disekolah menjadi sesuatu yang lebih menarik dan bermanfaat agar generasi bangsa kita ini lebih maju dan dapat diandalkan. Terima kasih
E-mail Pengirim: simiae@centrin.net.id
Tanggal: Kamis, 20 Maret 2003


Nama: hasan
Dari: jombang/jawa timur
Saya: Mahasiswa surabaya
Aspirasi / Informasi: bahwa sumber daya manusia indonesia perlu ditingkatkan adalah merupakan keharusan. untuk itu pemerintah perlu meningkatkan perhatiannya dalam masalah ini, dengan cara memberikan subsidi bidang pendidikan khusunya buku-buku yang berkualitas dan beasiswa. disamping itu juga gaji guru/dosen perlu diperhatikan, supaya mereka lebih tenang dalam mengamalkan ilmunya, karena kebutuhan minimalnya telah terpneuhi.
E-mail Pengirim: siswanto03@al-islam.com
Tanggal: 20 maret 2003


Nama: Jajang Nurjaman
Dari: Cianjur
Saya: Masyarakat Pasir Nangka
Aspirasi / Informasi: saya mohon saran sama masarakat agar selalu tenang dalam menghadapi masalah masalah kecil jangan diperdebatkan biarlah para elit politik yang menangani dari yang korupsi maupun apa?

kita jangan pusingin ntar juga udah kenyang makan duittttt masarakat ntar juga ada balasan nya dari yang maha kuasa kita serahin aja pada yang maha kuasa kita tenang saja? sebaiknya kita perhatikan anak-anak kita yang masih skolah kita berdoa biar anak-anak kita mencapai cita-citanya Amin.....
silah kan beri nilai pada pembicaran saya ini.
pengirim: JAJANG NURJAMAN
email: dickyanandany2000@yahoo.com.sg
E-mail Pengirim: dickyanandany2000@yahoo.com.sg
Tanggal: 25-03-2003


Nama: M.ABDULRAHMAN
Dari: PEKANBARU/RIAU
Saya: Rektor PEKANBARU
Aspirasi / Informasi: Menurut saya SDM Sekarang di tuntut untuk benar-benar dapat mengikuti perkembangan jaman. karena sekarang sudah jamannya sudah cangih semua
E-mail Pengirim: RAHMAN_GAUL@ERAMUSLIM.COM
Tanggal: 03-APRIL-2003


Nama: Jimmy
Dari: yogya
Saya: Mahasiswa UII
Aspirasi / Informasi: memaknai pendidikan sama halnya dengan memaknai kehidupan. karena sedari awal kita dituntut untuk survive dalam hidup ini melalui proses yang selama ini dikenal dengan nama BELAJAR.

Dengan belajar kita tahu! bahkan descartes, salah seorang filosof yunani pernah mengatakan " Cogito Er sum....." akau berpikir, maka aku ada!. melalui berpikir kita belajar, sehingga terbukalah selubung hitam tirai yang membatasi mata hati untuk ilmu pengetahuan. maka tak dapat dipungkiri lagi kenyataan bahwa pendidikan itu perlu. namun apakah pendidikan itu hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal? mahalnya harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pendidikan itu membuat orang bersikap apatis terhadap ilmu. keterlenaan kita dalam selubung semu Hedonisme telah membuat kita malas untuk sekedar "berpikir". "ah, nggak sekolah juga aku bisa hidup!" ungkapan yang sejenis ini banyak saya temui dikehidupan. namun tidak semua yang merasakan itu! ada yang tetap menomorsatukan pendidikan. "biar gwa kaya gini nih keadaannya, yang penting anak gwa kudu jadi orang pinter!" ujar seorang ibu yang berasal dari keluarga yang kehidupan ekonominya bisa dibilang sangat pas-pasan.

Keterenyuhan bisa saya rasakan dari kata-katanya. tapi dengan mahalnya biaya untuk menyekolahkan anak, sanggupkah ibu ini terus bertahan? sekali lagi apakah pendidikan itu harus "formal"? Ibu yang satu menangis, sedangkan ibu yang lainnya berfikir keras menyelamatkan bangsa ini dengan memotong subsidi pendidikan. dan dengar-dengar katanya untuk membiayai utang para koruptor? entahlah! mengutip syair dari sebuah lagu " ONLY GOD KNOW'S...."
E-mail Pengirim: jimmy_pramana@yahoo.com
Tanggal: 6 April 2003


Nama & E-mail (Penulis): Fauzi Zarkasih
Saya Pengamat di Jakarta
Tanggal: 6 April 2003
Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia
Topik: Sistim Manajemen Modern
Sejak Indonesia merdeka, pemerintah belum pernah menyediakan dana yang cukup untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dana yang ada lebih sering dipakai untuk pembangunan materil. Padahal, manusia adalah faktor utama dan paling penting dalam mendukung pembangunan Indonesia. Dalam hal ini pendidikan dasar merupakan salah satu penunjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kita lihat negara Jepang, berapa persen dari dana pembangunan yang dikeluarkan untuk pendidikan dasar ? Saya berasumsi bahwa dana yang dikeluarkan lebih dari 50%. Bagaimana dengan Indonesia ? Barangkali kurang dari 10 % ???

