Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut
(Halaman 8)
Nama: bin nahadi
Dari: jakarta
Saya: Masyarakat Jakarta
Aspirasi / Informasi: Mencermati moral bangsa yang kian bobrok, yang ditandai dengan tidak berkurangnya koruptor, maraknya pornografi dan pornoaksi, dan segudang kebobrokan yang tidak mungkin disebutkan di forum ini, saya berkesimpulan ada yang kurang dalam sistem pendidikan kita. Kekurangan itu adalah minimnya pendidikan moral-spiritual. Pendidikan kita hanya menghasilkan manusia yang yang berotak emas tapi berhati batu. Tapi saya bingung kenapa masih ada orang yang menentang masuknya pendidikan moral-spiritual dengan alasan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Bukankah itu amanat UUD 45? Bukankah itu bagian dari HAM? Saya curiga mereka yang menolak tanpa alasan yang jelas itu punya agenda tersembunyi yang justru merusak persatuan dan kesatua
n bangsa.
E-mail Pengirim: binnahadi@yahoo.com
Tanggal: 5 mei 2003
Saya ingin tanya. Moral, itu memang hal pendidikan sekolah? Apakah, kita lebih belajar moral dari pelajaran sekolah atau dari contoh-contoh di lingkungan kita?
Kalau kita mendidik anak-anak kita untuk hidup jujur dan baik tetapi setiap hari mereka melihat orang-orang yang tidak jujur (koruptor) membawa mobil BMW dan Jaguar, tinggal di rumah yang mewah dan "dihormati juga" - apakah, ini bukan faktor yang mungkin jauh lebih penting daripada pelajaran sekolah?
Siapa yang bertanggungjawab untuk moral anak kita, "sekolah", atau "kita sendiri" yang tidak mau (atau malas) menghadapi koruptor dan membenarkan hukum di negara kita?
Saya sendiri percaya bahwa "korupsi dan koruptor" adalah musuh utama negara kita dan faktor utama yang mempengaruhi moral anak-anak kita.
Oleh karena nepetisme, biar mereka dididik baik mereka hanya punya masa depan yang sangat terbatas kalau kita tidak mengatasi nepetisme "sekarang" - musuh kedua.
Sebenarnya, kebanyakan negara yang sudah mengatasi masalah-masalah hukum, korupsi, nepetisme, dan kolusi tidak anggap "pendidkan moral" sebagai hal kurikulum sekolah (tertulis) lagi. Saya sendiri merasa bahwa "character education" yaitu membantu siswa-siswi dengan informasi menganai hal-hal sosial dan konseqensinya masih penting tetapi dengan secara membahas terbuka - bukan indoktrinasi!
Itu generasi kita yang membuat lingkungan ini dan menerima masalah korupsi, dll sebagai kebudayaan - bukan anak kita, mereka hanya ikut kita! Ayo, mari kita berfokus kepada memperbaiki lingkungan kita dulu, baru kita dapat membentukkan generasi masa depan lebih baik.
Kalau korupsi baik buat bapak saya - yaitu baik buat saya!
Webmaster
Nama: raja jimmy pramana
Dari: yogya
Saya: Mahasiswa UII
Aspirasi / Informasi: selamat hari pendidikan!
terus terang saya tidak tahu persis apakah harus senang atau malah terus menangis dengan keadaan pendidikan kita sekarang ini. perdebatan RUU sisdiknas yang semakin alot dan entah kapan akan selesai tidak juga mampu membantu "teman-teman kecil" yang membutuhkan untuk kegiatan belajardan mengajarnya.
disudut-sudut jalan dan dipersimpangan lampu merah masih banyak kita temui "mereka" yang bahkan sama sekali belum mendapatkan pendidikan (tentunya pendidikan secara formal!). masih adakah kepedulian kita untuk melihat kesana?
saya hanya mengajak teman-teman semua untuk sejenak berdiam diri barang sebentar untuk merenungi nasib anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan selayaknya. bukankah mereka bagian dari kita? atau malah hanya sekedar "sampah" yang mengganggu? tanyakanlah pada hati kita
E-mail Pengirim: jimmy_pramana@yahoo.com
Tanggal: 5 mei 2003
Nama: Endra Adiwinata Gofur
Dari: Yogyakarta
Saya: Mahasiswa UGM
Aspirasi / Informasi: Biaya pendidikan semakin lama semakin mahal saja. Sebaliknya para elit-elit politik penah menjanjikan adanya pendidikan murah bagi generasi muda bangsa yang tidak lain merupakan penerus para pemimpin di negara kita saat ini.
Sebentar lagi seluruh partai politik akan mengkampanyekan visi dan misinya. Apakah mereka akan mengumbar janji yang sama demi memperoleh dukungan ? Kita lihat saja. Saat ini banyak sekali masyarakat yang sudah kewalahan hanya untuk membiayai sekolah (walau hanya sampai tamat sltp). Harap hal ini menjadi perhatian, tolong jangan hanya mengumbar janji-janji palsu sementara Anda (elit politik) bersenang-senang dengan gaji yang tinggi dan perut buncit.
Rakyat kita sudah ketinggalan jauh dalam hal
pendidikan, jangan biarkan mereka semakin tenggelam karena ke"bodoh"an yang amat sangat karena tidak dapat mengenyam pendidikan yang layak sebagaimana tercantum dalam UUD 1945.
Mana pendidikan murah atau mungkin pendidikan gratis yang pernah dijanjikan itu ??
E-mail Pengirim: de_archaeon@yahoo.com
Tanggal: 5 Mei 2002
Nama: Prihatin Tenan
Dari: Serpong
Saya: Masyarakat Serpong
Aspirasi / Informasi: Laksanakan wajib belajar 9 tahun gratis (biaya sekolah, buku, alat tulis, dan seragam), dan pendidikan lanjutannya juga gratis biaya pendidikan.
Biaya ditanggung oleh negara yang sebetulnya kaya ini (buktinya ada trilyunan harta negara yang berhasil dirampok oleh beberapa orang saja).
Kemudian, tegakkan hukum, seperti; buang sampah sembarangan, rambu lalu lintas, pelanggaran hak pribadi & umum, dll, yang 'sepele', serta semua 'aturan' hukum yang telah disepakati.
'do the right thing' aja, gak usah pake jargon2, tema2, or semboyan yang muluk-muluk.
sekian, & may God bless you all
E-mail Pengirim: ezjoko@hotmail.com
Tanggal: 6 Mei 2003
Nama: Yordan Gunawan
Dari: Yogyakarta
Saya: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Aspirasi / Informasi: Saran saya yang pertama kali harus dibenahi adalah sistem pendidikan di Indonesia sendiri saat ini, kita tahu betapa semrawutnya sistem pendidikan kita yang memang hasil warisan dari kolonial Belanda.
Kemudian yang menjadi faktor selanjutnya adalah masalah anggarana yang diberikan pemerintah untuk bidang pendidikan, bayangkan bagaiamana banyak sekali anak-anak jalanan yang tidak menikmati pendidikan di negara ini, padahal pemerintah jelas sekali meyatakan jaminan tentang adanya pendidikan seperti yang tertera pada pasal 31 UUD 1945. Mau dibawa kemana bangsa Indonesia mendatang? berapa banyak generasi -yang nantinya akan memimpin bangsa ini- harus menyesali hidupnya yang tanpa pendidikan.
Untuk itu menurut saya: Revolusi Sistem Pendidikan yang ada.
E-mail Pengirim: Yege_cakep@yahoo.com
Tanggal: 06 Mei 2003
Apakah, itu "sistem pendidikan" atau "pelaksana sistem pendidikan" yang harus dibenahi?
Webmaster
Nama: rohman
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswa UGM
Aspirasi / Informasi: mencermati pikiran-pikiran bangsa indonesia tentang pendidikan yang katanya amburadul dan tidak ada perbaikan-perbaikannya, maka bagi saya ngapain menyalahkan pendidikan yang nggak-nggak selesainya. Buktikan saja bahwa kita dapat berprestasi pada semua orang.
wong dunia internasional saja masih mengutuk MBA alumni harvard yang katanya hanya merusak dunia bisnis, apalagi dengan keadaan sosial di Indonesia.
Saya mengajak seluruh elemen yang terlibat dalam bidang pendidikan untuk bersaing, dan berkompetisi dalam berprestasi mengejar ketertinggalan bangsa kita dari bangsa-bangsa lain yang telah maju. OK.