Untuk itu sebaiknya pemerintah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk sektor pendidikan dasar. Kita telah mengenal dan menjalankan program anak asuh. Mengapa tidak kita terapkan program bebas biaya bagi anak-anak kurang atau tidak mampu ?

Disamping itu kita terapkan program bea siswa bagi pelajar-pelajar tingkat menengah ( SMP dan SMU ) yang berprestasi dalam pendidikan maupun olah raga. Dengan demikian bukankah kita telah mendukung dan mendorong kemajuan negara kita ?
E-mail: fauzar@myquran.com
Tanggal: 6 April 2003


Nama & E-mail (Penulis): erfan efendy SH Sp N
Saya Masyarakat
Topik: komputer hibah yang malang dan tragis
gegap gempita terdengar khabar " pemerintah telah setuju hibah 1 juta komputer untuk dunia pendidikan " pada sekuel ahir ditulis jelas departemen pendidikan nasional telah merekomendasikan sejuta komputer hibah dari jepang untuk dan hanya untuk sekolah dasr dan menengah " gebyar ini ternyata hanya menjadi haedline saja di koran terutama koran jawa timur
Tanggal: 8 april 2003


Nama: ILHAM
Dari: Ternate
Saya: Mahasiswa ISTN jakarta
Aspirasi / Informasi: Pendidikan merupakan sarana yang tak bisa ditawar-tawar lagi saat ini, namun pada pelaksanaannya terkadang selalu mengalami ketimpangan akibat hak dan kewajiban yang berjalan tidak selaras. sistim pendidikan nasional yang di rubah dari-tahun ketahunhingga kini belum menunjukan peningkatan yang begitu signifikan, misalnya tertinggalnya ilmu-ilmu baru yang didapat dari sekolah atau perguruan tinggi, fasilitas kampus atau sekolah yang kurang memadai, dll.

Hal inilah yang menyebabkan pendidikan di indonesia tertinggal jauh dengan pelajar luar negeri, belum lagi masalah sosial seperti Gaji guru, mahalnya pendidikan, dll...yang sangat mengganggu pelaksanan pendidikan. untuk itu diharapkan sesegera mungkin untuk diatasi hal seperti itu bila masyarakat indonesia mau eksis di AFTA nanti.dan yang paling utama adalah dalam membenahi pendidikan nasional adalah peran penting pemerintah dan istansi terkait yang benar-benar peduli terhadap pendidikan di negeri tercinta kita ini.
E-mail Pengirim: Volvo202000@plasa.com
Tanggal: 12-04-2003


Nama: Zulfa Nh
Dari: Cilacap-Jawa Tengah
Saya: Mahasiswi IAIIG Cilacap
Aspirasi / Informasi: Setelah kuliah dan menyadari sistem pendidikan Indonesia yang kapitalistik rasanya saya marah. Melihat kenyataan mahalnya biaya pendidikan yang kemudian tidak dapat dijangkau oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, saya pesimis sekali 10 tahun lagi masih ada negeri bernama Indonesia yang konon makmur dan kaya SDA.

Saya sedih, pemerintah lebih suka berkiblat ke barat dan mengabaikan masa depan Indonesia, saya mengangankan di negeri ini pendidikan bisa dinikmati dan diakses dengan mudah sebagai hak masyarakat sebagai mana hak menghirup udara segar di pegunungan yang asri. Hak masyarakat adalah kewajiban pemerintah. Mohon direnungkan dan ditindaklanjuti
E-mail Pengirim: zulfa7479@yahoo.com
Tanggal: 13 April 2003