Salamat Belajar
E-mail Pengirim: mk_rohman@yahoo.com
Tanggal: 6 Mei 2003
Nama: ika dharmika
Dari: bandung / jawa barat
Saya: Mahasiswi universitas parahyangan
Aspirasi / Informasi: belakangan ini sistem pendidikan di negara kita, menurut saya semakin tidak jelas. dilihat dari beberapa kejadian yang terjadi, sistem pendidikan selalu berubah setiap menteri pendidikannya diganti.
saran saya, sebaiknya sistem pendidikan dibuat dengan mengurangi jumlah mata pelajaran yang tidak efektif, ajarkan saya pelajaran yang lebih berbobot, terlalu banyak yang harus dipelajari akhirnya bukan membuat murid jadi pintar malah mereka menjadi seperti robot, yang hanya menghapal dan beberapa hari kemudian akan lupa.
E-mail Pengirim: buttercookiesid@yahoo.com
Tanggal: 6 mei 2003
Nama: fuad parinduri
Dari: Yogyakarta
Saya: Mahasiswa UGM
Aspirasi / Informasi: Pendidikan itu sangat pentimg sekali bagi bangsa kita saat ini, Bapak-bapak di DPR/MPR udah berani menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan itu harus bisa dimanfaatkan oleh pihak terkait dan perlu pengawasan dari semua pihak. Diharapkan rakyat ini, tidak dibebankan biaya pendidikan lagi tapi udah dibiayai oleh negara dari SD sampai SMU. Dan perusahaan luar negeri yang mengambil keuntungan dari bangsa kita diwajibkan mempunyai program beasiswa bagi mahasiswa di Indonesia.
Pihak PTN/PTS di seluruh Indonesia jangan terjebak akan menjadi badab bisnis, tetapi merupakan badan yang bertugas untuk mencerdaskan anak bangsa.
E-mail Pengirim: fuadparinduri@yahoo.com
Tanggal: 05 Mei 2003
Nama: Ratih Nurlita
Dari: Cakung, Jakarta Timur
Saya: Siswi SMU IT Nurul Fikri
Aspirasi / Informasi: Saya bangga ketika menjelang HARDIKNAS kemarin, para duta bangsa berhasil mempersembahkan 6 emas dan 2 honourable mention di tengah keterpurukan bangsa ini. Kabar ini merupakan angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia, setidaknya masih ada yang bisa dibanggakan dari bangsa ini meskipun pendidikan di Indonesia kurang memadai dibandingkan dengan negara tetangga kita.
Saya mengharapkan pemerintah mau ikut serta membangun pendidikan di negara ini, jangan hanya bisa berteriak teriak masalah politik bangsa yang sudah carut marut karena semua orang berebut ingin berkuasa. Cobalah tengok negara negara lain yang menomor satukan pendidikan sebab bagi negara negara tsb, pendidikan merupakan aset yang penting yang dapat mencetak generasi generasi penerus yang dapat meningkat kemajuan negara mereka. Dengan memberikan subsidi penuh untuk pendidikan,masyarakatnya dapat merasakan pendidikan minimal strata 1.
Sedangkan disini, jangankan S1. Bisa sekolah sampai tingkat lanjutan pun sudah bagus mengingat biaya pendidikan yang selangit juga kurangnya kesadaran dari masyarakat luas akan pentingnya pendidikan. Bagaimana negara kita bisa bersaing jika AFTA sudah dimulai, sementara SDM negeri kita tercinta ini masih kurang memadai. Apakah kita akan mau terus menerus dibodohi bangsa asing yang terus mengeruk SDA negeri ini...?!.
E-mail Pengirim: aya_diz84@yahoo.com
Tanggal: 7 mei 2003
Nama: Yayah Tarbiyah
Dari: Malang-Jatim
Saya: Masyarakat
Aspirasi / Informasi: Mohon, diwartakan pengalaman dari pendidikan-pendidikan yang tidak umum kita jumpai /alternatif sebagai bahan perbandingan.
Terutama pendidikan yang lebih bersifat pencerahan dan tidak mengeksploitasi anak didiknya.
Juga kalau bisa pemikiran-pemikiran mengenai terobosan-terobosan pendidikan seperti itu juga dimuat.
Terima kasih.