Nama: Suhairi
Dari: NTB
Saya: Mahasiswa UAD Universitas Ahmada Dahlan di kota Yogya
Aspirasi / Informasi: Melihat perkembangan Indonesia bahwa, hingga dewasa ini, indonesia masih rendah mutu pendidikannya dibandingkan dengan negara-negara lain. Berangkat dari itu, dipandang perlu dibenahi oleh pemerintah (utamanya) dan oleh semua pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan indonesia dalam rangka meningkatkan mutunya secara utuh, yaitu meliputi mutu calon guru itu sendiri, Dosen, kurikulum, aspek administrasi (managemen), serta peserta didik. proses pembibitan melalui LPTK juga perlu ditingkatkan mutunya.
E-mail Pengirim: hairia100@hotmail.com
Tanggal: 14 April 2003


Nama: ketua HIMA PLB
Dari: Solo, Jawa Tengah
Saya: Mahasiswa Universitas Sebelas Maret
Aspirasi / Informasi: kita tidak bisa memisahkan antara pendidikan dan permasalahan bangsa, oleh karenanya, bila kita bicara pendidikan, berarti pendidikan yang pada akhirnya juga mampu memberi solusi terhadap krisis multidimensional bangsa indonesia. dan inti dari krisis bangsa adalah krisis iman/moral, maka pendidikannya pun pendidikan yang mengarah pada perbaikan moral anak bangsa. BILA PENDIDIKAN HANYA MENCETAK GENERASI AKBAR TANJUNG ATAU MEGAWATI, maka BUAT APA KITA BICARA PENDIDIKAN !
E-mail Pengirim: pangkalan@plasa.com
Tanggal: 14 april 2003


Nama: Arif Amirul M
Dari: Solo , Jawa Tengah
Saya: Mahasiswa UNS Surakarta
Aspirasi / Informasi: pendidikan indonesia sangat memprihatinkan. siapa yang masih peduli ???!!!
E-mail Pengirim: arif_am@myquran.com
Tanggal: 15 April 2003


Nama: muhammad akram
Dari: makassar/ sulawesi selatan
Saya: Mahasiswi Universitas Muslim Indonesia
Aspirasi / Informasi: saya ingin diadakan kegiatan ilmiah, terutama yang berhubungan dengan komputer, seperti work shop, seminar, pameran pendidikan (komputer), dll semoga ini menjadi pertimbangan bag iyang membaca .Sekian dan Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya !!!
E-mail Pengirim: senyumkoe@yahoo.com
Tanggal: 30/04/2003


* Aspirasi - Hari Pendidikan Nasional *

Nama: Isti Nurrohmah
Dari: Klaten, Jawa Tengah
Saya: Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta
Aspirasi / Informasi: Hari ini tanggal 2 Mei semua instansi pendidikan memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tidak terkecuali di kampus saya, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, Jakarta. Para karyawan dan dosen melaksanakan upacara bendera. ya..... setiap tahun hari pendidikan di peringati dan di peringati. Tapi ...... sudahkah mutu pendidikan kita sesuai dengan yang kita harapkan? Sudahkah pendidikan kita menggangkat moralitas bangsa?

Berkaitan dengan RUU Sisdiknas, kemarin banyak demo yang mendukung disahkannya RUU Sisdiknas dan ada juga yang menolak RUU Sisdiknas. Kelompok yang menolak beralasan bahwa RUU bertentangan dengan asas pluralisme. Padahal, di balik penolakan lebih disebabkan akan terbukanya kedok sekularisme dan misi yang mereka bangun melalui pendidikan berlabel agama tertentu. Selama ini mereka telah memaksa orangtua murid agar mengikuti pendidikan yang tidak sesuai dengan agama si murid. Akibatnya, banyak terjadi proses pemurtadan dan pengabaian agama, yang merupakan awal sekularisme. Lebih dari itu kondisi tersebut juga mengakibatkan liberalisme tanpa batas serta pengabaian terhadap etika dan moralitas (Prof. Suyanto, Republika, 2 Mei 2003, hal. 9 kolom 3-4).
E-mail Pengirim: istinurr@yahoo.com
Tanggal: 2 Mei 2003


Nama: Isti Nurrohmah
Dari: Klaten, Jawa Tengah
Saya: Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Aspirasi / Informasi: Saya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ketika mau masuk SMP orangtua saya tidak mampu membiayai sekolah saya. Padahal ketika lulus SD saya mendapatkan rangking I. Beruntunglah saya, karena warga Muhammadiyah di daerah saya di Karanganom Klaten, begitu peduli dengan pendidikan saya. Akhirnya saya masuk di SMP Muhammadiyah IX Karanganom. Kemudian saya juga bisa melanjutkan pendidikan saya di SPG Klaten berkat dukungan mereka dan juga orangtua saya dengan predikat lulusan terbaik pertama. Kemudian saya merantau dan kuliah di Jakarta dengan bekerja keras untuk membiayai pendidikan saya.