E-mail Pengirim: ytarbiyah@yahoo.com
Tanggal: Kamis, 8 Mei 2003
Nama: SUMARDIN
Dari: GORONTALO
Saya: Mahasiswa
Aspirasi / Informasi: Aspirasi/informasi yang perlu saya kemukakan kepada yang berwenang (yang menangani pendidikan) yaitu dengan melihat kondisi pendidikan kita yang sangat memprihatinkan dimana KUALITAS PENDIDIKAN KITA SANGAT RENDAH.
Saya melihat ini disebabkan oleh tenaga pengajar yang tidak profesional dalam melaksanakan tugasnya, sehingga banyak peserta didik (siswa/mahasiswa) yang tidak berkualitas pula.
Untuk itu saya mengharapkan kepada semua pihak yang berwenang agar masalah ini diperhatikan dan dicarikan solusinya agar masaalah tersebut di atas dapat teratasi atau setidaknya dapat diminimalisir.
Sekian informasi dariku dan terima kasih.
E-mail Pengirim: Sumardin_klu @yahoo.com
Tanggal: 8 MEI 2003
Nama: nina
Dari: jogjakarta
Saya: Mahasiswi UGM
Aspirasi / Informasi: kita semua pasti setuju kalau saya bilang pendidikan di indonesia ini bukan contoh sistem pendidikan ideal. akan tetapi jika pendidikan agama dipisahkan dari sistem pendidikan nasional kita, seterusnya generasi yang sudah bobrok ini mau dibawa kemana? apa kita mau di'atheis'kan? memang pendidikan agama bisa didapat diluar sekolah, tapi seberapa persen penduduk miskin (yang kaya juga sih) diindonesia yang mampu menyisihkan waktunya bahkan untuk sekedar memikirkan bahwa pendidikan agama itu sesuatu yang fundamental juga bagi pertumbuhan anaknya? jadi bagaimana?
sebenarnya yang menjadi pemicu kebobrokan sistem pendidikan bukanlah ada atau tidak adanya pelajaran agama, akan tetapi guru-guru yang kurang berkomitmen dalam mencerdaskan kehidupan yang belum cerdas ini. habis mau apa lagi, gaji kecil, tenaga terkuras, dan yang terpenting, tidak adanya penghargaan. kalau ada murid yang berprestasi, ya hanya muridnya saja yang dapat sanjungan sebagai murid berprestasi. sedangkan gurunya? siapa yang memberi penghargaan pada gurunya yang telah membimbing sang murid sehingga menjadi pintar dan berprestasi? tidak pernah ada penghargaan untuk guru yang rela ditempatkan di desa terpencil yang listrik saja belum ada, berjuang demi secuil pendidikan bagi anak-anak disana. jadi bagaimana? bagaimana sang guru mau berdedikasi jika perjuangannya bahkan tidak ada yang melirik? pernahkah terfikirkan oleh anda?
tahukah anda bahwa guru-guru di indonesia (umumnya yang guru negri) kehidupannya sangat jauh dari cukup jika hanya mengandalkan pekerjaan menjadi guru saja, maka beliau harus mencari celah lain untuk sekedar mendapat sesuap nasi. tidak sempat lagi beliau memikirkan bobroknya pendidikan.
maka, SEJAHTERAKAN DULU GURU, BARU PROTES!
E-mail Pengirim: ninox82@hotmail.com
Tanggal: 9 mei 2003
Nama: Wendarto
Dari: Jogja
Saya: Mahasiswa UGM
Aspirasi / Informasi: UU yang akan disahkan dan masyrakat mayoritas hanya mengembar-gemborkan pendidikan agama?!
menurutku tidak ada relevansinya, lebih baik dipikirkan bagaimana menyajikan matematika, fisika yang lebih menarik dengan kualitas pengajar terbaik. Karena tidak ada kehebatan sekolah diukur dari khatam Alkitab atau Alquran (beribu maaf) ini kenyataan bahwa yang terbaik kalau ada siswa meraih medali IPhO atau IMO
E-mail Pengirim: lyonord_81@yahoo.com
Tanggal: 9 Mei 2003
Nama: Yunita Dinni Setiawati
Dari: Tanjung Pinang/Riau
Saya: Masyarakat Tanjung Pinang
Aspirasi / Informasi: Situs ini sangat berguna untuk melihat berbagai berita seputar pendidikan. Mohon sering di 'up grade' informasinya karena saya ingin melihat info terbaru dari situs ini.
Kalau bisa mohon dibuat kolom khusus untuk info tiap tingkat pendidikan. misalnya : info SD, info SLTP, info SMU saja, info SMK saja, info D3 teknik saja,info S1 saja, S2 saja, dan S3 saja. jadi yang mencari tidak bingung.
info tempat kursus bahasa untuk TOEFL dan sejenisnya yang ijazahnya/score-nya dpt diterima bila mau mendaftar sekolah ke luar negeri. terimakasih
E-mail Pengirim: yunita1409@yahoo.com
Tanggal: 10 Mei 2003
Nama: Budi Santoso
Dari: Surabaya /Jawa Timur
Saya: Mahasiswa Untag Surabaya
Aspirasi / Informasi: Harus diakui bahwa masyarakat kita di Indonesia masih menganut sistem terpusat (paterialisme) ,dan hal tersebut sudah diakui (dan dilaksanakan) lama sekali. Kecenderungan yang ada adalah suatu pandangan bahwa anggota pendidikan (dalam taraf BUKAN penentu kebijakan ) hanyalah suatu produk atau suatu objek dari kebijakan yang terkadang tidak bijak sama sekali. Dan parahnya , peserta pendidikan seolah terlena ,tanpa pernah memprotes proses pendidikan yang semakin membusuk. TIDAK PERNAH TERLINTAS pikiran untuk bertindak semakin maju, menjadi PRODUSEN pdari pendidikan kita sendiri.
pendidikan kita hanyalah menjadi SIMBOL ! Terbukti dari betapa gembiranya murid kita bila kelas kosong. Pendidikan kita telah menyiksa mereka untuk sesuatu yang mereka tidak tahu . Ya ! kita hanya suatu Produk ! Sekarang saatnya pendidikan kita lebih bersifat REALITAS! Perbanyak bahan praktikum agar kita tidak lagi menjadi macan teori dan pengamat , tapi jadi praktisi yang profesional . ANDA TIDAK PERNAH BISA LOLOS DARI TENGGELAM HANYA DENGAN TEORI BERENANG , TAPI ANDA HARUS MEMPRAKTEKAN CARA BERENANG ! Selamat Hari Pendidikan .
Budi Santoso Mahasiswa Psikologi Semester Akhir Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
E-mail Pengirim: iok2002iok@yahoo.com
Tanggal: 10 Mei 2003
Nama: DESTIA
Dari: JAKARTA
Saya: Pengamat JAKARTA
Aspirasi / Informasi: KOMENTAR TENTANG PRO KONTRA UU-SISDIKNAS:
"UUD 1945", Kemerdekaan merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dan NKRI dibentuk berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu sebagai bangsa yang berada di dalam lingkup NKRI, sejak kapan kita (sebagai bangsa) berkehendak melepaskan diri dari rahmat Tuhan Yang Maha Esa?. Sekedar wacana sih, boleh-boleh saja.... bukankah perbedaan adalah rahmat Tuhan Yang Maha Esa juga!. inga ! ingaaa!.
E-mail Pengirim: Dest@yahoo.com
Tanggal: 11 MEI 2003
Nama: wahyu widodo
Dari: kendal
Saya: Pengamat kendal
Aspirasi / Informasi: Kita tahu bahwa kondisi perekonomian semakin tidak menentu, padahal dari para guru yg merupakan tulang punggung pendidikan kita sangat memerlukan biaya untuk melangsungkan kehidupan sekolah maupun keluarganya. Sebagaimana kalau kita ketahui permasalahan yang sangat klasik namun masih terus bergulir adalah masalah gaji guru yang kian kempas kempis dalam menyesuaikan harga kebutuhan pokok. Mohon perhatian untuk jajaran terkait.
E-mail Pengirim: be_em_we2003@yahoo.com
Tanggal: 11 Mei 2003
Nama: Julex
Dari: Medan
Saya: Mahasiswi Medan
Aspirasi / Informasi: Sistem Pendidikan di Indonesia sudah tidak berpegang pada filosofi pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang sebenarnya memanusiakan manusia sudah dinodai dengan berbagai kepentingan oleh pemerintah, capital, kelompok masyarakat tertentu dan lain-lain.
E-mail Pengirim: julex@eudoramail.com
Tanggal: 12 Mei 2003
Nama: dandy