Dari pengalaman saya yang pedih ini, saya mencita-citakan dan mendambakan generasi saya tidak mengalami kesulitan biaya pendidikan seperti saya ini. Oleh karena itu saya menghimbau kepada pemerintah agar meningkatkan anggaran pendidikan, sehingga semua anak usia sekolah bisa menikmati pendidikan dengan "layak", syukur-syukur bisa gratis. Kasihan sekali, mereka yang punya Inteligensi yang bagus, tapi karena ndak punya biaya, mereka harus putus sekolah. Padahal mereka adalah Sumber Daya Manusia yang potensial. Apakah negara tidak merasa rugi??? Jika warga negaranya yang punya potensi bagus akhirnya sia-sia hanya karena tidak punya "uang" untuk biaya sekolahnya? Sementara itu uang negara banyak dikorupsi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Seandainya saja, "uang rakyat" yang dikorupsi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu dikembalikan ke negara....... tentu uang itu bisa digunakan untuk anggaran pendidikan anak-anak bangsa......
E-mail Pengirim: istinurr@yahoo.com
Tanggal: 2 Mei 2003


Nama: FERYANTO WERNER
Dari: MEDAN/SUMUT
Saya: Mahasiswa UNIMED
Aspirasi / Informasi: Aspirasi / Informasi: Pendidikan berkembang setiap saat, namun para pengelola pendidikan bergerak saat ada proyek. Ini dua masalah yang sukar dicari titik temunya. Saya ngomong atas nama kebodohan saya, yaitu mestinya pendidikan di Indonesia itu dikelola secara nasional sebab bagian pendidikan itu meliputi berbagai aspek kehidupan yaitu agar manusia mengenal tatanan yang benar dan berlaku bagi kehidupan itu sendiri. Otonomi mestinya tidak sembarangan seperti sekarang ini, saya yakin kalau tidak segera di tata ulang secara nasional akan segera runtuh. Kalau depdagri di otonami masuk akal, tatanan pemerintahan di semua daerah berbeda-beda sesuai adat istiadat dan kesukuan. Namun kalau pendidikan dan insan di dalamnya termasuk guru dan murid di kotak-kotak dengan otonomi yang nantinya banyak orang jadi menurun gairah kerjanya karena di satu daerah ada yang dapat tambahan tunjangan sekian ratus ribu, di lain daerah tidak karena minusnya pendapatan daerah. Nah yang tidak khan jadi kerja monoton tak ada surprise. Itu satu masalah insentive. Belum masalah yang lain.

Sekarang ini seolah-olah pendidikan hanya dijadikan obyek berebut proyek antara pusat dan daerah. Dilihat dari segi menterinya, la wong menterinya sementara ini kurang responsip terhadap masalah yang dihadapi anak buahnya. Coba bayangkan ada guru baru yang bekerja atas SK dari beliau, di daerah sudah bekerja selama satu tahun gajinya tidak turun bahkan SKnya tidak berlaku hanya gara-gara alasan DAU atau kalah oleh SK bupati yang menggusurnya ke daerah lain. Itu beberapa masalah yang dapat kami sebutkan. Coba kalau para pemegang kendali pendidikan mau melihat di media massa, atau di jaringan online internet mungkin mereka dapat minimal nggedumel dengan temannya, kalau mereka tidak mau imbang dengan uang saku yang mereka teken tiap bulan alias hanya sama dengan saya yang tak punya kekuatan apa-apa. Kalau begini terus belum ada harapan cerah di bidang pendidikan.

Kapan ada Menteri yang betul-betul dari orang pendidikan dan pernah di lapangan sehingga pernah merasakan pahit getirnya orang bergelut di bidang pendidikan dan mereka punya keberanian dengan taruhan jabatannya hilang jika gagal dalam membuat inovasi yang positif (bukan seperti sekarang inovasi kok dalam bidang Kurikulum). Kurikulum kita sebetulnya sudah sangat kemajon artinya satu anak disuruh kuasai berbagai bidang pelajaran yang kadang-kadang mereka memang tidak suka atau tidak sesuai dengan bakat dan kemampuan bawaannya. Kalau luar negeri kan sudah dibentuk kelompok-kelompok bakat dan spesifikasi sesuai dengan bakat dan ketrampilan dasar yang dimilikinya. Jadi orang luar kalau pakar yang memang pakar, bukan seperti Indonesia hanya pakar-pakaran. Ada yang menyebut dirinya pakar otonomi, tapi mana buktinya? Kalau memang dia pakar pasti pendidikan tidak tercerai berai dengan segenap perbedaan yang mestinya ada dan di akui. Coraknya memang berbeda namun pengelolaannya harus terpusat. Ingat jangan salah paham ....! teori ringan: "semakin banyak jalan yang dilalui oleh suatu urusan maka urusan itu sendiri jadi tambah ruwet masalahnya di setiap jalan ada sesuatu yang dipermasalahkan yaitu uang". Nggak percaya selidiki dan tanya secara jujur, akui dan jangan di manipulasi data yang anda selidiki, ok!
E-mail Pengirim: yant_140@yahoo.com
Tanggal: 02 MEY 2003


Nama: Lia
Dari: Jakarta Selatan
Saya: Dosen Universitas Swasta
Aspirasi / Informasi: Saya sangat mengharapkan kemudahan serta publikasi mengenai beasiswa diperbanyak baik untuk beasiswa bagi pendidikan dasar dan menegah maupun bagi para lulusan sarjana strata 1. Di DEPDIKNAS sendiri ketika saya berusaha mencari informasi beasiswa ternyata prosedur yang berlaku sangat rumit, ditambah lagi kelengkapan administrasi yang terlalu banyak sehingga memnghambat proses pencapaian kami para dosen muda yang ingin meneruskan beasiswa ke luar negeri. Saya memohon agar petugas yang melayani pertanyaan dan kelengkapan administrasi di Dediknas Senayan agar lebih efektif serta ramah (maaf jika forum ini saya jadikan sebagai ajang curhat).

Sedangkan saran saya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya perbanyaklah buku-buku terbaru dan menambah jumlah frekuensi hadirnya para ahli dari luar yang konsern terhadap masalah pendidikan di tanah air sehingga bisa saling berbagi cerita jika tidka bisa membantu fasilitas belajar mengajar di tanah air terutama di daerah-daerah.
E-mail Pengirim: diensyifa@yahoo.com
Tanggal: 2 mei 2003


Nama: Muchlisin ZA
Dari: Banda Aceh/NAD
Saya: Dosen Univ.Syiah Kuala
Aspirasi / Informasi: Saya kira yang belum betul adalah sistim pendidikan kita, bukan orang Indonesia yang tidak cerdas.

Salah satunya, sistim yang ada sekarang saya kira terlalu membazirkan waktu, contohnya di PT, masa studi seorang mahasiswa S1 rerata adalah 5 tahun, kemudian ke jenjang S2-S3, ambil masa 3 tahun untuk S2 dan 5 tahun untuk S3, total 13 tahun.

Diluar, ambilah contoh negara tetangga kita yang paling dekat Malaysia. untuk program S1 hanya perlu 3 tahun, S2 1-2 tahun dan S3 hanya 3 tahun. Total 8 tahun. Sehingga tidak heran bila pada umur 25 tahun di sana udah Doktor.

Yang saya tau kita masih dibanyangi oleh sistim pendidikan belanda, tetapi kenyataan kita hanya memakainya setengah-setengah saja. Di belanda yang saya tau DRS itu setara dengan master, tetapi tidak di kita yang hanya di hargai dengan BSc.

Peningkatan mutu dosen dan mahasiswa juga masih jauh dari harapan. Belum lagi budaya research di kalangan dosen dan mahasiswa yang rendah karena berbagai sebab.

Saya kira untuk memajukan pendidikan kita yang paling penting adalah sistimnya dulu dibetulkan, kita bisa belajar dari negara-negara yang telah agak maju misalnya Malaysia yang mungkin bisa terapkan karena budaya mereka hampir sama dengan kita.

Untuk pengajaran bahasa Inggris pula, kita baru diperkenalkan pada kelas 5 SD, komputer mungkin baru di kasih pegang pada masa SMP, di Malaysia sebagai contoh terdekat, anak-anak TK pembelajarannya sudah mengunakan bahasa Inggris dan mengunakan media komputer.

Sehingga tidak heran anak SD disana sangat mahir bertutur dalam bahasa Inggris, menulis dan berinternet ria dengan laptop.

Semua akan dapat di capai jika pemerintah bersungguh menitik beratkan perhatiannya pada pendidikan, dengan menyusun sistim yang baik dan menyediakan dana yang cukup untuk sektor pendidikan, sehingga mudah-mudahan kita akan dapat mengejar ketertinggalan kita.
E-mail Pengirim: muchlisinza@eudoramail.com
Tanggal: 02/05/2003


[ Ke Halaman 7 - Klik Di Sini ]






Membaca Aspirasi HOME Menulis Aspirasi Anda

Print Halaman Ini